
Selesai membereskan semuanya, anak-anak cafe mulai kembali berkumpul dan beristirahat di depan kasir, ada yang duduk dan memainkan ponsel karena tamu sudah benar-benar tidak ada yang tersisa padahal jam baru menunjukkan pukul 8 malam. "Oke semuanya, karena udah beres, kita udah boleh pulang ya," ucap Pak Indra membuat semuanya langsung menatap Pak Indra dengan semangat.
"Beneran pak?" tanya Mira yang masih tak percaya karena pulang cepat.
"Beneran, saya baru dapet info dari grup. Besok mulai masuk sesuai jadwal ya, boleh tukeran juga asal jangan mendadak paginya ya, kasian partner kalian kalo nggak bisa ngegantiin," jelas Pak Indra.
__ADS_1
Dewi dan Asti pun langsung close shift pada komputer dan memasukkan uang omset beserta laporannya ke dalam amplop khusus yang nantinya akan di serahkan pada security.
Usai berjajar dan absen, mereka pun mematikan lampu-lampu dan berjalan ke arah parkiran. Dewi tak bisa menahan diri
lagi untuk tidak menoleh pada Ali yang tampak sudah biasa seperti biasa. "Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya Ali. Memang kesenangan Dewi yang selalu meminta Ali berkeliling terlebih dahulu sambil mengobrol selama di perjalanan.
__ADS_1
Dewi pun mengenakan helm dan naik ke atas motor Ali, ia memasukkan tangannya ke dalam saku jaket Ali seperti biasa. Keadaan jalanan sudah mulai sepi semenjak di berlakukannya PSBB, semuanya tampak seperti tengah malam karena biasanya pukul 8 mereka masih sibuk dengan kemacetan jalan. "Buat rencana tunangan, mending kita atur lagi budget nya ya De, aku nggak mau di undur karena tanggal yang udah kita tentuin sesuai sama tanggal lahir kita, kapan lagi dapet tanggal cantik kayak gitu, diundur 1 tahun lagi takut udah ada yang ngeduluin aku," ujar Ali.
Dewi yang mendengar itu tertawa kecil, ia memeluk Ali cukup erat. "Iya nggak akan di undur, lagian aku juga nggak mau sama yang lain kok," jawab Dewi. "Oh iya, tadi siapa yang ngechat? banyak banget kayak yang urgent," lanjut Dewi mulai membahas pada topik utama yang ingin dia ketahui.
Ali tak langsung menjawab, ia terlihat sedikit ragu lalu pada akhirnya ia hanya menggelengkan kepalanya. "Enggak, itu temen aku, keponakannya kangen sama aku," jawab Ali. sebelah tangan Ali menyentuh tangan Dewi dan menggenggamnya dengan lembut. "Kamu jangan mikir yang enggak-enggak ya, yang kamu harus tau cuma 1, aku udah serius sama kamu Dew."
__ADS_1
Selalu mendengar jawaban seperti itu, memang bagus menanamkan kepercayaan pada pasangan, namun tetap saja harus ada kejujuran agar tidak muncul rasa curiga yang berlebihan dan membuat perasaan menjadi tak tenang. "Iya, tapi kalo ada apa-apa cerita ya Al, jangan ada yang di sembunyikan," pesan Dewi.
"Iya, aku janji," jawab Ali dengan cepat. Dewi tak bisa memaksa Ali untuk bercerita, mau tak mau ia hanya bisa menunggu hingga Ali yang mengatakan semuanya dengan jujur. Sebagai perempuan Dewi sangat takut jika Ali bermain di belakangnya seperti Baskara, rasanya trauma tak segampang itu di hilangkan dari diri Dewi. Pelukan Dewi pun semakin mengerat, ia berharap Ali benar-benar akan menjadi yang terbaik baginya.