Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Mulai Bangkit


__ADS_3

Setelah hari berduka, Ali dan keluarga masih di selimuti suasana sedih dan kehilangan, acara tahlilan dan lain-lain sudah berlalu. Tak terasa sudah 2 minggu mereka kehilangan A Ramdan dan kini Ali baru bisa melanjutkan rencana pembukaan tempat jualannya, ia kini sedang membeli beberapa peralatan dan bahan-bahan untuk memasak di temani Dewi.


Setelah selesai membayar, Ali dan Dewi pun keluar dari toko tersebut dan berjalan menuju parkiran. "Semoga A Ramdan bisa seneng ya rencana dagangnya akhirnya terwujud," ucap Ali dengan perasaan yang masih sesitif jika mengingat tentang kakaknya lagi.


Dewi yang ikut merasakan kesedihan Ali hanya bisa mengusap pelan bahu Ali. "A Ramdan pasti seneng banget Al kalo liat ini, jadi kamu harus terus semangat ya, inget juga pesan almarhum waktu itu, jangan males-malesan," ucap Dewi lembut berusaha menghibur Ali.


Usai membeli segala perlengkapan dan bahan-bahan ke dalam mobil, mereka mulai bergegas menuju rumah Ali, menyimpan terlebih dahulu apa yang sudah mereka beli untuk melihat kembali apa saja yang dirasa masih kurang. "A spanduk nanti malem dateng, tadi katanya ada kendala mesin jadi gambar yang di cetak rusak, sekarang lagi proses lagi," jelas Acha yang baru turun dari lantai atas.

__ADS_1


Ali menganggukkan kepalanya, mereka bertiga pun kini mulai mengelilingi meja yang ada di ruang tamu. Ali menjelaskan jika kemungkinan tempat jualan akan dibuka 3 hari lagi, Dewi sudah menyiapkan Instagram dan memberikan informasi jika ada banyak promo untuk opening dari mulai promo offline maupun online. "Bakmie ada paket sama Thai tea, greentea, moka, jadi kita upsale nya yang ini dulu ya," jelas Ali.


Beberapa jam rupanya berlalu dengan sangat cepat, tak terasa malam pun tiba dan spanduk yang mereka tunggu pun datang.


**


Keesokan harinya Acha ikut bersama Ali dan Dewi untuk memasang spanduk pada tempat jualan, menempelkan daftar menu di tembok dan di roda. Dewi mulai menyusun wadah peralatan makan, tempat sambel yang masih kosong dan tissue sebagai contoh untuk lusa dan mengabadikannya lewat sosial media. Sedangkan Acha, ia membantu Ali untuk mengelap kembali roda dan mengatur wadah-wadah bumbu agar tidak terlalu menghabiskan banyak tempat.

__ADS_1


"Besok aku mulai bikin bumbu raciknya," ujar Ali sambil menoleh pada Dewi lalu Acha. "Sekarang kita ke makam yuk."


"Ayo A!" pekik Acha dengan semangat.


Mereka semua keluar dari tempat dagang, tak lupa Ali mematikan terlebih dahulu lampu lalu mengunci troli. "Bismillahirrahmanirrahim," ucap Ali sebelum menyalakan mobil. Selama di perjalanan banyak obrolan yang mereka bicarakan. Rasanya tak sabar untuk memulai promosi dagangan Ali yang akan buka.


Sesampainya di makan, Ali membeli bunga terlebih dahulu, biasanya memang selalu ada ibu-ibu yang menjual bunga dan air dalam botol sebelum memasuki area pemakaman. "Yuk," ucap Ali setelah membeli bunga dan botol tersebut.

__ADS_1


Rasa sedih kembali terasa saat langkah kaki mulai semakin mendekat pada tempat peristirahatan terakhir A Ramdan, Acha yang masih sangat rapuh matanya mulai berkaca dan mengusap nisan yang masih kayu. Air mata pun akhirnya lolos membasahi pipi. "Ayo kita berdoa," ucap Dewi sambil mengusap bahu Acha dan memberikan buku Yasin yang sudah Dewi siapkan di dalam tas.


Mereka memanjatkan doa dan menyampaikan niat mereka untuk mulai membuka dagangan, Acha menceritakan tentang persiapan mereka selama 2 hari ini dengan suara yang bergetar. Sementara Ali, tanpa di sadari siapapun menangis dalam diam, ia sudah mencoba ikhlas namun tetap saja rasanya masih seperti mimpi. "Dan, kita pulang ya, assalamualaikum," ucap Ali sambil memegang nisan tersebut sebelum berdiri dan meninggalkan area pemakaman.


__ADS_2