
Ali langsung menuju rumah bebek setelah mengantarkan Dewi, ia sepertinya butuh seseorang untuk mendengarkan kondisinya saat ini. Jika ia memblokir nomor baru mantannya bisa saja dia menggunakan nomor baru dan mengganggu Ali kembali, ia butuh saran agar orang dari masa lalu nya itu tidak lagi mengganggu Ali yang sudah mulai menata masa depan bersama Dewi.
Sesampainya di rumah bebek, Ali langsung masuk dan memberikan salam pada Bunda yang sedang fokus pada ponselnya di ruang tengah. "Assalamualaikum Bund, Ali ke kamar Bebek ya," ucap Ali sambil mencium tangan Bunda.
"Oh iya Al, maaf lagi fokus ke grup, tadi Bebek juga udah bilang kamu mau dateng. Nginep?" tanya Bunda yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Ali.
"Enggak dulu Bund, besok masuk pagi, nggak bawa seragam ganti buat besok, yang ini udah kotor," jawab Ali.
Bunda berdecak pelan, ia sepertinya sudah bosan mendengar jawaban Ali yang selalu seperti itu. "Biasanya juga pakai kaos polos punya bebek, Al."
Ali pun tertawa dan tersenyum tanpa dosa. "Ntar lah Bund, kalo Ali libur nanti nginep," jawab Ali pada akhirnya. Bunda orangnya memang begitu baik, dia sudah menganggap Ali seperti anaknya sendiri sedari jaman sekolah dulu.
__ADS_1
"Ditunggu ya Al, ajakin juga yang lain, nanti kita ngeliwet di atas."
Usai berbincang kecil, Ali pun masuk ke dalam kamar di mana Bebek sedang tertidur pulas dengan suara musik cukup kencang memenuhi ruangan ini. "Bek, bangun!" teriak Ali membangunkan Bebek dengan cara yang ampuh. Ia mematikan lagu tersebut dan menggoyangkan tangan Bebek dengan kencang. "Gempa Bek, bangun!" teriak Ali kembali, karena jika dibangunkan dengan cara yang lembut Bebek tidak akan mungkin bangun.
Benar saja, tak lama dari itu Bebek terbangun dengan ekspresi kesal karena sudah tahu ulah siapa semua ini. "Berisik! gue juga baru pulang kerja elah!" gerutu Bebek.
"Bek, Lo jangan tidur lagi! ini bantuin dulu gue gimana caranya si Risda biar nggak ganggu gue lagi," ujar Ali sambil terus mengusik tidur Bebek agar tidak nyenyak.
Setelah dirasa cukup segar dan menghilangkan kantuknya, Bebek pun keluar dan melemparkan sebuah bungkus roko yang ada di saku celananya sedari tadi. "Bukannya si Risda udah balik sama mantan suaminya? kenapa tiba-tiba nongol lagi?" tanya Bebek.
"Itu yang gue bingungin Bek, sampe dia minta gue bukain semua blokirannya tadi. Gue takut Dewi baca dan salah paham Bek, kalau gue blokir lagi takutnya pakai nomor lain lagi. Masa harus gue yang ganti nomor?" ujar Ali bingung.
__ADS_1
"Ya jangan ya Dodol! ya udah sekarang lu bales aja, tadi berapa belas pesan si Risda?" tanya Bebek.
"Dua belas! Gue nggak bales terus-terusan aja si Risda ngirim VN, gue takutnya itu VN suara anaknya, bisa berabe kalo gue jadi kangen pengen ketemu dia, Lo tahu sendiri kalau gue udah sayang sama anak kecil kayak gimana!"
Bebek menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikir Ali. "Udah sekarang Lo bales dulu aja, tapi tetep harus ada balesannya, nah nanti Lo bilang kalo Lo mau tunangan, pura-pura ngundang aja lah, nanti juga dia minggat sendiri," jawab Bebek. Mengenai rencana tunangan memang hanya Bebek yang baru mengetahuinya, karena Bebek juga lah yang memberikan saran pada Ali tentang kebimbangannya tidak ingin pacaran namun tidak ingin kehilangan Dewi juga karena sudah beberapa kali menanyakan tentang status hubungan mereka.
"Oh iya ya, gue coba dulu deh semoga aja berhasil. Lo tau sendiri lah gue susah move on kayak gimana ke si Risda dulu, nggak mau lagi gue kejebak sama dia," ujar Ali yang kini sudah mengeluarkan ponselnya untuk menjalankan rencana yang diberikan oleh Bebek. Tidak terlalu buruk juga ide tersebut, bisa dikatakan akan menjadi sedikit balas dendam agar mantannya merasakan perasaan Ali saat di campakkan begitu saja saat dulu.
--
Guys like dan komennya dong jangan lupa, biar Author tau ini masih ada yang baca apa engga wkwk.
__ADS_1