
Ali merasa ini semua adalah mimpi terburuk baginya, ia tak pernah menyangka semua ini akan terjadi. Sore tadi usai mengantarkan Dewi pulang Ali langsung kembali ke rumah dan mengantarkan Ramdan untuk periksa ke Klinik, namun saat sampai di Klinik dan dokter baru memeriksa keadaan Ramdan, Dokter mengatakan jika peralatan di Klinik tidak terlalu kumplit untuk menangani sakit Ramdan yang sepertinya juga harus di rawat inap dan harus segera di rujuk ke Rumah sakit yang direkomendasikan oleh Klinik. Mendengar hal itu Ali pun menjadi bingung dan cemas, Ramdan hanya mengatakan keluhan sakit badan biasa namun rupanya hal ini sangatlah darurat.
Ali dengan segera mengantarkan Ramdan menuju Rumah sakit dan tak lupa memberi kabar tersebut pada keluarga di rumah, sontak hal itu pun membuat semuanya menjadi cemas. Tak sampai di sana saja, saat tiba di rumah sakit, Ali melihat jelas jika Ramdan mulai di baringkan di atas ranjang dan tubuhnya mulai di pasang berbagai alat yang Ali tak ketahui namanya. "Dan, sesakit apa yang kamu rasain seminggu ini? kenapa nahan sendirian?" gumam Ali.
Semakin malam, keadaan Ramdan pun belum membaik dan tak sadarkan diri, keluarga Ali mulai berdatangan dan menemani Ali yang masih menunggu Dokter keluar dari ruangan Ramdan. "A Ramdan gimana ya?" tanya Acha sambil terisak, ia tak kuat lagi untuk menahan tangis dalam pelukan Mira.
__ADS_1
Ali yang merasakan juga kegelisahan tersebut ikut menangis dalam diam, bukankah tadi sore saat diperjalanan menuju klinik mereka masih membicarakan tentang rencana dagang mereka? semuanya masih tampak baik-baik saja dan kini keadaannya menjadi kritis, Ramdan belum juga membuka matanya sedari tadi.
**
Dewi pun menjawab rumah sakit mana A Ramdan di rawat, mereka semua pun sudah setuju akan berangkat besok sore setelah pulang Papa yang akan meminta izin pulang cepat pukul 4 sore. "Semoga cepet sembuh ya Kak, semoga nggak kenapa-napa," ujar Anisa yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Dewi.
__ADS_1
"Aamiin Dek, padahal Minggu lalu udah mulai sehat, udah bisa olahraga ringan. Semoga malam ini A Ramdan siuman," ucap Dewi.
Dewi menghembuskan nafasnya pelan, selama mengenal A Ramdan ia merupakan orang yang baik hati, selalu memberi support dan bantuan pada Ali dan Acha sebisa yang dia mampu. Ketulusannya memang bisa di lihat hanya dari beberapa kali pertemuan, tutur kata yang selalu sopan dan sikapnya yang ramah membuat siapapun senang berada di dekatnya.
Untuk pertama kalinya juga Dewi mendengar Ali menangis, suara Ali saat menelepon tadi terdengar bergetar lalu terisak seakan tak bisa menjelaskan kondisi yang sedang terjadi. Cukup sedih dan ingin sekali rasanya Dewi pergi seorang diri ke rumah sakit menemani Ali dan menenangkannya, namun melihat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan Dewi bisa apa? sudah sangat malam ditambah banyaknya berita tentang kejahatan di malam hari membuat kedua orang tua Dewi pastinya tidak akan memberi izin untuk Dewi membawa motor sendirian ke rumah sakit yang cukup jauh dari rumahnya.
__ADS_1