Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Rumah Dewi


__ADS_3

Hal yang paling ditunggu Ali adalah waktu pulang. Tamu yang datang hari ini tidak terlalu ramai seperti kemarin-kemarin, entah mungkin karena mulai semakin takut terpapar virus atau memang sedang sepi saja. 15 menit sebelum pulang, Ali sudah membereskan area bar dan menghitung semua stok serta menuliskan orderan untuk besok pagi. "Masih ada yang belum bayar Dew?" tanya Ali pada Dewi yang sedang menulis catatan kasir untuk clossingan.


"Dua lagi, Al," jawab Dewi tanpa melirik ke arah Ali.


Masih ada 4 table yang diisi tamu, rasanya masih cukup waktu untuk bermain satu jam sepertinya. "Oke, nanti kalau tamu udah pulang semua bilang ya, gue mau main game dulu di bawah, baru bantuin clear up," kekeh Ali.


Dia pun dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari dalam satu celana dan duduk di kolong meja sambil bersandar pada dinding yang ada di sana. Entah terlalu fokus atau bagaimana, Ali tak menyadari jika semua tamu sudah pulang saat para waiter memberitahu jika 15 menit lagi close area.


"Al! Cucian udah numpuk, nanti shift pagi ngamuk loh kalo nggak di cuci," ujar Dewi yang membuat Ali langsung bermain cepat untuk menghancurkan musuh.


Setelah selesai, Ali dengan cepat keluar dari kolong meja, dia hanya terkekeh pelan saat semua meja sudah bersih dan beberapa kursi kayu sudah dinaikan ke atas meja. "Gue pasti nyuci kok Dewi," jawab Ali yang dengan cepat menyalakan kran air, ia mencuci bagian wadah sabun yang tinggal sedikit dan mengisinya dengan air bersih lalu menuangkan sabun pencuci piring secukupnya. "Eh, bentar, biar semangat," ujar Ali yang tiba-tiba kembali memainkan ponselnya lalu menyimpannya di atas freezer. Sebuah lagu yang sedang hits akhir-akhir ini diputar dengan keras dari ponsel Ali.


Ketika sudah selesai dan tinggal menyusun gelas pada rak yang seharusnya, beberapa orang sudah mengenakan jaket dan menunggu Ali agar mereka pulang bersama. "Duluan aja, gue bentar lagi beres kok," kata Ali dengan wajah yang sangat meyakinkan, semuanya pun langsung mengangguk dan berpamitan pada Ali.


"Huft, akhirnya beres juga." Ali mengambil tisu dan mengeringkan tangan yang basah, ia perjalanan ngambil jaket dan absen pulang.


Ketika Ali berjalan menuju parkiran, dia pikir semuanya sudah pulang, tapi sepertinya tidak. Ali melihat pak Joel, sedang menyelah sepeda motor beat berwarna merah, saat Ali semakin berjalan ke arah parkiran, ia baru bisa melihat Dewi yang sedang duduk di kursi kayu yang ada di pojokan dengan pemegang ponsel di telinga nya, seperti sedang menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Kenapa pak?" tanya Ali.


"Nggak hidup-hidup Al, nggak nembak," jawab pak Joel. Ali yang mengambil jurusan teknik sepeda motor dan pernah bekerja di bengkel sepertinya mengetahui apa penyebab motor tersebut mogok seperti itu.


Ali pun mengambil alih menggantikan Pak Joel dan mulai memeriksa motor tersebut. "Kalo terus di selah takutnya banjir Pak," ujar Ali yang mulai menyalakan senter pada bagian bawah mesin.


"Ya udah sama kamu aja Al benerinnya, bapa nggak ngerti," jawab Pak Joel selalu pergi menuju pos satpam dan kembali memberikan sebuah tas kecil. "Ini ada kunci-kunci."


Setelah hampir 10 menit Ali memeriksa dan sedikit membongkar mesin, ia pun melihat busi yang sudah berhasil ia lepaskan. "Punya busi baru nggak Dew?" tanya Ali. Namun gelengan kepala Dewi membuat Ali menghembuskan nafasnya pelan. Bengkel pun sepertinya sudah tidak akan ada yang buka di malam hari seperti ini.


"Masalahnya di busi lagi? Padahal bulan kemaren baru ganti."


Dewi hanya mengangguk dengan patuh, ingin bertanya pun dia tidak mengerti. Setelah Ali membersihkan busi tersebut dengan sedikit bensin selalu mengelapkannya dengan sapu tangan kering, Ali kembali memasangkannya.


"Coba hidupin Dew," ucap Ali. Dewi dengan segera mengambil kunci motornya dari jok belakang, ia pun mulai menyalakannya dan hidup. Motornya kembali hidup. Dewi akhirnya bisa tersenyum dan bernafas dengan lega.


"Thanks banget ya Al," ujar Dewi. Walaupun suara mesin motor sedikit tersendat, namun semoga saja motornya bisa bertahan sampai rumah.

__ADS_1


"Iya sama-sama Dew. Tapi ini lemah banget, gue ikutin aja dari belakang ya sampe rumah Lo, takut mati dijalan gue bisa bantu step." Ali melihat wajah Dewi yang sepertinya ragu dan lebih ke arah tak enak.


Dan benar saja, Dewi menggelengkan kepalanya. "Eh, nggak usah Al, udah malem, Lo pulang aja istirahat. Kalo gue kenapa-kenapa di jalan gue bisa nelpon temen-temen gue kok buat jemput," jawab Dewi dengan tak yakin, sedari tadi saja keluarganya tidak ada yang menjawab panggilan telepon dan sepertinya sudah terlelap tidur tanpa menyalakan nada dering panggilan, apalagi teman-temannya.


"Ah, udah nggak apa-apa Dew, gue besok libur, bisa istirahat seharian. Ayo." Ali menyalakan motor miliknya dan Dewi pun keluar terlebih dahulu dari area parkir setelah berpamitan pada pak Joel.


Selama di perjalanan, Dewi selalu melihat kearah spion, memperhatikan Ali yang dengan setia mengikutinya dari jarak yang cukup dekat. "Bentar lagi nyampe, mau sampe sini aja?" teriak Dewi sambil menoleh sedikit ke arah belakang.


"Sampe rumah Lo aja, udah Dew, fokus sama jalan, bahaya!" balas Ali yang juga berteriak.


Tak sampai 5 menit karena jalanan yang cukup sepi, akhirnya mereka sampai di depan rumah Dewi, ia dengan cepat turun dan membuka pagar rumahnya. "Ayo duduk dulu di kursi Al, mau minum nggak?" tanya Dewi berbasa-basi karena tak tahu harus memberikan apa untuk rasa terima kasihnya.


Ali hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Gue langsung pulang aja, takut ibu negara nyariin. Gue duluan ya, bye," pamit Ali.


Dewi menganggukkan dan menunggu Ali yang sedang memutarkan motornya, setelah Ali bersiap akan pergi, Dewi spontan melambaikan tangannya. "Hati-hati ya Al, makasih," ucap Dewi dengan sedikit keras.


"Iya, bye." Ali pun mulai mengendarai motornya dengan kecepatan kencang saat sudah berada di jalan raya, jalanan yang terlalu sepi membuatnya sedikit takut, bukan takut pada makhluk halus, namun lebih takut pada manusia yang memiliki hati seperti iblis, yaitu begal. Getaran di sakunya membuat Ali semakin menambah kecepatan motor, pasti Acha sedang menunggunya atas perintah Mama.

__ADS_1


 ✨


Guys, like komen jangan lupa ya kalo kalian suka sama cerita ini.


__ADS_2