Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Jujur


__ADS_3

Malam ini Ali sedang sibuk mencatat beberapa menu yang nantinya akan ia jual, Ali mulai membuat resep yang pernah ia dapatkan dulu dan mulai mengingat kembali bahan-bahan apa saja yang nantinya akan ia butuhkan. "Dulu bahan-bahannya ini Dan, tapi nanti coba dulu buat kalo ada yang kurang kita tambahin lagi, sekalian bikin resep sendiri biar agak beda," ucap Ali.


Ramdan mengambil buku catatan Ali dan mulai membacanya sekilas. "Minggu depan belanja ke pasar Al, tester biar semuanya cobain dulu. Minggu ini mulai cari gerobak yang murah," jawab Ramdan.


Ali pun menganggukkan kepalanya, ia membuka aplikasi sosial media yang memiliki market place, melanjutkan kembali tugasnya mencari gerobak yang cocok untuk berjualan. "Di atas satu juta semua Dan," sahut Ali sambil berdecak pelan. "Ada yang di bawah satu juta tapi rodanya rusak."

__ADS_1


"Gimana dong Al? kalo budget gerobak di dua juta nanti lama lagi ngumpulin buat beli peralatan masaknya, belum bumbu-bumbu."


Keduanya kini menjadi pening memikirkan anggaran yang terlalu pas-pasan, sudah dipisahkan separuh uang untuk membayar lapak tempat mereka berjualan nanti. Mengapa tidak di depan rumah? awalnya mereka pun memikirkan hal itu, namun jika hanya di depan rumah hanya tetangga dan orang-orang sekitar yang tahu, belum lagi jika di masukkan ke dalam aplikasi makanan online pastinya beberapa driver akan kesulitan mencari lokasi yang lumayan jauh dari jalan raya.


Saat sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba sebuah panggilan masuk membuat Ali mengerutkan keningnya samar, Dewi, tidak biasanya Dewi menelpon Ali malam-malam seperti ini. Tanpa berpikir lebih jauh lagi Ali pun mengangkat panggilan tersebut dan memberitahu Ramdan jika ia sedang menerima telepon agar tidak di ganggu sejenak. "Halo Dew? belum tidur?" tanya Ali.

__ADS_1


Sambil menarik nafasnya pelan, Ali mulai memejamkan matanya. "Dia mantan aku, Dew," jawab Ali kemudian. Tak percaya juga jika Risda sampai melakukan hal yang tidak penting seperti itu. Tentu saja tidak penting, untuk apa ia mengirimkan pesan dan mengucapkan selamat atas hubungan Dewi dan Ali? jelas-jelas itu bukan sesuatu yang baik dan hanya bisa memperkeruh suasana, lebih baik saling melupakan dan jangan menggangguku kehidupan masing-masing bukan?


"Jadi seminggu ini kamu sering chatan sama mantan kamu?" tanya Dewi membuat Ali rasanya ingin berdecak. Inilah yang tidak ia mau dari menceritakan mantannya, hanya akan ada percikan marah yang mengundang pertengkaran. "Kenapa baru jujur sekarang?" tanya Dewi kembali.


"Aku nggak pernah bales pesan dari dia Dew, cek hp aku kalo kamu masih ragu sama jawaban aku, nggak ada histori aku pernah chat atau telepon dia," jelas Ali, padahal kenyataannya Minggu lalu Ali membalas pesan itu dan itu pun yang melakukannya adalah bebek. Namun karena tidak ingin ada masalah baru lebih baik ia skip saja bukan?

__ADS_1


"Percuma di cek juga, histori bisa di hapus." Baru saja Ali akan menjawab, panggilan sudah terputus.


__ADS_2