Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Berbaikan


__ADS_3

Usai menerima telepon dari Risda, Ali menelan saliva dengan kuat. Jantungnya berdebar karena sudah membuat seorang perempuan menangis, namun disisi lain ia juga merasa tenang karena urusannya bersama Risda bisa selesai, ia berharap setelah rekaman ini dikirim Dewi akan memberikan maaf dan bersedia melupakan kejadian ini. "Ah nggak aktif," gerutu Ali saat mengirimkan pesan memanggil Dewi namun hanya centang satu yang terlihat dan menandakan jika Dewi sedang tidak mengaktifkan koneksi internetnya.


Dengan perasaan yang sudah tak menentu sedari tadi, Ali mengambil jaket yang ia gantungkan di belakang pintu. Saat Ali akan keluar dari kamar, terlihat Acha yang baru saja menaiki anak tangga. "Mau kemana A? udah malem," protes Acha yang melihat Ali sepertinya sedang buru-buru.


"Mau pergi dulu, kalo Mama nanya jawab aja ke rumah temen," jawab Ali.


Acha menggelengkan kepalanya kuat, ia sudah mendengar berita Ali yang sedang bertengkar bersama Dewi dari kak Ramdan, Acha merasa Ali akan membawa motor dengan kecepatan kencang dan tidak baik juga berkeliaran malam hari disaat sedang rawan berita kejahatan dimana-mana. "Ih jangan, pasti mau ke rumahnya kak Dewi ya? jauh A, besok lagi aja."

__ADS_1


"Anak kecil tau apa sih Ca? udah aa buru-buru, kalo nunggu besok takutnya malah tambah parah," jawab Ali.


Acha yang memiliki ketakutan berlebih langsung menahan tangan Ali saat sudah sampai di lantai atas. "Nomor kak Dewi nggak aktif ya? Acha coba telepon kak Anisa aja, siapa tahu kak Anisa bisa pinjemin HP nya ke kak Dewi, bahaya A malem-malem gini bawa motor, kenapa sih selalu kayak gini kalo aa panik?" tanya Acha geram.


Ali pun terdiam sejenak, pikirannya kini seakan tersadarkan dan tidak terlalu begitu panik seperti tadi, sedangkan Acha yang melihat itu langsung menghembuskan nafasnya lega, ia meminta Ali untuk masuk ke dalam kamar dan Acha mulai mengeluarkan ponselnya. "Bentar ya Acha telepon dulu kak Anisa," ujar Acha.


Terdengar sedikit percakapan yang tidak terlalu jelas, namun kurang dari semenit suara Dewi mulai terdengar. "Halo Ca?" tanya Dewi dari sebrang sana.

__ADS_1


"Halo kak, HP kakak lagi mati ya? kak Aku boleh kan ngobrol dulu sama kak Dewi? tadi kak Ali mau pergi ke rumah kakak, tapi di sini lagi rawan banget kalo malem keluar pake motor kak," jelas Acha.


Sedangkan Ali yang sudah mendengar Acha sedang berbincang dengan Dewi, dengan cepat mengambil ponsel milik Acha. "Aa aja yang ngomong," ucap Ali.


"Dew, liat pesan yang aku kirim dong, jangan salah paham lagi, aku beneran nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Risda, dia tiba-tiba aja datang, tapi aku udah beresin semuanya kok, aku udah kirim rekaman suara."


Tak terdengar jawaban Dewi dalam beberapa detik, yang terdengar hanyalah Dewi yang sedang menarik nafasnya panjang. "Iya nanti aku buka ya, tapi sekarang aku mau istirahat dulu Al. Sebenarnya bukan karena aku mikir buruk tentang kamu kok, tapi aku nggak suka sama cara kamu yang egois, kamu bilang ke aku harus terbuka sedangkan kamu sendiri lebih memilih buat simpen apa-apa sendirian, nggak pernah terbuka sama aku."

__ADS_1


__ADS_2