Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Rencana Main


__ADS_3

Masih terasa seperti mimpi mendengar ucapan yang keluar dari mulut Ali tadi, tidak pernah ada yang seperti ini sebelumnya, bersama Baskara saja yang sudah berhubungan sebagai kekasih belum pernah Dewi mendengar ucapan seperti itu. Rasa senang bercampur rasa tak menyangka, siapa perempuan yang tidak senang jika diberi keseriusan seperti itu?


Selama di perjalanan Ali dan Dewi berbincang banyak hal mengenai keluarga Ali, membuat rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka sebelum acara tunangan langsung nantinya. "Sebenernya aku nggak enak ngelangkahin kakak aku sendiri Dew, A Ramdan juga punya pacar sih, tapi beberapa bulan ini pacarnya A Ramdan udah jarang ke rumah, kata Acha mereka udah putus karena A Ramdan yang putusin hubungan mereka," jelas Ali.


Dewi mengerutkan keningnya bingung, kepalanya mulai berada di bahu Ali karena suara angin mulai mengalahkan suara Ali yang terdengar sedikit tidak jelas. "Loh kenapa? tapi awalnya mereka baik-baik aja kan?" tanya Dewi.


Ali terlihat mengganggukan kepalanya, dia menoleh pada kaca spion dan melihat Dewi yang tampak serius mendengarkan cerita Ali dari tadi. "Mungkin A Ramdan mau sembuh dulu," jawab Ali.


--

__ADS_1


Sesampainya di rumah Dewi mereka pun masuk dan menghampiri Anisa yang sedang berada di ruang tamu, terlihat beberapa buku berserakan di atas meja dan raut wajah kebingungan Anisa yang mengerjakan sebuah tugas. "Assalamualaikum. Belum beres tugasnya, De?" tanya Dewi membuat Anisa langsung menoleh dan merapikan buku-bukunya yang berserakan tadi.


Anisa tersenyum pada Ali lalu kembali fokus pada Dewi. "Belum kak susah, matematika sama pelajaran sejarah. Pelajaran sejarah sih tinggal merangkum banyak, tapi matematika susah banget, waktu belajar dikasih contohnya kayak gampang, eh bagian pr-nya susah beda jauh sama waktu tadi belajar," gerutu Anisa pelan.


"Makannya belajar yang bener, kan waktu belajar itu bagian dasarnya, coba buka-buka lagi bukunya pasti ada contoh yang kayak tugas kamu." Dewi dan Ali pun duduk di kursi tepat di hadapan Anisa. "Eh iya De, nanti minggu depan mau nggak kita main? Ada Acha juga, kalian baru kenal lewat chat kan? kayaknya seru kalau kita berempat main," ujar Dewi.


Anisa yang mendengar kata main langsung bersemangat, matanya berbinar dan dengan cepat Ia pun menganggukkan kepalanya. "Mau banget! aku sama Acha emang pengen main sebenernya, tapi belum ada waktu yang pas buat main," jawab Anisa.


"Jangan ke Lembang, masih agak trauma sama jalur yang mau ke Subang. Gimana kalau kita ke saung apung? yang ada di cililin, coba deh search dulu sama kalian," usul Ali.

__ADS_1


Dewi dan Anisa pun langsung mencari tempat yang dimaksud oleh Ali, sebuah tempat makan yang berada di tengah danau dengan spot foto yang cantik. "Lucu nih kayaknya di sini, tapi kalau tempat makannya di tengah nanti kita ke sananya naik apa?" tanya Anisa dengan polosnya.


"Ya naik perahu lah dek, masa iya renang," jawab Dewi cukup gemas mendengar pertanyaan adiknya.


Ali pun tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Jadi nanti waktu kita nyampe di sana, kita pilih perahu mana yang mau kita naikin, terus kalau udah nyampe sana nggak bisa pesan makan atau foto-fotoan dulu, nah nanti waktu mau pulang kita tinggal nukerin bill dari pesanan makan ke Mang perahunya," jelas Ali. "Kalau dulu sih rame banget di sana, tapi nggak tahu sekarang. Soalnya masalah corona belum beres, katanya cafe juga mau di khusus-in buat take away aja."


"Eh iya ya? teman-teman aku malah mau diliburin dulu sementara, semoga aja pandemi ini cepat berlalu ya," ucap Dewi.


"Aamiin."

__ADS_1


"Ya udah, rencana yang fix-nya ke saung apung ya, sambil lihat lagi situasi dan kondisi minggu depan, semoga aja saung apungnya buka dan rencana main kita berjalan dengan lancar," ujar Ali.


__ADS_2