Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Hari Berduka


__ADS_3

Keesokan harinya, Dewi dan Anisa duduk di ruang tengah, mereka menonton TV sembari memeriksa PR milik Anisa dari sekolahnya. "Papa pulang jam 4 ya De?" tanya Dewi meyakinkan lagi.


Anisa menganggukkan kepalanya, ia pun menoleh pada Dewi. "Iya kak, kakak pasti gelisah ya pengen cepet ke rumah sakit?"


Jelas saja gelisah, sedari pagi Ali hanya mengirimkan pesan 1 kali dan memberikan kabar jika Ramdan pukul dua pagi hari siuman dan hanya meminta minum namun setelah itu keadaannya kembali seperti saat kritis, hingga siang ini masih juga belum siuman kembali. Keadaannya masih belum stabil, Ali juga mengatakan jika ponselnya kehabisan baterai dan mungkin agak siangan akan pulang untuk makan dan membersihkan diri sembari mengisi daya ponsel.


Dewi melihat kembali jam, sudah pukul setengah 3 sore namun Ali masih juga belum memberikan kabar lagi, ingin mengimkan pesan kembali namun Dewi merasa tak enak jika mengganggu Ali. "Satu setengah jam lagi, nanti jam tiga kakak langsung siap-siap ah," gumam Dewi pada Anisa.


Jujur saja, seharian ini Dewi merasa tak tenang, ingin melakukan apapun sepertinya tak ada niat sedikit pun selain ingin ke rumah sakit. Awalnya Dewi berpikir ingin ke rumah sakit duluan siangnya, namun Mama mengatakan jika lebih baik datang bersama karena bagaimana pun ini pertemua keluarga mereka yang pertama, Mama dan Papanya pasti akan sedikit kebingungan mencari keluarga Ali di rumah sakit.

__ADS_1


Ketika sedang asik melamun, pikirannya terbuyarkan saat merasakan Anisa menepuk bahunya. "Kak, itu kak Ali nelepon," ucap Anisa.


Mendengar itu Dewi pun dengan cepat mengambil ponsel dan menerima panggilan Ali. "Al? gimana keadaan A Ramdan? sebentar lagi aku mau siap-siap kesana, sekarang lagi nunggu Papa dulu," jelas Dewi.


Kening Dewi berkerut samar saat tak mendengar jawaban Ali, terdengar cukup hening namun sedikit ada isak tangis. "Halo, Al?" tanya Dewi pelan, perasaannya mulai mengatakan ada yang tak beres jika sudah seperti ini, perasaan gelisah yang Dewi rasakan tadi rasanya bertambah beberapa kali lipat. "Are u oke?" tanya Dewi kembali seperti sebuah bisikan karena sangat pelan.


"innalillahi wa innalillahi rojiun," ucap Dewi, tak tahu lagi apa yang harus ia katakan selanjutnya, lidahnya terasa kelu.


"Kamu nggak usah ke sini ya, bentar lagi ambulance bawa A Ramdan ke rumah, nanti kamu langsung kerumah aja," isak Ali membuat ucapannya sedikit tak beraturan namun Dewi masih bisa mengartikan semuanya.

__ADS_1


***


Dewi dan keluarga tiba di rumah Ali pukul 5 sore, di sana rumah Ali sudah di penuhi oleh beberapa orang yang keluar masuk, terlihat sebuah tempat di dekat masjid yang sudah di kelilingi kain sebagai tempat pemandian A Ramdan. Dewi mencari Ali, namun ia tak menemukan Ali di dalam rumah dari jarak pandangnya, Dewi masih belum masuk karena rumah masih begitu penuh oleh para tetangga yang datang.


Saat Dewi menoleh kearah samping, terlihat beberapa perempuan sedang membuat bunga yang akan di simpan di atas keranda. "Eh Dewi ya?" tanya seseorang yang membuat Dewi langsung menoleh. Sepertinya ia pernah bertemu dengannya sebelumnya, namun tidak terlalu ingat tepatnya dimana.


"Iya, temen Ali?" tanya Dewi yang mulai menyadari jika saat itu mereka bertemu di kue balok.


Dia menganggukkan kepalanya. "Iya, Ali lagi ke makan, katanya mau bantuin gali juga biar nggak keburu malem di makamnya."

__ADS_1


__ADS_2