Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Tgl lahir yang sama


__ADS_3

Sesampainya di rumah Bebek, Ali dan Arul menyapa teman-temannya yang terlebih dahulu hadir di sana. Zaki yang sedang


Suara notifikasi grup membuat Ali dengan cepat membuka pesan tersebut, ia melihat absensi untuk satu minggu ini. "Oke, besok gue sore," ucap Ali pelan lalu melihat bagian kolom Kasir yang di isi oleh 3 orang. Asti libur, Gina pagi, dan Dewi sore.


Dewi, sejenak Ali mulai berfikir tentang ucapan Asti sore tadi. Hanya Dewi yang belum memiliki pacar menurut informasi yang Asti dapat. Namun, jika dipikir-pikir lagi apakah tidak menjadi masalah besar jika Ali hanya mendekati diri untuk meredamkan gosip yang beredar pada dirinya saat ini.


 ✨


Keesokan harinya, pukul 03.00 sore Ali sudah berada di area parkir cafe, ia dengan cepat bergegas masuk ke dalam dan melakukan absen. Ini yang tidak ia suka dari shift sore, jalanan di sekitaran pasar sangat macet dan hampir saja membuatnya terlambat. "Kayaknya di pasar nggak akan ada istilah PPKM deh," gerutu Ali yang masih sangat kesal pada beberapa angkot yang parkir di pinggir jalan dan tukang parkir yang memberikan akses belok untuk mobil-mobil yang membuat semuanya menyalakan klakson.


"Nah, Ali udah nyampe," ucap Pak Indra membuat Ali yang baru memasukkan jaketnya langsung menoleh. Namun, sebelum Ali mengajukan pertanyaan, Pak Indra menunjuk ke arah komputer. "Udah, absen dulu aja, 1 menit terakhir."


Ali yang langsung ingat akan absen langsung memposisikan wajahnya di depan kamera, ia langsung bergegas mendekati Pak Indra yang sudah di kelilingi karyawan. "Kenapa nih?" tanya Ali.

__ADS_1


Pak Indra terbatuk kecil menatap semua karyawan satu persatu. "Jadi, owner mulai ngasih BPJS buat semua karyawannya, yang shift pagi udah pada ngisi dokumen tertulis ini, sekarang tinggal yang shift sore. Dimohon isi dokumennya lengkap dan jangan salah ya," jelas Pak Indra. Beberapa karyawan mulai mengajukan pertanyaan dan Pak Indra pun langsung menjawabnya.


Setelah semuanya merasa jelas perpindahan shift pun mulai di lakukan, Ali menanyakan tentang stok yang limit pada barista pagi dan stok apa saja yang banyak agar bisa di upsale oleh waiters.


"Pas, over cash seribu delapan ratus." Terdengar suara Dewi yang membuat Ali langsung menoleh. Entahlah, semenjak perkataan Asti kemarin, Ali jadi selalu memperhatikan Dewi.


Setelah semua karyawan shift pagi pergi untuk beristirahat lebih awal, Ali mulai menyimpan kertas yang berisikan beberapa pertanyaan mengenai identitasnya di atas meja dekat kasir. "Dew, ada pulpen lagi nggak yang nganggur?" tanya Ali sambil melihat ke arah tempat peralatan tulis yang berada di pojokan.


"Ada, sebentar." Dewi mengeluarkan pulpen dari saku seragam kerjanya. "Nih, yang di sana pada kosong isinya," jelas Dewa sambil melihat ke arah tempat peralatan tulis yang sempat Ali perhatikan.


Saat Ali sudah menyelesaikan semua identitasnya, mata Ali seakan tertarik pada KTP milik Dewi yang sedang pegang oleh perempuan itu, Dewi tampak sedang serius menyarik NIK miliknya. Saat mata Ali turun melihat Tempat Tanggal Lahir, ia sedikit terkejut. "Loh, tanggal 30 Oktober juga?" tanya Ali.


Dewi yang tampak kebingungan hanya menatap Ali tanpa menjawab apapun. "Samaan, gue juga 30 Oktober, nih liat," lanjut Ali sambil mendekatkan KTP-nya pada KTP Dewi.

__ADS_1


"Eh, seriusan?" tanya Dewi sambil sedikit tertawa. "Kok bisa ketemu kembaran di sini?"


"Enak aja kembaran, beda tahun ya," sahut Ali sambil menarik kembali KTP-nya. "Ntar, tukeran kado yuk," kekeh Ali bercanda.


Dewi pun masih tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Ogah ah, suka zonk kalo tukeran kado sama cowok."


"Eh, kata siapa?" tanya Ali. Justru ia yang selalu merasa Zonk jika bertukar kado dengan perempuan, ia sudah memberikan tas, jam tangan, yaa walaupun tidak sampai 1 juta. Sedangkan ia hanya menerima ucapan dalam bentuk text. Ulangtahun nya selalu berwarna hanya dari teman-teman tongkrongan yang selalu memberi kejutan dan hadiah Special.


"Kata gue barusan, udah pernah ngalamin juga," jawab Dewi disertai hembusan nafas pelan. "Ngasih helm mahal, eh taunya di jadiin Story sama selingkuhannya," gumam Dewi pelan.


Ali mengerutkan keningnya pelan. "Oh, jadi pernah di selingkuhin nih?" tanya Ali yang mulai paham.


"Udah ah, balik kerja. Mana kertas Lo, gue kasihin ke Pak Indra sekalian."

__ADS_1


--


Besok author libur up dulu ya, lanjut nanti Senin. Jangan lupa like dan komen😍


__ADS_2