
Seminggu sudah berlalu dengan cepat, kabar kembali dibukanya cafe belum juga muncul dan membuat semuanya tentu saja pening disertai gelisah. "Udah liat rodanya Al?" tanya Ramdan yang sudah mendapatkan info jika Ali sudah berhasil menemukan roda yang cocok untuk berjualan serta harga yang pas dengan budget mereka.
"Udah Dan, kemaren liat ke lokasi bareng Dewi, rodanya bagus cuma dari kayu terus bannya bocor," jelas Ali. Sebenarnya tidak terlalu masalah ban roda tersebut bocor karena nantinya akan dirantai di tempat yang mereka sewa.
Ramdan terlihat menganggukkan kepalanya, ia pun mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. "Kalo gitu ini modal nya ya Al, maaf ya nggak bisa bantu beli bahan-bahan sama peralatan dagang, buat duduk di depan jaga Thai tea aja nggak kuat, takutnya nggak fokus milih nanti," ujar Ramdan.
"Nggak apa-apa Dan, justru Ali makasih banget udah di kasih kesempatan buat dagang, ini impian Ali dari dulu." Ali tersenyum senang, ia berharap semuanya berjalan dengan sempurna dan sesuai harapan. "Kalo ini kurang nanti Ali tambahin dari tabungan buat tunangan, Dewi juga udah setuju," jelas Ali.
Sedikit berbincang mereka pun kembali terfokus pada menu apa saja yang akan mereka jual dan menentukan harga yang nantinya akan dicantumkan oleh Dewi yang bertugas membuat menu di ponselnya, menu tersebut akan mereka buat bander dan akan di tempelkan di tempat. "Nah yang ini cocok Al," ujar Ramdan saat Ali memberikan beberapa contoh desain yang dikirimkan oleh Dewi untuk menu.
__ADS_1
Ali pun setuju dan meminta Dewi lewat chat untuk mulai mengedit dan meminta beberapa revisi tentang gambar yang dirasa terlalu berlebihan. "Biar Thai tea ke bantu juga, kita bikin paket aja buat seminggu Dan, nanti kalo udah seminggu harga paket normal aja," tawar Ali.
***
Sore harinya Ali menjemput Dewi untuk mengantarkannya ke tempat yang akan disewa Ali untuk berjualan, mereka berbincang sedikit mengenai biaya listrik dan lain-lain. "Oke pak, saya minat, rencana mulai jualan Minggu depan, mungkin lusa roda udah di anter ke sini," jelas Ali dan langsung bertukar kunci dengan uang, Ali pun menerima kwitansi untuk pembayaran 3 bulan awal.
Ketika semuanya sudah sepakat, Ali dan Dewi pun berpamitan pada pemilik tempat, mereka kembali pulang kerumah Dewi. "Nanti langsung pulang?" tanya Dewi.
"Semoga cepet sembuh ya Al, coba banyakin dulu istirahat, rajin kontrol ke Dokter," jawab Dewi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Dewi, Ali pun hanya menitipkan salam untuk keluarga Dewi karena tidak memiliki waktu banyak sebelum klinik dekat rumah tutup. "Titip salam ya Dew, maaf nggak bisa pamitan dulu," pesan Ali.
Dewi mengangguk dengan cepat. "Iya, kayaknya Mama sama Papa juga pulangnya nanti, belum ada juga motornya. Kamu hati-hati dijalan ya, jangan ngebut."
"Iya, aku pulang sekarang ya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Usai Ali pergi, Dewi masuk ke dalam rumahnya, ia memanggil Anisa untuk menemaninya sekaligus memeriksa tugas sekolah Anisa yang semalam ia bantu. "Gimana? ada yang salah?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Enggak, bener semua," jawab Anisa sambil tersenyum lebar.
Beberapa jam berlalu dengan cepat, Dewi yang sedang memainkan ponselnya mendadak terkejut mendapatkan pesan dari Ali. [A Ramdan dirujuk ke rumah sakit, keadaannya langsung drop, belum bangun sampai sekarang.]