Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Pendekatan


__ADS_3

Lima hari berlalu dengan cepat, setelah pemberian pudding dari Mama nya Dewi, Ali mulai dekat dengan Dewi, sudah beberapa hari ini pun Ali dan Dewi saling mengirim pesan satu sama lain dan selalu mengomentari status yang di buat oleh Dewi.


Kini, Ali sedang berbaring di atas ranjang sambil tersenyum memainkan ponselnya. [Kalo minggu ini ambil libur hari apa De? Sibuk nggak?]


[Kayaknya hari Rabu, mau istirahat aja sih di rumah, kenapa Al?]


Jiwa play boy Ali mulai aktif kembali rasanya, selalu ada ide untuk membuat obrolan menjadi panjang. [Gue juga mau ambil Rabu ah, kalo gue main ke rumah boleh nggak? Kita masak buat keluarga Lo.]


Setelah mengirim, senyum Ali pun mendadak hilang di gantikan kepanikan. Apa ia terlalu cepat mengambil langkah? Bagaimana jika nantinya Dewi akan menjadi risih setelah membaca pesan Ali? Mengapa juga ia harus langsung mengatakan hal itu di chat? "Bisa tarik pesan nggak ya?" gumam Ali pelan. Namun terlambat, Dewi sudah membaca dan mulai mengetik untuk membalas pesannya tadi.


Kini, Ali hanya bisa pasrah dan menunggu jawaban Dewi, semoga saja semua hal buruk yang ada di pikirannya tidak terjadi.


Ting..


Pesan masuk dari Dewi, dengan hati yang berdebar, Ali mulai membuka pesan tersebut dan dengan perlahan kecemasan Ali pun berhenti, ia bisa kembali tersenyum. [Seriusan? Boleh, sekalian Mama mau ketemu sama Lo wkwk.]

__ADS_1


Lalu pesan dari Dewi kembali muncul. [Emang Lo bisa masak?]


Ali membenarkan posisi tidurnya dan mulai membalas pesan Dewi. [Bisa dong, nanti Rabu pagi gue jemput ya, kita ke pasar bareng.]


[Oke Al, mau banget!]


Kini, Ali semakin yakin jika ada harapan besar untuk hubungannya bersama Dewi, semoga saja ia akan merasa cocok kedepannya dan mengakhiri status jomblonya.


***


Hari Rabu pun tiba, walau pun penuh Drama saat Ali meminta pindah hari libur tetapi akhirnya ia bisa mendapatkan kesempatan libur bersama dengan Dewi. "Al, sorry ya lama," ucap Dewi yang baru keluar dari rumahnya dan menutup kembali pagar.


Dewi memakai helm terlebih dahulu lalu naik ke atas motor dan menunjukkan arah pasar yang paling dekat dengan rumahnya.


Sesampainya di Pasar, Dewi yang kurang paham mengenai bumbu dapur hanya mengikuti Ali dari belakang. "Benaran pinter masak ya Lo, Al?" kekeh Dewi saat melihat belanjaan mereka yang sudah semuanya di dapatkan sesuai list yang Ali ketik saat semalam di chat mereka.

__ADS_1


"Eh, masih belum percaya?" tanya Ali yang diikuti tawa renyah.


"Nanti ajarin gue masak ya, malu banget kekalahin sama cowok," ujar Dewi.


Ali mengangguk dan di perjalanan pulang banyak hal yang mengisi percakapan mereka berdua. "Duh, kok gue mendadak deg-degan ya?" ucap Ali saat memarkirkan motornya di halaman rumah Dewi.


Dewi yang mendengar itu hanya tertawa kecil melihat kegugupan Ali. "Kalo nggak deg-degan Lo nggak idul," jawab Dewi.


Namun, sebelum Ali menjawab, pintu rumah Dewi sudah terbuka menampilkan Mamanya Dewi yang keluar dengan wajah ramah. "Eh, nak Ali ya?" tanyanya.


Ali dengan cepat turun dari motor dan memberikan salam pada Mama Dewi yang baru Ali ketahui bernama Indah. "Ali ikut masak ya Mah," ucap Ali.


Indah pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Silahkan, aduh jadi ngerepotin nak Ali nih dimasakin makan siang."


"Nggak apa-apa Tan, Ali suka masak kok, semoga pada suka ya masakan Ali," ujar Ali yang sudah merasa nyaman dengan keakraban keluarga Dewi.

__ADS_1


**


Jangan lupa like dan komen ya temen-temen, jangan lupa juga baca novel aku yang udah tamat🄰


__ADS_2