
Di dapur, kini terlihat Ali yang sedang sibuk membersihkan daging yang baru mereka beli, sedangkan Dewi mulai mengupas bawang dan bahan-bahan lainnya yang sudah diberi tahu oleh Ali. "Udah, terus apa lagi Al?" tanya Dewi yang masih sangat bersemangat dengan acara memasak mereka.
Ali pun memberitahu Dewi langkah-langkah membuat bumbu ayam yang akan mereka buat sekarang. "Pusing nggak? Kalo Lo capek nggak apa-apa Lo tunggu aja gue selesai masak De," ujar Ali yang kini merasa tak enak sudah membuat hari libur Dewi sepertinya sedikit merepotkan baginya.
"Ih nggak, gue seneng malahan masak kayak gini. Lo udah beres bersihin ayamnya?" tanya Dewi saat melihat Ali mengangkat wadah berisikan ayam yang ada di tangan Ali.
Saat Ali menganggukkan kepalanya, terdengar sebuah suara pintu di sertai teriakan seseorang. "Assalamualaikum."
Ali langsung menoleh pada Dewi. "Adik gue itu, baru pulang lari," jawab Dewi yang seolah sudah tahu apa yang akan ditanyakan Ali.
"Oh punya adik? kelas berapa?" tanya Ali.
"Kelas tiga SMA."
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, orang yang sedang mereka obrolkan rupanya masuk ke dalam dapur, tubuhnya cukup tinggi bahkan melebihi tinggi Dewi. "Eh, maaf kirain nggak ada temennya kakak," ucapnya dengan cukup ramah sambil sedikit malu.
Ketika ia akan berbalik, Dewi dengan cepat menghentikan langkahnya. "De, mau kemana? kenalan dulu dong," ujar Dewi.
"Anisa," ucap Anisa sambil tersenyum ramah.
Ali pun tersenyum. "Ali, temen kerjanya kak Dewi," jawab Ali. Tak disangka keluarga Dewi sangat ramah, tinggal menunggu Ayah Dewi yang sore nanti akan pulang.
Setelah semuanya selesai, Dewi dan Ali pun mulai menyusun makanan di atas meja, Mama Dewi pun membantu mereka dengan menyiapkan minuman. Tak lama Anisa terlihat turun dari lantai atas dengan pakaian yang sudah berbeda dari sebelumnya. "Mah Nisa pergi dulu ya."
"Eh, mau kemana? makan siang dulu, ini Special kak Ali yang buatin buat kita," ujar Indah.
Anisa yang terlihat ingin menjawab langsung menutup mulutnya kembali, ia berjalan ke arah meja makan dan duduk di samping Indah. "Nisa ada kelas online jam 1 mah, mau bareng Danish sekalian bikin power point," jawab Anisa.
__ADS_1
Dalam makan siang itu, Ali mulai sedikit tahu mengenai keluarga Dewi, beberapa kali Indah pun melontarkan pertanyaan pada Ali dan percakapan semakin memanjang saat Indah tahu daerah rumah Ali yang rupanya sangat dekat dengan rumah saudara mereka. "Oh iya kita punya saudara di sana Ma?" tanya Dewi yang sepertinya pernah mendengar nama daerah tersebut, namun ia lupa.
"Ada, Bi Arum. Waktu kamu kecil Mama sering bawa kamu ke sana, tapi sekarang Bi Arum udah nggak tinggal di sana, jadi kalian nggak akan inget, apalagi Anisa, baru umur 2 bulan ke rumah Bi Arum waktu itu," jelas Indah.
Ali yang tak pernah habis bahan pembicaraan ikut bergabung dan merasa nyaman dengan suasana hangat tersebut. Sampai tak terasa waktu terus bergulir dan Anisa pun pamit untuk pergi ke rumah temannya. "Al, Lo bisa main gitar?" tanya Dewi pada Ali yang tampak mulai bingung berada di teras rumah Dewi.
"Bisa, Lo punya gitar?" tanya Ali.
Dewi mengangguk. "Ada, punya Anisa, gue bawa dulu ya."
**
Kalian lebih suka aku nulis cerita tema luar negeri atau remaja guys?
__ADS_1