Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Melupakan Semuanya


__ADS_3

Keesokan harinya, Ali masih merasa belum cukup tenang jika Dewi benar-benar sudah memaafkannya, dengan cepat Ali bergegas mandi dan mengenakan pakaian kesukaannya, sebuah sweater hitam yang dipadukan dengan celana jeans hitam. "Masker," gumam Ali saat hampir saja melupakan sesuatu yang paling penting untuk sekarang. Bahkan rasanya ketinggalan masker lebih berbahaya dari pada ketinggalan helm.


Ali menuruni setiap anak tangga dengan cepat, langkahnya terhenti saat melihat Mira yang sedang menyapu. "Katanya libur Al, mau kemana?" tanyanya.


"Mau main dulu Ma, bentar kok," jawab Ali.


Mira hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Main terus, kamu kan tahu sekarang lagi tinggi-tingginya virus, nggak takut apa?"


"Mama, please, ini sebentar kok," mohon Ali dengan wajah yang cukup meyakinkan.


Mira yang tahu sikap keras kepala Ali akhirnya menghembuskan nafas pelan, jika dilarang pun pastinya Ali akan terus berusaha pergi meskipun tanpa izin. "Ya udah, jangan lama-lama ya," jawab Mira pada akhirnya.

__ADS_1


Ali tersenyum dengan senang, ia menganggukkan kepalanya dengan cepat dan bergegas keluar rumah untuk memanaskan motornya terlebih dahulu.


**


Sementara di tempat tujuan Ali, Dewi baru saja selesai mencuci piring bekas sarapannya, sesekali ia melirik pada ponsel yang ia letakkan di atas meja makan, tak ada satupun pesan masuk dari Ali pagi ini, bahkan pesan Dewi pun tidak di balas. "Pasti belum bangun," gumam Dewi.


Pikirannya kembali pada sebuah rekaman suara yang Ali kirimkan semalam, rasanya cukup tenang dan Dewi senang karena Ali benar-benar menunjukkan dengan jelas jika hubungannya dengan Risda sudah selesai. Ada juga yang membuat Dewi terganggu semalam, ia berpikir jika Risda sudah mencari tahu tentang diri Dewi sampai berhasil menemukan nomor ponsel Dewi, untuk apa Risda melakukan hal sejauh itu jika hanya ingin mendoakan yang terbaik untuk hubungan mereka? bukankah itu artinya Risda kembali mencari tahu semua tentang Ali dan pastinya ada perasaan lebih yang menginginkannya bersama Ali kembali bukan?


"Beneran Ma?" tanya Dewi memastikan kembali pendengarannya berjalan dengan normal atau tidak, masalahnya adalah Ali sedari tadi tidak mengirimkan pesan apapun jika akan kemari.


"Bener, udah Mama suruh masuk, tadi lagi buka sepatu dulu."

__ADS_1


Dewi memperhatikan penampilannya yang cukup santai, untung saja ia sudah mandi dan tidak terlalu terlihat buruk mungkin meskipun tidak mengenakan make up seperti saat bekerja. "Ya udah Dewi ke depan dulu ya Ma," ucap Dewi sambil buru-buru mengambil gelas dan menuangkan air putih untuk Ali.


Sesampainya ruang tamu, ternyata benar saja Ali berada di sana. "Kamu kok tumben dateng pagi-pagi banget? nggak kasih kabar juga."


Ali terlihat menampilkan senyumnya saat melepaskan masker dan menerima gelas yang diberikan Dewi. "Makasih," ucap Ali saat mendapatkan gelas tersebut. "Aku mau pastiin aja kalo kamu udah bener-bener maafin aku Dew, nggak tenang banget rasanya kalo kamu marah kayak semalem."


"Ih lebay," ejek Dewi sambil sedikit tertawa. "Oh iya, aku minta maaf ya udah marah semalem."


"Aku yang lebih minta maaf karena nggak pernah cerita," sahut Ali. "Aku harap ini terakhir kalinya kita diganggu masa lalu, semoga kedepannya hubungan kita nggak ada yang berani mengusik ya, kita lupain juga semuanya."


Dewi menganggukkan kepalanya. "Aamiin."

__ADS_1


__ADS_2