Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Di lamar?


__ADS_3

Setelah hampir 3 jam di acara pernikahan tersebut, Ali pun berpamitan terlebih dahulu dengan teman-temannya, sedangkan Dewi mulai berpamitan pada Ibu dan Kak Ira. "Gue pulang duluan ya," pamit Ali.


"Bareng aja Al, bentar lagi kita juga pulang kok, perjalanan pulang jauh loh, mending puas-puasin dulu di sini," jawab salah satu teman Ali.


Ali hanya tersenyum kecil, jika saja taka da mantan Dewi pun mungkin ia ingin berlama-lama dan bergabung dengan teman-temannya, namun mood Ali sudah tak sebagus pagi tadi saat mengetahui semuanya. “Nantilah kita kumpul-kumpul lagi, gue mau anterin Dewi pulang dulu, takut di cariin Mamanya,” kekeh Ali.


Usai berpamitan pada semuanya, Ali mulai berjalan mencari Dewi, ia memperhatikan sekitar namun tak menemukan Dewi di dekat pelaminan. Saat Ali menoleh ke bagian dekat pintu, di sana Ali melihat Dewi yang sedang berbincang dengan Baskara, wajah Dewi begitu jelas menunjukkan ketidak nyamanan berada di hadapan laki-laki itu, namun Baskara malah terus berbicara dan hal tersebut membuat Ali kembali kesal rasanya. “Huft.”


Ali berjalan mendekati kedua, entah apa yang sedang mereka bicarakan, lagi-lagi Dewi terlihat memalingkan wajahnya dan saat melihat Baskara akan menggapai Dewi, Ali dengan cepat berteriak. “Dewi!” teriak Ali dengan senyum palsu sambil melangkahkan kakinya cukup lebar. “Kamu udah pamitannya?” tanya Ali saat tiba di hadapan Dewi dan Baskara.


“Aku juga udah kok, yuk,” jawab Dewi yang langsung menggapai tangan Ali dan berjalan meninggalkan Baskara tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


Ali memberikan helm pada Dewi dan Dewi naik ke atas motor, Ali melirik kearah belakang melalui kaca spion. “Tadi itu mantan kamu ya?” tanya Ali yang ingin mengetahui perbincangan tadi.


“Iya, pasti tahu dari Mas Bagus ya?" tanya Dewi balik. Ali pun hanya menganggukkan kepalanya, motor mulai melaju dengan perlahan. Pemandangan gunung dan sawah lagi-lagi terlihat nyaman ditambah udara sejuk di siang hari seperti ini.“Sebenernya aku sama dia udah lama lost contact sih, bahkan hampir semua sosmed udah saling blokir. Nggak tahu kenapa juga tadi dia nyamperin aku, kamu mau tahu dia nanya apa?"


Tanpa pikir panjang Ali langsung menganggukkan kepalanya, memang ini yang ingin dia tahu sedari tadi. "Kalo aku emang boleh tahu itu juga," jawab Ali.


"Tadi dia ngomong, kalau aja aku nggak cari masalah ke Lisa, pasti aku sama dia masih berhubungan baik dan bisa jadi temen, dia katanya nggak nyaman sama situasi yang kayak saling nggak kenal gini."


Dari kaca spion terlihat Dewi menggelengkan kepalanya, senyum kecil terlihat mulai mengembang. "Aku udah males kenal sama orang yang udah nyakitin aku, apalagi orangnya yang nggak pernah ngerasa kalau dia salah. Aku mau fokus aja sama masa sekarang dan masa depan, buat apa kenal lagi tapi malah ngebuka rasa sakit dan terus ingat masa lalu yang udah usai. Lagi pula sekarang aku punya kamu, aku nggak mau kamu salah paham."


"Bagus, aku setuju," jawab Ali sambil tersenyum. Bukannya ia mendukung sebuah permusuhan, tapi ada kalanya hati harus beristirahat dari rasa sakit.

__ADS_1


Bibir Dewi terlihat mencibir pelan, sedikit bersyukur ia tidak tergoyahkan akan masa lalu yang hadir kembali. "Jangan setuju doang dong, kasih kepastian juga sama hubungannya," ejek Dewi. Walaupun sudah tahu alasan Ali yang seperti itu, tetap saja rasanya ada yang mengganjal jika belum memiliki hubungan pasti.


"Ya udah deh kalo maksa. Akhir bulan ini aku mulai transfer gajian aku ya, kumpulin sampe 30 Oktober buat kita tunangan," jawab Ali membuat Dewi yang mendengarnya hal itu menatap tak percaya, jantungnya mendadak berdebar melebihi orang yang sedang jatuh cinta, apa ia baru saja di lamar?


Dewi berdecak pelan, ia memukul pelan bahu Ali. Pacaran saja tidak belum pasti, apalagi tunangan. "Ih yang serius dong Al," pekik Dewi.


"Seriusan Dew, aku nggak mau pacaran, ayo kita langsung tunangan aja."


**


Kalo kalian jadi Dewi gimana guysss😍 pasti seneng banget kan ya? jangan lupa like komen.

__ADS_1


__ADS_2