
Hari-hari berlalu dengan cepat, beberapa kali Ali mengantar dan menjemput Dewi ke kerjaan, namun sayang kedekatan mereka yang sudah diketahui banyak orang rupanya belum menemukan titik terang, sampai saat ini Ali belum juga mengungkapkan isi hatinya dan memperjelas hubungan mereka berdua. "Kalian pacaran ya?" pernah ada satu pertanyaan yang terlontar dari teman kerja mereka dan saat itu juga Dewi menanti jawaban yang akan diucapkan oleh Ali. Ia sudah lelah dilanda kebingungan tentang hubungan mereka, dikatakan jomblo tapi ada Ali yang selalu berada di dekatnya, mengajaknya berkeliling kota di saat libur ataupun ke wisata yang sedang Viral. Dikatakan memiliki pacar, namun ia belum mendengar secara langsung dan tidak berani juga untuk mengatakan dengan jelas jika Ali adalah pacarnya.
"Pacaran bisa putus, terus jadi musuh." Hanya itu yang dijawab Ali jika ada pertanyaan serupa yang terdengar.
Dewi menghembuskan nafasnya pelan saat melihat dirinya di kaca spion, kedua tangannya yang berada di dalam saku jaket Ali karena udara terlalu dingin dengan perlahan ia keluarkan dan mengambil ponsel dari dalam tas. Sebuah pesan masuk dari Ira, kakaknya Baskara. Dengan kening yang berkerut samar akhirnya Dewi membuka pesan tersebut dan melihat foto prewedding bersama kekasih yang sudah 4 tahun ini setia bersamanya. [Dewi, 2 bulan lagi aku nikah, kamu jadi pager ayu ya, mau nggak?]
"Dew, aman?" tanya Ali sambil melihat ke arah spion melihat Dewi yang sudah di tadi hanya diam sepanjang jalan pulang, Ali sebenarnya dari tadi ingin bertanya, namun ia ragu karena Dewi tampak sedang banyak pikiran dan seperti tidak ingin diganggu.
__ADS_1
Dewi dengan cepat memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, ia tidak bisa menjawab pesan itu sekarang, harus ada pertimbangan yang ia lakukan sebelum menyetujui permintaan tersebut. Sudah sejauh ini ia melangkah untuk melupakan Baskara, jika ia bersedia menjadi pagar ayu di pernikahan kakaknya itu artinya ia akan bertemu dengan Baskara untuk seharian itu. "Aman kok," jawab Dewi pada Ali.
"kalau ada apa-apa jangan sungkan ya buat cerita ke aku, walaupun nantinya aku nggak bisa ngebantu seenggaknya aku bisa sedikit kurangi beban pikiran kamu," ucap Ali.
Dewi menganggukkan kepalanya, ia kembali memasukkan tangannya ke dalam saku jaket Ali. "Al, aku boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Dewi dengan pelan, entah Ali akan mendengarnya atau tidak di saat keadaan jalan yang cukup ramai di malam Minggu ini.
Dewi terdiam sejenak, ia sedikit ragu apakah ia berani bertanya atau tidak di saat yang kurang tepat seperti ini. "Sebenernya hubungan kita apa sih?" tanya Dewi memberanikan dirinya.
__ADS_1
"Kamu maunya apa? kalo aku lebih nyaman hubungan tanpa status kayak gini dulu, kalau suatu saat nanti kita amit-amit berantem, nggak bisa ada kata putus dan setelah emosi reda kita tetep bisa bareng tanpa harus ada kata balikan yang sering banget susah buat di ucapin."
Dewi menganggukkan kepalanya bertanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ali. Jika dipikirkan lagi memang benar, namun namanya perempuan selalu ingin yang pasti dan tidak menggantung seperti ini. "Kalo aku mau kepastian gimana? tetep aja aku butuh hubungan yang jelas."
"Boleh, tapi enggak sekarang ya. Aku ada tanggal yang bagus buat resmi-in hubungannya," jawab Ali.
Tanpa sadar Dewi tersenyum mendengarnya, sudah bisa ditebak pasti Ali akan meresmikan hubungan mereka saat hari ulang tahun mereka yang sama. Tapi itu masih cukup lama! sekitar 4 bulan lagi hari ulang tahun mereka. "Ya udah aku ngikut aja," balas Dewi pada akhirnya, Ia memutuskan untuk tidak memperdebatkan masalah peresmian hubungan mereka yang terpenting adalah jika Ali tidak menganggapnya hanya sebatas teman.
__ADS_1