Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Dua Puluh Satu


__ADS_3

“Tak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk sekarang ini. Otopsi terhadap Odel dan Erik pun sampai saat ini tak menuntun kita pada info atau barang bukti terbaru dalam kasus ini,” ungkap Birdella sedikit kecewa ketika detektif Egan dan Keiko berada di ruang kerja miliknya sesaat setelah keduanya dihubungi oleh Birdella.


“Jadi bagaimana sekarang? Apa kita hanya bisa diam saja dan tak melakukan apa-apa?“ tanya detektif Egan.


“Mana bisa kayak gitu! Gue udah terlanjur punya janji pada diri gue sendiri dan pada bu Alana untuk menemukan siapa pelaku yang telah menghilangkan nyawa Diatmika,” protes detektif Keiko dengan nada suara meninggi.


“Kita bukan berhenti Kei, tetapi kita menunggu,” detektif Egan berusaha menenangkan rekannya.


"Lo harus tenang Kei. Gue juga akan terus berusaha mencari apa pun yang bisa gue temukan di tubuh Odel, Eeik dan juga Diatmika," Birdella menjanjikan untuk tidak berhenti dalam kasus yang kali ini terlihat gelap bagi mereka semua.


“Kita menunggu apa?“ tanya detektif Keiko merasa hatinya disergap rasa khawatir yang teramat sangat.


“Saat ini kita memang dihadapkan pada jalan buntu, namun kita akan terus berusaha mencari jalan yang lainnya. Kasus ini tak akan terhenti di sini dan gue mempertaruhkan pekerjaanku ini untuk bisa membantu lo buat nangkep siapa yang telah menghilangkan nyawa Diatmika,” balas detektif Egan dengan penuh semangat yang berkobar.


Setelah itu mendadak ruangan kerja Birdella sunyi. Detektif Keiko berjalan menuju jendela besar di salah satu sudut ruangan itu dan memandang ke langit luas yang hari ini terlihat begitu cerah namun tak memberi kesan yang menyenangkan bagi detektif Keiko. Hatinya sudah terlalu abu-abu sejak kmengetahui bahwa Diatmika, sehabat yang jadi adiknya itu sudah terbujur kaku, meregang nyawa dan hingga saat ini dia belum bisa mengetahui siapa yang melakukan hal itu pada Diatmika.


Antara rasa marah, sedih dan kecewa pada dirinya sendiri bercampur aduk memciptakan sebuah rasa yang sangat amat tidak nyaman bagi detektif Keiko akhir-akhir ini. Bahkan, langit cerah yang biasanya selalu dia nikmanti kali ini tak mampu membantu suasana hatinya kembali baik.

__ADS_1


Lalu imajinasi detektif Keiko kini melayang ke beberapa tahun lalu, ketika pertama kali dia bertemu dengan Diatmika, gadis manis yang baik dengan sebuah senyuman yang selalu terlukis nyata di wajah cantiknya.


Diatmika yang kala itu baru saja pindah ke rumah yang berada persis di sebelah rumah detektif Keiko. Diatmika bermain sendiri di halaman belakang rumahnya, memainkan sebuah boneka barbie cantik berambut hitam panjang dengan sebuah pita bermotif poladok merah muda, persis sekali seperti dirinya hari itu.


Saat itu detektif Keiko kecil baru saja pulang sekolah, dengan menenteng tas pundaknya di tangan kanan, detektif Keiko berusaha memasuki rumah lewat pintu samping, sebuah kebiasaan yang ternyata hingga hari ini masih dia lakukan setiap kali dia berkunjung ke rumah orang tuanya. Namun karena ternyata tak ada satu orang pun di dalam rumah, maka dia tetap tak bisa masuk ke dalan rumah dan memutuskan untuk menunggu keluarganya di halaman belakang rumahnya.


Saat dia putuskan untuk menunggu anggota keluarganya pulang itu, di sanalah untuk pertama kalinya detektif Keiko bertemu dengan Diatmika yang langsung melemparkan senyuman hangat padanya.


Lama juga mereka hanya terdiam dan melempar senyum hingga akhirnya Diatmika memberanikan diri menghampiri detektif Keiko yang sedang memainkan bola basket yang dibawanya ke sekolah tadi.


“Hai, aku Diatmika, bolehkan kita berkenalan!? Nama kamu siapa?“ ujar Diatmika sambil menyodorkan tangan kanannya ke arah Keiko dan sekali lagi melemparkan senyuman ke detektif Keiko.


“Betul banget. Aku dan keluargaku baru saja pindah dan menempati rumah ini,” jawab Diatmika sambil menunjuk ke arah rumahnya dan melemparkan senyuman lagi setelah kembali memutar tubuhnya kearah detektif Keiko.


“Oh begitu. Ini rumah aku, berarti kita tetangga ya sekarang!?” balas detektif Keiko yang akhirnya tertular kebiasaan Diatmika hanya dalam beberapa menit. Ya, kebiasaan tersenyum.


Sejak perkenalan singkat itu, detektif Keiko dan Diatmika menjadi semakin dekat dan sulit untuk dipisahkan satu sama lain. Terlebih setelah kejadian di hari yang terik setelah pulang sekolah itu. Kejadian dimana Diatmika yang berusaha mencari detektif Keiko untuk bisa pulang bersama justru dirundung oleh beberapa teman di lingkungan tempat tinggal mereka.

__ADS_1


Hampir saja Diatmika terkena pukul saat kemudian detektif Keiko datang untuk mencegah kejadian itu.


“Jangan ganggu adikku!“ teriak detektif Keiko dengan keras hingga membuat si pelaku pemukul itu menghentikan niatnya pada Diatmika.


“Adikmu? Sejak kapan kamu punya adik Kei?“ tanya anak itu dengan dahi yang dikerutkan.


“Sejak hari ini,” jawab detektif Keiko berbicara tegas sambil berdiri tegap dan mengepal kedua tangannya.


Mendengar perkataan dari detektif Keiko itu, Diatmika segera bergegas berlari menuju detektif Keiko dan bersembunyi di belakang tubuh detektif Keiko yang terlihat berusaha menahan amarah. Diatmika yang takut hanya bisa mengintip dari balik punggung detektif Keiko yang bergerak naik turun karena nafasnya yang berat.


“Jangan bercanda dong Kei,” ujar anak itu lagi kali ini mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.


“Siapa yang bercanda? Aku sedang tidak bercanda Roy. Mulai hari ini, Diatmika adalah adik aku dan siapa pun yang berani mengganggu Diatmika sama artinya kalian sedang mengganggu aku. Kalian tahu kan apa akibatnya jika menggangguku?!“ ujar detektif Keiko dengan lantang, mengangkat tangan kanannya yang sedang mengepal.


Mendengar perkataan detektif Keiko itu, satu persatu para pembully itu pun mundur meninggalkan tempat itu, menyisakan detektif Keiko dan Diatmika yang masih menangis terisak, mengeluarkan air matanya yang sedari tadi dia tahan saking takutnya.


“Diatmika! Mulai saat hari, mulai hari ini kamu ngga boleh takut lagi karena aku akan selalu ada di samping kamu dan akan melindungin kamu dari siapa pun yang mencoba untuk menyakiti kamu,” sebuah janji yang telah detektif Keiko buat dan selalu ditepatinya hingga akhirnya pada suatu hari, Diatmika dan bu Alana harus pergi meninggalkan rumahnya yang berada tepat di samping rumah detektif Keiko, rumah yang selama ini keluarga Diatmika tempati dan hingga saat dimana ibu Alana menghubunginya, detektif Keiko kehilangan kontak dengan mereka berdua.

__ADS_1


Hari ini, tanpa detektif Keiko sadari air matanya menetes membasahi pipinya begitu sadar bahwa dia tak mampu menepati janjinya itu kepada Diatmika untuk selalu menjaga Diatmika dari siapa pun yang akan mengganggu dan menyakitinya.


__ADS_2