Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

“Rasanya kita memang harus balik lagi ke galeri seni itu,” ujar detektif Egan mengurut keningnya yang terasa mulai sakit efek dari tidurnya yang kurang.


Detektif Keiko yang masih sibuk mengutak-atik layar komputernya taknmemberi respon sama sekali.


“Kei… lo denger gue ngga?“


Sebuah kepalan kertas berhasil mengalihkan perhatian dan fokus detektif Keiko dari layar komputernya.


“Hei!!!“


“Lo ngga denger gue?“ tanya detektif Egan agak kesal.


“Emangnya lo ngomong apa?“


Walau pun kini telinganya sudah mendengar namun mata detektif Keiko masih terpaku pada layar komputernya.


“Bagaimana menurut lo?“ tanya detektif Egan.


“Apanya?“


Detektif Egan bangun dari tempat duduknya, menghampiri detektif Keikk dan duduk di pinggir meja kerja detektif Keiko yang berhadapan dengan lorong antar meja para detektif.

__ADS_1


“Ayolah Kei, jangan cuma melihat ke arah layar komputer terus. Gimana kalau kita kembali ke galeri seni itu lagi hari ini?!“


“Gue setuju. Kapan kita ke galeri seni itu?“


“Bagaimana kalau kita ke sana sekarang?!“


“Kasih gue beberapa menit buat ngecek beberapa berkas kasus ini.“


“Oke!“


Detektif Egan berdiri dari duduknya di meja kerja detektif Keiko dan berjalan menjauh. Sebagian besar tubuhnya terasa sakit karena beberapa jam tidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman.


Tentu saja yang paling terasa sakit adalah leher dan kepalanya karena di tidur dengan posisi duduk dan kepalanya dia letakan di atas meja kerjanya yang berantakan, berserakan kumpulan berkas dari kasus ini.


“Kamu habis bergadang?“ pintu lift yang terbuka ternyata membawa pak Brox dadi lantai dasar.


“Selamat pagi pak,” ujar detektif Egan sambil membungkukan badannya sedikit.


“Iya pak. Semalam saya di sini berusaha mencari jawaban atas kasus Diatmika ini,” lanjut Egan.


“Apa Keiko itu lembur semalam?“

__ADS_1


“Sesuai instruksi bapak, saya menyuruhnya pulang dan beristirahat walau pun harus dengan paksaan tapi semalam dia ada di rumah beristirahat.“


“Bagus kalau begitu. Dia memang perlu beristirahat sebentar. Saya berharap kasus ini segera menemukan jawaban agar Keiko bisa lebih banyak beristirahat dan menenangkan dirinya,” ujar pak Brox yang tahu betul keadaan para bawahannya.


“Saya juga berharap hal yang sama pak. Kasihan Keiko, sejak kasus ini dimulai sepertinya bukan hanya fisiknya yang kelelahan tapi juga pikiran dan jiwanya.“


Detektif Egan menoleh ke arah meja detektif Keiko dimana rekannya itu masih sangat fokus dengan apa yang sedang dia kerjakan.


“Saya mau setelah kasus ini selesai, kalian berdua mengambil cuti agar bisa beristirahat. Karena saya tahu bukan hanya Keiko yang lelah dalam kasus ini, kamu juga,” ujarnpak Brox yang masih berdiri di depan pintu lift yang sudah tertutup.


“Tapi pak— “


“Tenang saja. Cuti kalo ini tidak akan memotng cuti tahunan kalian.“


“Wah kalau begitu terima kasih banyak pak.“ Sebuah senyuman kebahagiaan detektif Egan berkembang sempurna di wajah tampannya.


“Tapi cutinya jangan barengan. Nanti kalau saya ada perlu apa-apa jadi kesusahan.“


“Kan ada detektif lain pak.“


“Kamu tahu kan bahwa saya lebih suka menyusahkan kalian dari pada detektif yang lain,” ujar pak Brox sambil mengedipkan satu matanya lalu melangkah melewati detektif Egan dan berlalu menuju ruangannya.

__ADS_1


Saat pak Brox melewati meja kerja detektif Keiko, dia melemparkan senyuman hangat yang kemudian di balas hal yang sama oleh detektif Keiko.


Detektif Egan melanjutkan niatnya untuk membeli kopi di cafe yang terletak di lantai dasar gedung kantornya.


__ADS_2