
Sesuai dengan arahan dari Dalmar, detektif Egan dan Keiko kembali memndatangi galeri seni di bagian atas kota itu.
Kali ini mereka datang dengan persiapan yang sangat terencana, kedatangan mereka dengan dipersenjatai dengan surat perintah dati pak Brox untuk berjaga-jaga jika Gilen tetap tak ingin menemui mereka lagi.
“Selamat pagi, anda berdua datang lagi,” ujar resepsionis cantik yang biasa menemui mereka setiap kali kedua detektif datang ke galeri seni itu.
“Kamu ngga pernah libur?“ tanya detektif Egan, kaget bertemu dengan resepsionis itu lagi.
“Kemarin saya libur pak. Sepertinya kalian tidak datang,” ujar resepsionis itu melemparkan senyuman manisnya kepada detektif Egan.
“Betul. Kami kemarin tak datang ke sini,” kali ini detektif Keiko yamg menjawab pertanyaan resepsionis cantik itu.
“Apa hari ini pak Gilen tak pergi kemana-mana?“ tanya detektif Egan.
“Hari ini pak Gilen datang ke galeri pagi-pagi sekali bahkan sebelum saya datang dan sejak saat pak Gilen datang beliau belum keluar ruangan lagi,” resepsionis itu menjawab dengan sangat terperinci.
“Apakah hari ininpak Gilen bisa kami temui?“ tanya detektif Keiko.
“Saya harus menghubungi pak Gilen dulu untuk mendapatkan jawaban itu,” balas resepsionis itu.
“Silahkan saja,” balas detektif Egan.
Resepsionis itu mengangkat gagang telepon untuk menghubungi pak Gilen melalui interkom dan dengan wajah agak ketakutan dia menganggukan kepalanya berkali-kali diiringi dengan ucapan permohonan maaf.
Setelah resepsionis itu meletakan gagang telepon itu dia menghirup udara dalam-dalam lalu berkata, “Maaf, pak Gilen tak bisa ditemui. Anda berdua diminta untuk tidak menganggu pak Gilen saat ini.“
“Sudah gue juga akan kayak gini,” gerutu detektif Egan.
Detektif Keiko menerima isyarat dari detektif Egan dan mengerti maksud rekannya itu. Detektif Keiko berjalan mengekor, tepat di belakang rekannya yang berjalan bak cowboy.
“Pak, bu anda tak bisa ke sana,” teriak resepsionis cantik itu panik
Namun baik detektif Egan maupun detektif Keiko sama sekal tak menghiraukan teriakannya itu. Mereka tetap berjalan lurus menuju ruangan Gilen.
__ADS_1
Resepsionis cantik itu berlari ke arah ke kedua detektif itu sambil meminta para penjaga untuk mencegah detektif Egan dan Keiko meringsak masuk ke dalam ruangan Gilen. Namun tentu bukan detektif Egan bila langkahnya bisa ditahan oleh seseorang hingga akhirnya kedua detektif itu membuka paksa pintu ruangan Gilen dan kini sudah ada di hadapan Gilen.
Gilen yang tengah duduk di balik meja kerjanya terlihat tetap tenang membaca tiap kata di dalam surat-surat perjanjian yang ada di atas meja kerjanya.
Tak sekali pun Gilen mengalihkan pandangannya dari surat-surat tersebut walau kegaduhan telah terjadi tepat di ambang pintu ruangannya hingga dia menyelesaikan pembubuhan tanda tangan di surat tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu?“ tanya Gilen yang akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah detektif Egan dan Keiko.
“Maaf pak. Tadi saya sudah melarang mereka masuk dan berusaha menahan mereka,” ucap resepsionis itu tengan nada bergetar.
“Sepertinya ada hal yang amat penting hingga anda berdua tak bisa menunggu hingga saya menyelesaikan pekerjaan saya yang seharusnya tanpa gangguan,” ujar Gilen dingin.
“Tentu saja ini pentik pak Gilen, andai tak penting kami tak akan memaksa masuk ke dalam ruangan anda yang mewah ini,” sindir detektif Egan.
“Patut anda ketahui detektif Egan, saya tadi memarahi dan memaki resepsionis saya yang cantik itu padahal dia tak melakukan kesalahan apapun kecuali memelepon saya dan menyampaikan pesan anda kepada saya. Apakah marah saya kepada resepsionis saya itu tak menggugah rasa iba anda terhadapnya?“ tanya Gilen.
“Tentu saja saya merasa iba padanya tapi saya juga iba pada seorang wanita bernama Diatmika yang kini sudah terbujur kaku dan kehilangan nyawanya,” pertanyaan itu dijawab oleh detektif Keiko.
“Apakah berita ini mengejutkan untuk anda pak Gilen?“ detektif Keiko menaikan satu sisi bibirnya seolah tak percaya pada apa yang dikatakan oleh Gilen.
“Tentu saja ini mengejutkanku, bukankah beberapa minggu lalu kalian datang berempat menanyakan keberadaan Diatmika, kenapa hari ini justru berbeda lagi kondisinya?“ Gilen menggigit bibir bawahnya.
“Bagaimana jika saya katakan bahwa tamu rutin anda, Odel juga sudah tak bernyawa lag?“ pancing detektif Egan.
Kali ini wajah Gilen terlihat ketakutan, matanya membuka lebar dan alisnya berkerut.
“Kapan tepatnya Odel meninggal?“
“Beberapa hari sebelum anda dan Dalmar meninggalkan negara ini untuk pergi ke Kuba,” jawab detektif Keiko.
“Kami berpikir mungkin anda dan Dalmar pergi ke Kuba untuk melarikan diri atau paling tidak membuang barang bukti di sana,” sekali lagi detektif Egan berusaha memancing Gilen bersuara.
“Apakah kamu gila?! Berani sekali kau menuduhan hal itu kepada aku.“
__ADS_1
Kali ini Gilen berdiri dengan kedua tangan mengepal di sampingnya.
“Apapun bisa terjadi bukan pak Gilen yang terhormat,” detektif Egan berusaha mengintimidasi Gilen.
“Jadi selama ini kalian mencurigai saya sebagai pelaku penghilangan nyawa Diatmika dan Odel?“ sentak Gilen merasa dipojokan.
“Dan satu orang lagi, Erik,” detektif Keiko tak memberi ampun.
“Erik? Siapa itu Erik?“ tanya Gilen dengan raut wajah bingung.
“Jangan berpura-pura lagi pak Gilen yang terhormat. Mana mungkin anda tak mengenal siapa itu Erik,” ujar detektif Egan.
Diantara keributan yang terjadi diantara detektif Egan dan Keiko serta Gilen, tiba-tiba saja Dalmar masuk mengintupsi perdebatan mereka bertiga.
“Kenapa kalian berdua ada di sini?“ tanya Dalamr pada kedua detektif.
“Kami ada urusan dengan bos anda,” jawab detektif Egan.
“Bukankah kalian sudah dilarang masuk ke ruangan pan Gilen?“ tanya Dalmar dengan nada berat dan tegas.
“Bukankah anda yang mengatakan bahwa kami bisa ke sini lagi dalam waktu dua tiga hari,” timpal detektif Keiko.
Mendengar itu, Dalmar justru semakin marah dan berkata, “Apa yang harus saya lakukan pak? Haruskah saya seret mereka berdua keluar dari sini?“
Tentu saja detektif Keiko dan Egan tak gentar kali ini apalagi mereka kini memiliki surat perintah yang membuat mereka bisa memaksa untuk menanyai Gilen.
“Jangankan hanya surat perintah dari atasan kalian, bahkan surat dari presiden pun tak akan membuat saya mengurungkan niat saya melepar kakian berdua dari sini jika pak Gilen memerintahkannya,” balas Dalmar dengan penuh percaya diri.
Gilen yang masih berdiri dengan amarah yang masih menguasai sebagian besar tubuhnya akhirnya memutuskan untuk merilekskan tubuhnya. Dia menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi kerjanya yang empuk dan melipat kedua tangannya tepat di sepan bihirnya.
“Bagaimana pak? Apa yahg harus saya lakukan?“ tanya Dalmar lagi.
“Saya tak perduli dengan apa yang sedang terjadi, siapa saja yang meninggal dan apa yang mungkin akan terjadi. Saya hanya ingin kalian berdua keluar dari ruangan saya, baik keluar dengan cara baik-baik atau Dalmar mendang kalian dari sini,” ujar Bilen dengan nada dingin dan angkuh.
__ADS_1