
Birdella mengalihkan pandangannya dari jasad Odel ke jasad Erik dan berkata, “Mungkin Odel melakukan segala hal ini kerana alasan lain.“
“Maksud anda bagaimana prof?“
Birdella melangkahkan kakinya, meninggalkan jasad Odel dan menghampiri jasad Erik yang terbaring di sebelah jasad Odel.
Birdella menyelakan lampu operasi yang berada di atas jasad Erik dan mulai memeriksa kembali jasad Erik yang ada di hadapannya.
“Bagaimana jika alasan Odel melakukan semua hal itu adalah demi keponakanya ini!?“
“Demi Erik?“
“Iya, demi Erik.“
“Erik bukan keponakan dari Odel,” tiba-tiba detektif Keiko meyela obrolan antara Birdella dan Aris di riang otopsi itu.
“Bagaimana maksud kamu, Kei?“ tanya Aris kebingungan.
Detektif Keiko dan Egan datang tanpa pemberitahuan setelah mereka melakukan beberapa riset dan pencarian di data base milik negara.
“Setelah kami cari tahu, ternyata Erik bukan keponakan dari Odel melainkan Erik adalah anaknya,” detektif Egan membantu detektif Keiko menjawab pertanyaan dari Aris itu.
“Erik anak dari Odel?!“ Birdella ikut dalam lingkaran kebingungan ini.
“Iya. Dulu, saat Erik masih kecil Odel memberikan Erik kepada kakak perempuannya yang memang sudah lama tidak memiliki anak dan sangat mendambakan kehadiran seotang anak untuk diasuh olehnya, karena Odel pada saat itu kehilangan istrinya karena kanker,” ujar detektif Keiko berusaha memperjelas kondisi antara Odel dan Erik.
“Odel ingin membalas rasa bersalahnya pada Erik dengan cara memasukan Erik ke negara ini. Dan saat itu dia memerlukan uang yang banyak dan karena bisnis narkobanya sudah tak lagi bisa dia jalankan maka dia beralih ke penjualan organ dalam tubuh manusia di pasar gelap. Seperti yang kita ketahui kemarin,” detektif Egan menjelaskan.
__ADS_1
“Situasi yang tak akan pernah bisa kita mengerti,” ujar Aris.
“Betul sekali,” timpal detektif Egan.
“Makanya untuk bertahan hidup di negara ini, Erik dan Odel melakukan pemalsuan lukisan dari pelukis-pelukis terkenal!?“ ujar Birdella.
“Beberapa saat lalu, gue dan Egan pergi menemui Citra, istri Erik dan banyak bertanya pada Citra soal Erik dan Odel.“
“Saat kami menyampaikan fakta tentang Odel yang merupakan ayah dari Erik, reaksi Citra sama kagetnya dengan kalian sekarang ini. Citra tak pernah menyangka bahwa Odel sebenarnya adalah ayah dari Erik,” sambung detektif Egan.
“Dan akhir-akhir ini Erik dan Citra sedang membutuhkan banyak uang untuk biaya bayi tabung demi mendapatkan anak yang selama ini mereka harapkan kehadirannya di tengah mereka,” lanjut detektif Keiko.
“Erik menceritakan kegundahan hatinya itu pada Odel dan Odel berjanji akan memberikan jalan keluar pada Erik. Dan beberapa hari kemudian Odel yang mengetahui bahwa Erik adalah pelukis yang mahir dia mengatakan bahwa dengan memalsukan lukisan, mereka akan mendapatkan uang yang banyak, bahkan lebih dari untuk melakukan proses bayi tabung,” cerita detektif Egan.
“Jadi Erik melakukan pemalsuan lukisan itu memang untuk dirinya sendiri?“ tanya Aris.
“Apakah orang itu adalah Gilen?“ tanya Birdella.
“Itu adalah pertanyaan yang belum kami temukan jawabannya. Namun memang Odel beberapa kali pergi ke galeri seni itu bisa jadi dia ke sana untuk mengantarkan lukisan pesanannya itu kepada Gilen atau hanya berusaha menawarkan kerjasama menjual lukisan palsu itu di galeri seni yang berada di bawah tanggung jawab Gilen itu,” jawab detektif Egan.
“Tapi tentu saja kita tak bisa mengeyampingkan Gilen dari daftar tersangka dalam kasus ini,” ujar detektif Keiko masih bersikukuh dengan nalurinya sejak awal.
“Bahkan Gilen harus tetap berada di urutan nomer satu dalam daftar itu,” sambung Birdella.
“Dasar perempuan,” gumam Aris.
“Padahal lo itu polisi Kei, mana boleh lo campur adukan urusan pribadi lo dengan kasus yang lagi kita kerjakan,” ujar detektif Egan berusaha mengembalikan cara berpikir rekannya.
__ADS_1
“Bukankah sejak awal kasus ini memang menyangkut urusan pribadi gue?!“ ujar detektif Keiko.
“Betul tapi lo harus tetap bisa berpikir jernih dan tak hanya memfokuskan diri lo pada Gilen,” detektif Egan masih terus berusaha rekannya dengan apa yang harus mereka lakukan untuk kasus ini.
Dan pada akhirnya Detektif Keiko memilih untuk mengalah di perdebatannya dengan detektif Egan dan membungkam mulutnya sendiri agar tak semakin ramai.
Birdella pun bersikap pura-pura tak mendengar keributan kedua sahabat detektifnya itu dan memilih untuk kembali fokus memeriksa jasad Erik yang tengah berbaring di atas meja otopsi tepat di hadapannya saat ini.
Birdella membalik jasad Erik itu dengan sedikit usaha karena jasad Erik yang lumayan berat dan berusaha mencari sesuatu yang mungkin pernah dia lewatkan di pemeriksaan pertamanya. Semisal luka atau lebam yang mungkin kini terlihat lebih jelas ketimbang saat ini.
Hanya ada satu buah tembakan yang mengenai tubuh Erik dan peluru itu bersarang di tubunya, peluru yang sama yang pada akhirnya juga mengakhiri hidup Odel dan Diatmika.
Dilihat dari posisi arah datang peluru, sepertinya Erik ditembak saat dia membelakangi pelaku. Entah dia yang lebih dahulu dihabisi oleh sang pelaku atau justru Erik berusaha melarikan diri ketika dia mengetahui bahwa sang pelaku tengah melakukan sesuatu pada Odel.
Satu kali tembakan di titik yang sangat fatal itu membuat Erik bahkan langsung kehilangan nyawanya tanpa memberi kesempatan untuk bisa berusaha menyelamatkan dirinya dari sang pelaku.
Dan dari sini juga Birdella mencoba menarik kesimpulan bahwa Erik bukan tipe orang yang pernah berurusan dengan hal kriminal macam ini, mungkin ini kali adalah kali pertama sekaligus kali terakhir bagi Erik berurusan dengan hal kriminal macam ini.
“Bagaimana del? Ada hal baru yang lo dapat?“ tanya detektif Keiko.
“Gue merasa Erik dan Citra adalah korban lain selain Ditamika.“
“Kita memang ngga pernah masukin mereka berdua dalam daftar tersangka dalam kasus ini, tapi jika kita menggunakan pasal lain yaitu pasal pemalsuan Erik juga bisa saja terjerat dalam suatu kasus.“
“Mereka hanya berharap memiliki masa depan dan kehidupan yang jauh lebih layak di negara ini tapi ternyata justru masuk ke dalam kehidupan kelam yang lain,” Birdella memandang penuh nanar ke arah jasad Erik yang terbujur kaku.
“Aku juga melihat Citra yang tak hanya kehilangan Erik namun juga seperti kehilangan sebelah jiwanya. Walau Citra lahir dan besar di negara ini tapi jelas terlihat dari mata dan wajahnya bahwa Erik adalah kehidupannya yang baru setelah kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun lalu,” wajah detektif Keiko menunduk menatap lantai ruang otopsi namun pikirannya berjalan menuju ke Citra seolah ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Citra saat mereka berbincang beberapa saat lalu.
__ADS_1