
Setelah mengetahui bahwa Gilen sedang tidak ada di galeri seni itu, kedua detejtif bergegas keluar dan detektif Egan berencana mengejar Gilen yang sedang berada di bandara .
Menurut Dalmar yang bercerita di dalam ruangan Gilen, pimpinannya itu sedang dalam perjalanan untuk pergi ke luar negri, Itali tepatnya untuk mem
merikasa beberapa karya seni yang akan mengisi beberapa spot kosong di galeri seni yang berada di bawah tanggung jawab Gilen.
“Kenapa Gilen masih berani buat keluar negri?!“ gerutu detektif Keiko.
“Gilen memang belum kita tetapkan sebagai tersangka secara hukum jadi dia masih bebas melakukan apapun yang mau dia lakukan,” jawab detektif Egan berusaha menyadarkan rekannya tentang kenyataan yang ada.
Rasa kesal detektif Keik semankin menjadi ketika mobil yang mereka naiki berhenti di tengah kemacetan yang pada akhirnya menahan pergerakan mereka menuju bandara.
“Sial! Ada apa ini, kenapa tiba-tiba macet,” gerutu detektif Egan.
Detektif Keiko berusaha menghubungi salah satu temannya di divisiblalu kintas guna mengetahui apa yang sedang mereka hadapi kali ini.
“Bagaimana?“ tanya detektif Egan begitu detektif Keiko memutus hubungan telepon dengan temannya.
“Ada kecelakaaan di depan.“
__ADS_1
“Waduh, jadi gimana nih?!“ detektif Egan mulai risau.
“Sabar. Divisi lalu lintas sedang mengatur semua. Di depan sana sudah mulai normal lagi jalanannya.” detektif Keiko berusaha menenangkan rekannya yang sedang gusar.
Benar saja, dalam kurung waktu kurang dari sepuluh menit, mobil yang dikendarai oleh detektif Egan sudah mulai bergerak kembali.
Jalan raya itu sudah tak lagi macet dan kendraan sudah mulai menjauh satu sama lain.
Detektif Keiko menurunkan jendela mobil dan melambaikan tangannya ketika dia melihat temannya dari divisi lalu lintas berada di sisi jalan masih mengatur laju kendaraan. Temannya pun menyambut lambaian tangan itu dan melempar senyuman ramah.
Setelah melewati para polisi lalu lintas itu, detektif Egan langsung mrnginjar jas mobil dan memacunya hingga kecepatan maksimal yang diperbolehkan oleh aturan berlalu lintas. Detektif Keiko hanya bisa diam melihat rekannya itu mengemudikan mobil yang sedang mereka tumpangi.
Seorang polisi menghampiri mereka, berusaha menahan laju mereka karena mereka memarkir mobil di tempat khusus.
Tanpa banyak basa-basi detektif Egan mengeluarkan lencananya dan menunjukan pada polisi itu.
“Kami dalam misi pengejaran!“ ujar detektif Egan.
Polisi itu pun langsung berdiri dalam sikap sempurna dan memberikan jalan kepada detektif Egan dan Keiko.
__ADS_1
Kedua detektif menambah lagi kecepatan lari mereka masih berharap bisa beryemu dengan Gilen di bandara.
Detektif Keiko berhenti sejenak untuk melihat ke arah papan pengumuman jadwal keberangkatan pesawat untuk mengetahui dimana letak pesawat yang menuju Itali guna menemukan di gate berapa keberadaan Gilen.
“Gate lima!“ teriak detektif Keiko.
Mendengar info itu dari rekannya, detektif Egan berlari menuju gate yang dikatakan oleh detektif Keiko.
Detektif Keiko pun berlari tepat di belakang detektif Egan, memacu larinya agar bisa sejajar dengan detektif Egan.
Dari arah mereka, mereka sudah dapat melihat gate lima tempat pesawat yang menuju Itali terparkir.
Namun dari jendela kaca besar di sisi bandara mereka bisa melihat pesawat besar tengah bergerak menuju ke lintasan take off.
Detektuf Egan yang berkalri terlebih dahulu melihat bahwa pintu menuju garbarata sudah tertutup.
“Pesawat menuju Itali sudah berangkat pak,” ujar seorang pramugari yang maish berdiri di sebelah pintu itu dengan senyuman ramah namun penuh rasa khawatir.
Detektif Egan merasa sangat kesal karena hanya sepersekian detik hingga akhirnya dia ketinggalan pesawat itu.
__ADS_1
Detektif Keiko bahkan terduduk lemas melihat pesawat itu sudah tinggal landas menujuvlangit membawa Gilen di dalamnya.