
Setelelah kedua detektif itu berhasil membujuk Sarah hntuk duduk kemudian detektif Keiko membuka amplop coklat itu dan menemukan setumbuk berkas yang berhughngan dengan kasus kematian Diatmika, Odel dan Erik.
Lembaran foto dari Diatmika, Odel dan Erik di hamparkan di atas meja di hadapan Sarah oleh detektif Keiko. Namun Sarah tidak memberikan reaksi apa pun saat melihat ketiga goto di hadapannya.
“Apa yang anda harapkan dengan memperlihatkan ini semua kepada saya?“ tanya Sarah sambil memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“Saya ingin tahu apakah kamu benar-benar tak mengetahui apa yang terjadi pada mereka bertiga?“ tanya detektif Keiko.
“Saya tidak tahu!“ pekik Sarah dan membuang muka.
“Apa anda ingin kami menjadi pribadi yang lain!?“ tekan deketif Egan mengambil alih wwancara investigasi dalam ruangan interogasi.
“Saya ini adalah orang yang membantu kalian di dalam galeri seni Gilen, kenapa sekarang aku adalah orang yang harus dicurigai?“ lirih Sarah.
“Apakah itu adalah sebuah alasan terpasti untuk kami buat tidak mencurigai anda?“ decak detektif Egan yang berusaha untuk tetap objektif.
Sarah memaingkan lagi wajahnya, melipat kedua tangannya di dada dan mencucutkan bibirnya.
__ADS_1
“Apa yang menjadi alasanmu membunuh Odel? Apa kamu sebagai kurator tidak suka jika sebuah karya seni di palsukan? Tapi laki-laki ini, Odel justru menjual lukisan palsu!?“ cecar detektif Egan.
“Saya tidak membunuh laki-laki itu,” jawab Sarah.
“Atau kamu merasa bahwa Erik-lah yang harus kamu habisi karena telah membuat karya seni palsu? Tapi saat itu ternyata Odel ada di sana jadi mau tak mau kamu juga melenyapkan Odel?“ tekan detektif Egan.
“Sudah saya katakan saya tidak membunuh mereka!“ jerit Sarah dengan wajah penuh emosi. Tak hanya wajahnya bahkan kedua matanya kini memerah.
“Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Ceritkan kepada kami?“ tuntun detektif Egan.
Sarah kini menundukan kepalanya serta memainkan jari jemarinya di bawah meja. Matanya berkali-laki bergerak ke kiri dan ke kanan, dia berusaha keras berpikir untuk menjawab pertanyaan dari detektif Egan.
Dengan sadar, Sarah berusaha menyusun jawaban agar semua yang dia ucapkan tidak mempersulit dirinya sendiri.
“Harus sampai kami menunggu?!“ hardik detektif Egan membuat Sarah terkejut dan hampir melompat dari duduknya.
Namun begitu Sarah tetap memilih untuk diam dan sikap Sarah yang ini membuat detektif Egan mulai kehabisan stok kesabarannya. Detektif Egan bangkit dari duduknya dan membanting map yang berisi setumpuk berkas kasus ini ke atas meja diantara dia, detektif Keiko dan Sarah.
__ADS_1
Kemudian detektif Egan berjalan menuju pintu keluar dan memegang handle pintu dan memutar lehernya danberkata, “Gue capek, Kei. Gue perlu kopi dulu buat balikin suasana hati gue.“
“Baik! Biar gue aja yang nemenin Sarah di sini,” sahut detektif Keiko.
“Ngga usah lo ajak ngobrol, percuma!“ tukas detektif Egan.
“Sudah sana, katanya lo perlu kopi,” balas detektif Keiko.
“Lo mau, Kei?“
“Nggga usah!“
Begitu detektif Egan keluar dan pintu ruang interogasi sudah tertutup lagi detektif Keiko yang masih terduduk mendondongkan tubuhnya ke arah Sarah.
“Sekarang hanya tinggal ada kita berdua di ruangan ini, kamu bisa ceritakan kepada saya apa yang sebenarnya terjadi kepada Diatmika, Odel dan Erik,” bisik detektif Keiko.
Sarah yang ada di sebrang detektif Keiko kembali memainkan jari jemarinya sambil sesekali mengintip wajah detektif Keiko yang memasang senyuman di wajahny
__ADS_1