
Sinar matahari yang masuk melalui jendela yang tak tertutup gorden memaksa kedua mata detektif Keiko terbuka karena silaunya.
Tanpa detektif Keiko sadari, malam tadi diabtertidur di atas sofa empuknya dalam balutan selimut hangatnya. Namun pagi ini balutan selimut itu membuatnya sedikit kegerahan.
Detektif Keiko menyingkap selimut itu dari tubuhnya dan berjuang bangkit dari pelukan sof nyamannya. Dia rentangkan kedua tangannya dan menggeliatkan tubuhnya yang cukup kaku karena semalamam tidur dengan posisi yang tak biasa.
Detekrif Keiko memeriksa isi dalam gelasnya yang ternyata sudah kosong setengahnya. Diraihnya gelas itu dan dia berjalan menuju dapur yang jaraknya hanya beberapa langkah dari tempatnya tertidur semalam.
Gelas yahg dibawanya tadi dia letakan di dalam wastafel, tempat mencuci piring. Kemudian dia ambil gelas baru, meletakkannya di samping sebuah mesin pembuat kopi hadiah dari Birdella beberapa minggu lalu, sebuah hadiah paling bermanfaat yang pernah detektif Keiko terima selama beberapa tahun terakhir.
Kopi Toraja hadiah dari teman sekolahnya sebagai oleh-oleh travelling juga menjadi hadiah kesukaannya. Pagi ini pun kopi itu yang menjadi diputuskan detektif untuk memulai harinya.
Sambil menunggu kopinya jadi, detektif Keiko memutuskan untuk mandi agar kesegaran segera menyelimuti tubuhnya serta memompa semangatnya.
Keluar dari kamar mandi, semerbak kopi toraja sudah memrnuhi seisi ruangan. Namun begitu detektif Keiko memutuskan untuk mengenakan pakaiannya dahulu sebelum akhirnya menuangkan kopi itu ke dalam gelas baru.
Saat kopi itu dituangkan ke dalam gelas semerbak semakin menjadi-jadi membuat otot-otot tubuh detektif Keiko mengendur dengan sendirinya. Dua sendok gula dan dua sendok kreamer ditambahkan ke dalam gelas berisi kopi itu dan setelah diaduk hingga bercampur sempurna detektif Keiko pun meneguk pelan kopi itu.
Detektif Keiko melangkan menuju jendela besar di ruangan nonton tv sambil membawa gelas berisi kopi tersebut. Dia berdiri tepat di depan jendela tersebut dan memandangi sisa tetes air hujan yang masih tertinggal di daun-daun di luar sana.
Sebuah pohon bunga aster yang dia beli saat berlibur sebulan lalu kijinjustru mekar dengan sempurna menambah ketenangan hati detektif Keiko. Sebuah senyuman terukir di wajah detektif Keiko yang manis.
DEERRTTT
__ADS_1
DEERRTTT
DEEERRTT
Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel detektif Keiko yang tergeletak di atas meja yang berada di meja dapurnya.
Dengan lambat detektif Keiko berjalan menuju dapur dan meraih ponselnya yang masih bergerak karena getaran.
“Dengan detektif Keiko di sini,” ujarnya membuka pembicaraan.
“Lo dimana?“ tanya Birdella dengan nada khawatir yang kentara sekali.
“Gue ada di rumah. Kenapa?“ tanya detektif Keiko santai sambil menyeruput kopinya.
“Dari semalam gue di rumah. Kenapa?“ detektif Keiko mengulang pertanyaannya.
“Semalaman gue berusaha menghubungin lo tapi ngga sekali pun lo terima. Bikin panik aja,” gerutu Birdella.
“Maaf del. Semalam gue ketiduran, hp juga gue silent jadi ngga kedengeran,” detektif Keiko berusaha memberi penjelasan.
“Besok-besok jangan gini lagi ah, gue semalaman ngga tidur nih gara-gara khawatir lo ngga bisa dihubungin.“
“Iya, maaf. Lagian biasanya lo langsung ke rumah buat ngecek gue.“
__ADS_1
“Waktu gue balik dari kantor si Egan bilang lo nunggu gue di lobby buat pergi keluar bareng tapi pas gue udah sampe lobby lo ngga ada. Gue teleponin lo tapi ngga lo terima sama sekali. Gue udah keburu panik jadi buntu otak gue,” balas Birdella.
“Ya udah, lo istirahat deh sekarang del. Tidur dulu baru ke kantor,” detektof Keiko memberi saran.
“Iya, kayaknya gue butuh tidur. Nanti kalau perlu apa-apa lo ke Aris dulu ya. Gue udah kasih dia kartu akses terbatas ke ruangan gue,” ujar Birdella memberi tahu.
“Oke. Selamat tidur ya.“
Setelah menutup pembicaraan dengan Birdella, detektif Keiko berusaha mengecek ponselnya dan benar saja, ada hampir seratus panggilan tak terjawab sebagian besarnya dari Birdella dan sebagian lainnya dari detektif Egan.
“Halo gan, ini gue.“
“Lo dimana?“ Suara Egan pun tersengar khawatir.
“Dari semalam guendi rumah, ketiduran dan hp gue silent. Gue baik-baik aja.“
“Syukurlah kalah begitu. Gue pikir lo kenapa-kenapa soalnya Birdella—”
“Iya tadi dia udah telepon gue. Gimana perkembangan kasus kita?“
“Lo udah cukup istirahat?“
“Udah sangat cukup banget.“
__ADS_1
“Ya udah kalau gitu lo ke sini deh.“