Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Tiga puluh Delapan


__ADS_3

Sinar matahari langsung mengigit kulit detektif Egan dan Keiko tekita mereka baru saja keluar dari gedung kantor.


Tak seperti hari yang lain, hari ini detektif Keiko meminta salah satu anggota polisi untuk memarkirkan mobil patroli miliknya untuk diparkir di depan lobbi gedung.


Detektif Egan memeriksa jam tangannya dan menemukan bahwa sekarng sudah pulu dua belas lewat lima belas menit.


“Sudah waktunya makan siang,” gumamnya sembari menurunkan lengannya.


“Lo masih lapar setelah minum es kopi latte dan waffle sebesar itu,” ujar detektif Keiko dengan nada yang dibuat-buat dan berekspresi dengan membulatkan kedua matanya.


“Ckckck… apalah artinya sepitobg waffel sekecil itu Kei.“


“Kecil kata lo?“ protes detektif Keiko mendengar ucapan rekannya yang sekarang sedang berjalan ke sisi lain mobil.


“Kalau menurut lo itu besar, silahkan saja. Tapi buat gue emang ukuran itu ngga bisa mengisi lambung gue sepenuhnya.“


“Wait, ini gue yang nyetir?“ tanya detektif Keiko begitu menyadari bahwa posisinya berdiri persis di sisi luar pengendara.

__ADS_1


“Apa salahnya?! Lo juga biasanya ngga masalah kalau nyetir.“


“Ya terserah lo aja sih.“


“Cepet buka pintunya, udah panas banget ini,” gerutu deyektif Egan sambil menghalau silaunya sinar matahari yang masuk ke matanya dengan kedua telapak tangannya.


Sambil tertawa kecil detektif Keiko memencet remote kunci mobil itu, sengaja membiarkan rekannya itu kepanasan di bawah sinar matahari di tengah hari ini.


Begitu alarm tanda pintu mobil terbuka sudah berbunyi, dengan cepat detektif Egan segera membuka pintu itu lalu masuk ke dalam mobil. Namun detektif Keiko masih ingin mengerjai detektif Egan dengan bergerak lambat masuk ke dalam mobil.


“Apa lagi yang lo tunggu?“ protes detektif Egan saat melihat rekannya sudah masuk ke dalam mobil.


“Mesin mobilnya!“ gumam detektif Egan merasa kesal.


“Mesin mobilnya kenapa?“ tanya detektif Keiko.


“Nyalahiiiinnn… cepet nyalahin juga ACnya Kei. Ini panas banget lho,” rengek detektif Egan seperti anak kecil yang meminta permen ke ibunya.

__ADS_1


“Oh iya, iya,” balas detektif Keiko lalu tak bisa menahan lagi tawanya yang seketika meledak.


Detektif Egan pun merasa kesal mendengar tawa rekannya, “Jadi dari tadi lo ngerjain gue?“


Tawa detektif Keiko meledak saat mendengar keluhan dan melihat ekspresi rekannya itu. Lalu dia pun segera menyalahakan mesin mobil disusul menyalakan AC mobil.


Tak butuh waktu yang lama hingga akhirnya sebuah senyuman tergambar jelas di wajah detektif Egan bertanda kinj dia sudah merasa nyaman.


“Gimana, udah dingin?“ tanya detektif Keiko setengah meledek.


Namun detektif Egan terlihat tak perduli sama sekali dengan ledekan rekan yang duduk di sebelahnya, “AC di tengah hari yang panas kauak gini adalah sebuankenikmatan yang sangat.“


“Jadi, perut lo masih lapar?“ tanya detektif Keiko.


“Karena lo menyinggung soal itu, gue jadi inget kalau gue lapar,” jawab detektif Egan yang memejangkan matanya menikmati hembusan angin dari AC mobil.


“Kalau gitu sebagai permintaan maaf, gue traktir lo dulu makan sebelum kita ke galeri seni Gilen,” ucap detektif Keiko sambil membenarkan posisi kaca yang berada di tengah.

__ADS_1


Detektif Egan segera membuka kedua matanya dan menegakkan posisi duduknya. Dengan mata yang berkac-kaca dan senyum yang semakin lebar dia pun berkata, “Bener ngga nih?“


__ADS_2