
Setelah selesai dengan jasad Odel dan Erik, kini Birdella kembali melangkah, bergeser menuju jasad terakhir di ruangan itu yang terbaring kaku di atas meja otopsi yang dingin.
Birdella menyalakan lampu operasi yang ketiga, sinarnya yang begitu terang langsung menyorot ke jasad Diatmika.
Lalu kemudian detektif Keiko pun akhirnya ikut mendekat ke jasad Diatmika. Tangannya terasa terdorong untuk mengulas wajah Diatmika yang walau pun sudah termumifikasi secara alami namun masih nampak cantik itu, dengan kedua tangannya. Tanpa detektif Keiko sadari sebutir air mata jatuh meluncur menuju pipi kanannya namun dengan cepat detektif Keiko menyekanya.
Birdella yang sejak awal memang sudah memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu pun segera mengambil sebuah inisiatif untuk mendekat dan memberikan beberapa lembar tisue kepada detektif Keiko.
“Jangan menangis terus, Kei. Melihat lo kayak gini bikin hati gue sakit.“
Detektif Keiko mengangkat wajahnya sambil menerima tisue dari Birdella dan mengusap bersih air mata yang sudah terlanjur jatuh.
__ADS_1
“Terima kasih, del.“ Seutas senyuman terlukis jelas di wajahnya yang masih terlihat sendu.
Detektif Egan pun menghampiri rekannya itu dan menepuk lembut pundak detektif Keiko seraya berusaha menenangkan rekannya yang sejak tadi tanpa basa-basi memperlihatkan kesedihannya yang mendalam.
Kekalutan hati dan kesedihan yang kini hadir tak hanya menjadi milik detektif Keiko seorang tapi juga kedua sahabatnya, detektif Egan dan Birdella. Bahkan Aris yang notabennya baru saja dekat dengan mereka pun bisa ikut merasakan atmosfir kesedihan yang belum juga kunjung selesai.
sebuah atmosfir yang membuat mereka ssmua merasa tidak nyaman dan ingin segera menyelesaikan semua rasa itu secepatnya.
Bukan tanpa alasan detektif Egan mengatakan hal itu. Dia bukan ingin menekan detektif Keiko atau bahkan memojokannya hanya saja dia ingin rekannya itu kembali bersemangat seperti semula, keluar dari lubang kesedihan dan keterpurukannya walau pun hanya sebentar untuk bisa kembali fokus pada proses penyelesaian kasus yang juga melibatkan Diatmika di dalamnya sebagai korban yang paling awal muncul.
“Bagaimana dengan jasad Diatmika?“ tanya detektif Keiko sedetik setelah dia sudah bisa kembali menguasai dirinya dan mengalahkan perasaan sedihnya.
__ADS_1
“Walau wajahnya sudah tak seperti awal, namun apakah lo bisa lihat garis bibir yang terbentuk melengkung di sini?“ tanya Birdella sambil menunjuk ke sebuah sudut wajah Birdella yang sudah termumifikasi secara alami.
Detektif Keiko kembali meraba wajah Diatmika namun tepat pada titik yang ditunjuk oleh Birdella. Seutas senyuman langsung menghias wajah sendu detektif Keiko.
“Apakah lo yakin ini adalah senyuman?“ detektif Keiko berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Sebuah anggukan kepala dati Birdella adalah sebuah tanda bahwa dia mengamini apa yang detektif Keiko tanyakan.
Detektif Keiko lalu membungkung, mendekatkan bibirnya ke telinga jasad Diatmika dan membisikan sebuah kalimat.
“Kamu masih tetap terlihat cantik, masih sama seperti dulu saat kita sering menghabiskan banyak waktu bersama. Kamu ngga perlu khawatir, aku akan terus mencari siapa yang melakukan ini kepada kamu dan dengan tanganku sendiri aku akan memasukannya ke penjara dan membuatnya membayar apa yang telah dia lakukan kepada kamu.“
__ADS_1
Selesai mengatakan semua hal itu, detektif Keiko kembali menegakan tubuhnya dan melengkungkan sebuah senyuman tanda bahwa dia percaya diri untuk janji yang berusan dia ucapkan kepada jasad Diatmika.