Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Tiga puluh Enam


__ADS_3

Sementara itu di galeri seni…


TOK


TOK


TOK


“Masuk!“


“Bapak butuh bantuan saya?“ tanya Dalmar yang muncul dari balik pintu.


“Saya butuh menenangkan pikiran saya,” jawab Gilen sambil meletakan pena dia atas beberapa lembar berkas yang harus dia periksa sebelum ditanda tangani.


Dalmar maju beberapa langkahbdan menutup pintu ruangan kerja Gilen. Dia tahu betul bahwa apa yang akan dibicarakan oleh Gilen adalah sesuatu yang sangat rahasia dan tak ada orang lain yang boleh tahu.


Gilen bangkit dari duduknya lalu berdiri membelakangi Dalmar, memandang langit luas daru jendela besar di ruangannya.


“Saya mengenalnya di sebuah kasino,” Gilen memulai ceritanya.


“Siapa yang anda maksud?“ tanya Dalmar yang kebingungan saat atasannya itu berbicara.


“Gadis itu, Diatmika. Dia anak yang sangat cekatan dan periang,” lanjut Glen menceritakan.

__ADS_1


“Kenapa anda bisa bertemu dengannya di sana?“


“Saat itu saya sedang menemani salah satu klien kita yang berasal dari Spanyol. Apa kamu ingat?“


“Tuan Yosep yang akan membeli lukisan Picasso?!“ Dalmar berusaha menebak.


“Betul sekali. Dia meminta aku untuk menemaninya main beberapa putaran dan saat itu saya juga sedang memiliki masalah dengan istri saya.“ Gilen memandang nanar ke langit cerah hari ini.


“Saya tak mengetahui hal itu. Selama ini saya pikir hubungan anda dengan istri anda baik-baik saja,” ucap Dalmar.


“Saya berencana untuk tak membagikan segala hal menyebalkan dalam hidup saya kepada orang lain.“


“Saya mengerti pak,” jawab Dalmar yang masih berdiri di sisi pintu.


Setelah beberapa kali mengganti posisi duduk guna mencari kondisi ternyaman bagi tubuhnya, Gilen pun berkata, “Saya memang mengaguminya.“


“Istri anda atau Diatmika yang anda maksud?“


“Diatmika. Dia perempuan yang begitu tangguh dan pekerja keras. Dia bekerja di kasino itu sebagai salah satu usahanya untuo tetap bisa kuliah.“


Gilen bercerita dengan tatapan yang kosong.


“Setelah saya kalah dalam dua putaran, saya berusaha mencari kamu tapi tak bisa saya temukan juga,” lanjut Gilen bercerita.

__ADS_1


“Kemungkinan saat anda mencari, saya sedang menerima telepon dari istri sata pada saat itu,” Dalmar berusaha menyelamatkan dirinya.


“Saya tak tahu pasti, namun pada akhirnya malam itu saya bertemu dengan Diatmika. Kepala saya mendadak sakit yamg teramat dan segera mungkin harus minum obat. Malam itu Diatmika yang ternyata selalu membawa obat sakit kepala yang biasa saya minum, menawarkan obat itu kepada saya,” Gilen mengenang kejadian malam itu.


“Padahal saya juga membawa obat itu pak,” timpal Dalmar.


Gilen menoleh ke arah Dalmar dan tersenyum, menandakan dia tahu bahwa Dalmar selalu membawa obat sakit kepala itu kemana-mana agar saat dia membutuhkannya, Dalmar bisa dengan cepat menyerahkan obat itu pada dirinya.


Namun kenyataan bahwa dia tak ada saat obat itu dibutuhkan oleh Gilen juga tak bisa dihindari atau disangkal.


“Malam itu dia dimarahi habis-habisan oleh ketua timnya karena dianggap lalai dalam bekerja dan diancam unyuk diberhentikan, sementara dia butuh pekerjaan itu untuk bisa terus melanjutkan kuliahnya.“


Kini Gilen memalingkan wajahnya dari Dalmar dan kini memandang lantai yang bersih mengkilat di bawah kakinya.


“Apakah itu alasan anda menerimanya bekerja di sini?“ tanya Dalmar.


“Bukan. Bukan saya yang menerimanya bekerja tapi saya yang meminta dia untuk bekerja di sini,” balas Gilen.


“Anda yang mengundang Diatmika bekerja di sini?“


“Iya. Apalagi baru sath hari dia di sini ibunya masuk rumah sakit dan membutuhkan dana segar yang cukup besar dalam waktu yang singkat.“


“Jadi anda memberikan uang itu cuma-cuma?“ tanya Dalmar.

__ADS_1


“Memberikan dengan cuma-cuma? Kamu bercanda Dalmar!?“


__ADS_2