
Detektif Egan meletakan es kopi latte dan kue strawberry kesukaan detektof Keiko di meja kerja yang masih bertumpuk berkas bahkan dari kasus-kasus sebelumnya baik yang me4eka selesaikan maupun yang dipecahkan oleh detektif lain.
“Dari mana lo?“ tanya detektif Keiko saat menetahui rekannya sudah kembali dengan beberapa buah tangan yang diberikan kepadanya.
“Dari bawah. Gue butuh kopi dan cemilan, lo juga pasti butuh kan!?“
Detektif Keiko menoleh sambil tersenyum manis, “Emang ngga ada yang bisa ngalahin lo, gan.“
“Makanya jangan mau kalau nanti ditawarin buat ganti rekan, oke!?“
Detektif Keiko terbahak mendengar perkataan rekannya itu dan disusul dengan tawa dari detektif Egan.
Bukan satu dua tahun mereka dipasangkan menjadi rekam di dalam divisi ini dan ternyata kedekatan mereka semakin lama semakin saling melekat. Tak hanya soal pekerjaam, bahkam urusan pribadi pun mereka saling mengetahui satu sama lain. Serta di dalamnya terlibat pula Birdella.
Karena sebab ini pula, kasus Diatmika menguras emosi semua orang yang terlibat di dalamnya. Karena Diatmika tak hanya milik detektif Keiko tapi juga milik detektif Egan, Birdella dan juga Aris yang mulai dekat dengan mereka.
Detektif Keiko membuka bungkus kue strawberry yang dibawa detektif Egan terlebih dahulu. Sebuah potongan kecil di sendok kayu yang disediakan oleh penjual kini meluncur masuk ke dalam mulut detektif Keiko.
__ADS_1
Rasa asam langsung menyelimuti lidahnya, memberikan kesegaran yang memang dia butuhkan saat ini.
“Ngga pernah gagal!“ ujar detektif Keiko dan melanjutkan ke sendokan kedua.
Detektif Egan yang sedang menikmati es kopi latte-nya mengambil inisiatif untuk membukakan sedotan dan menacapkan ke penutup gelas berisi es kopi latte milik detektif Keiko.
“Nih!“ detektif Egan menyodorkan gelas itu.
“Terima kasih!“ senyuman manis detektif Keiko pun terbentuk kembali.
Detektif Keiko menyedot es kopi latte miliknya sembari tersenyum tanpa putus.
“Apa yang lo dapatkan dari mengobrak-abrik berkas lama?“ tahya detektif Egan.
“Belum ada yang bisa gue ambil dari tumpukan berkas.“
“Jadi kapan kita ke galeri seni tempat Gilen berada?“
__ADS_1
“Setelah gue menghabiskan kudapan gue ini,” balas detektif Keiko sambil mengangkat ekue strawberry yahg masih tersisa.
“Makanlah semua supaya mood lo kembali bagus,” ujar detektir Egan yang kini juga membuka bungkus waffle yang dipilihnya tadi. Dalam sekali gigit hilang sudah setenagh bagian waffle coklat itu dan kebahagiaan menyeruak dalam hati detektif Egan.
“Tadi di bawah gue ketemu Birdella. Dia baru aja sampai ke kantor dan hampir tiap menit menguap,” cerita detektif Egan lalu memnggigit sisa waffle di tangannya.
“Dia udah sampai kantor?“
“Tadi naik bareng gue tapi langsung ke ruangannya karena ada kasus lain yangvperlu penanganan dari dia.“
“Padahal gue mau ketemu dia dan minta maaf secara langsung.“ Wajah detektif Keiko mendadak murung, mengingat kesalahannya membuat Birdella tak tidur hanya untuk berusaha mencarj keberadaan dirinya yang ternyata malah ketiduran dengan nyaman di rumahnya.
“Tenang aja, udah gue wakilin kok permintaan maaf lo ke Birdella. Gue udah beliin dia kopi dan cheese cake kesukaan dia tadi,” detektif Egan memasang senyuman yang jelas terpaksa.
“Dia marah ya sama gue?“ tanya detektif Keiko yang masih ragu.
“Ngga. Dia bilang, dia bakal nemnui lo kalau kerjaan dia udah beres. Dia malah ngga mau ganggu lo bersama tumpikan berkas ini.“
__ADS_1