Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Dua Puluh Empat


__ADS_3

Sesampainya di lantai dasar gedung kantor, detektif Egan segera menuju satu-satunya tempat yang menjual kopi.


Segelas kopi bitam yang dibawakan oleh detektif Keiko pagi tadi tak membuatnya bangun sepenuhnya dari kelelahan beberapa hari ini, terlebih malam tadi yang menguras sisa energinya dan hanya sedikit sekali waktu istirahat yang dia dapatkan.


Seperti hari biasanya, tempat itu selalu penuh dengan para pekerja. Antrian di kasir pemesanan pun sudah mengular hampir keluar dari pintu.


Detektif Egan bergegas berdiri di belakang orang terakhir dalam antrian agar segera mendapatkan kopi idamannya kali ini. Dari tempatnya berdiri pun, detektif Egan sudah mengeker kue apa yang akan dia beli sebagai temannya meminum kopi dingin yang sudah terbayang di benaknya saat ini.


Sebuah tangan mendarat lembut di bahu detekrif Egan. Walau hanya sebuah sentuhan lembut ternyata itu membuatnya tersentuk juga. Dengan refleks yang bagus, detektif Egan memutar kepalanya berusaha melihat siapa yang menepuk pundaknya.


“Kayaknya lo baru datang?!“ ucap detektif Egan.


“Iya nih,” jawab Birdella sambil menguap namun dia halangi dengan telapak tangannya.


“Tumben, siang gini baru datang. Ada otopsi di luar kantor?“


“Ngga. Ini semua gara-gara si Keiko.“


“Lho, kenapa?“ tanya detektif Egan yang melangkah maju mendekat ke arah kasir.


“Semalam dianngga bisa gue hubungin sama sekali, gue takut dia kenapa-kenapa jadi gue ngga tidur dan terus berusaha menghubungi dia,” Birdella mengikuti langkah kecil detektif Egan menuju kasir.


“Jadi waktu lo turun dia udah ngga ada di lobby?“

__ADS_1


“Ngga ada.“


“Padahal ngga berapa lama dari lo turun itu.“


“Entahlah. Mungkin dia udah langsung pulang ke rumah.“


“Bisa jadi. Lo mau pesen apa, sekalian aja,” detektif Egan menawarkan.“


“Gue mau Es Americano. Gue butuh tendangan buat bikin gue melek.“


“Mba, Es Americano satu, Es Kopi Latte 2,” detektif Egan menyebutkan pesanannya.


“Ada lagi?“ tanya orang yang bertugas di belakang meja kasir.


“Cheese cake!“


“Tambah satu Cheese cake, satu strowberry cake sama satu wafelle,” detektif Egan melanjutkan pesananya.


Kemudian detektif Egan menyerahkan kartunya untuk membayar semua pesanan itu dan beberapa menit kemudian pesanannya sudah berada di tangannya. Susah payah dia membawa semua pesanannya itu, lalu Birdella berinisiatif mengambil pesanannya dan di dibawanya sendiri.


“Terima kasih!“


“Sama-sama.“

__ADS_1


“Yang itu buat Keiko?“


“Iya, buat gue dan Keiko.


“Dia masih di ruangan?“ tanya Birdella ketiga mereka berdua sudah berada di dalam lift.


“Dia masih sibuk memperhatikan berkas-berkas itu. Lo mau mampir?“


“Ngga dulu, gue masih ada kerjaan di kasus lain. Kalau udah selesai gue bakal ke ruangan kalian. Apa Aris sudah dapat hasil dari sidik jarinya?“


“Gue baru pengen tanya soal itu. Aris belum ngabarin lagi ke gue.“


“Berarti ngga ada di data base wilayah. Mungkin pencariannya harus diperluas,” ujar Birdella.


“Berarti kemungkinan pelaku bukan orang wilayah sini?“


“Atau bisa jadi pelaku belum pernah melakukan sebuah pelanggaran hukum,” Birdella memberi kemungkinan lain.


Pintu lift terbuka di tempat tujuan detektif Egan, dia keluar namun sebelum pintu lift tertutup detektif Egan menahan pintu itu dan mengingatkan Birdella, “Kabarin bue begitu ada hasilnya.“


“Apakah hal semacam itu perlu lo ulang-ulang?“ gerutu Birdella sambil memencet tombol lift agar pintu tertututp.


Kemudian detektif Egan pun bergegas menuju meja kerjanya untuk menemui rekannya.

__ADS_1


__ADS_2