Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

“Mana mungkin saya membuang uang saya secara cuma-cuma,” ujar Gilen lalu terbahak.


“Jadi imbalan apa yang sebenarnya anda harapkan dari Diatmika, pak?“ tanya Dalmar berusaha mencari tahu.


“Bekerja di sini, di galeri seni ini adalah imbalan yang harus dia bayar kepada saya . Tapi…”


Gilen terdiam tak melanjutkan kata-katanya dan memainkan jari jemarinya begitu fokus.


Dalmar mengerutkan dahinya saat mendengar Gilen, atasnnya itu memutus kalimat yang dia ucapkan.


Cukup lama ruangan itu hening tanpa kata, tanpa suara sedikot pun baik dari Dalamr atauun dari Gilen yang sepertinya di awal obrolan mereka adalah yang paling aktif bercerita.


“Menurut kamu, apakah ada seseorang di kantor kita ini yang sering berhubungan dengan para detektif?“ tanya Gilen memulai topik yang lain.


“Maksud anda berbicara? Yang saya lihat, sepertinya resesionis di depan yang sering berbicara dengan dua detektif itu,” jawab Dalmar.


“Bukankah itu memang tugasnya untuk menerima tamu?! Apa dia sering berbincang di luar S.O.P?“ tanya Gilen.

__ADS_1


“Setahu saya, dia hanya sering berbicara dengan kedua detektif di dalam konteks pekerjaannya,” Dalmar menjawab.


“Kalau begitu, bukan di orangnya.“


Gilen memangku dagunya dengan tangan kanannya dan lengsung tenggelam dalam jalan pikirannya sendiri tanpa melibatkan Dalmar.


“Saya tak sanggup membayangkan siapa pun yang mungkin mengkhianati anada pak,” ujar Dalmar yang hampir tak didengarkan oleh Gilen.


Isi kepala Gilen masih penuh terisi tanda tanya dan kemungkinan siapa yang menjadi mata dan telinga kedua detektif di dalam kantornya itu.


Dalmara yang pintar membaca situasi memilih untuk dia dan membiarkan Gilen tenggelam semakin dalam di pikiriannya sendiri berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang dia tanyakan pada dirinya sendiri.


“Apa perlu apa?“ tanya Dalmar kepada seseorang yang berdiri didepan pi tu ruangan Gilen.


“Eeh… eeh..“ seseorang yang berdiri dengan gemetar di depan pintu ruangan Gilen tak bisa memberikan jawaban.


“Kamu nguping pembicaraan kamu!?“ tanya Dalmar dengan nada tinggi dan berusaha untuk menahan amarahnya.

__ADS_1


“Ti— tidak pak. Sa— saya hanya… “ suara bergetar dari orang yang berdiri di depan pintu ruangan Gilen terdengar jelas.


“Jangan macam-macam ya kamu!“ bentakan Dalmar membuat dia semakin ketakutan.


Gilen yang masih duduk di sofanya menegakkan duduknya masih berusaha mencari tahu siapa orang yang berada di balik pintu ruangan yang masih tertutup sebagian hingga orang yang sedang dimarahi oleh Dalmar tak bisa terlihat dari sudut pandang Dalmar yang tengah duduk.


Setelah beberapa kali berusaha mencari tahu dari tempatnya duduk namun Gilen tetapi dia juga tak bisa melihat siapa yang sedang berada di sana.


“Siapa itu mar?“ tanya Gilen.


“Ini pak, salah satu karyawan di sini,” jawab Dalmar tanpa merubah posisinya sama sekali.


Mendengar jawaban dari Dalmar, Gilen semakin menegakkan duduknya mulai memikirkan sesuatu di dalan kepalanya.


Lalu Gilen memutuskan untuk melihat sendiri siapa yang dimaksud oleh Dalmar. Dia berdiri dan melangkah mendekati pintu yang gagangnya masih dipegangi oleh Dalmar.


Semakin mendekat ke pintu Gilen mulai melihat orang itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya dia melihat orang itu secara keseluruhan.

__ADS_1


“Sarah! Apa yang sedang kamu lakukan di sini?“


__ADS_2