Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Empat puluh Dua


__ADS_3

Kehadiran Sarah di ruangan Gilen membuat suasan di dalam sana menjadi semakin tidak nyaman terutama bagi detektof Keiko.


Terutama saat detektif Keiko menyadari gestur tubuh yang dinampakan oleh Sarah. Rasa bersalah langsung menyeruak di hati detektif Keiko.


“Apa kamu sudah menemukan vas milik galeri seni yang hilang?“ tanya Gilen sama sskali tak perduli dengan kondisi yang dialami oleha Sarah.


“Ma— maaf pak, saya belum menemukannya,” jawab Sarah gugup.


“Bagaimana bisa kamu tak menemukannya!? Menurut semua orang di sini, kamu adalah orang terakhir yang bersentuhan dengan vas itu dan mereka berani bersaksi,” ujar Gilen dengan nada lembut namun menohok.


“Saya mohon maaf pak,” suara Sarah semakin bergetar.


“Jadi menurut kamu, sanksi apa yang sepatutnya saya berikan kepada kamu?“ tahya Gilen kepada Sarah namun wanita itu tak berani mengekuarkan sepatah kata pun dan kepalanya justru semakin menunduk.


“Maaf pak Gilen tapi….“ ujar Dalmar.

__ADS_1


“Kamu ngga perlu membela dia Dalmar!“ ujar Gilen dengan nada tajam.


“Saya tahu kamu dan Sarah adalah teman lama namun untuk kali ini biarkan saya melakukam apa yang seharusnya saya lakukan,” lanjut Gilen dengan mata tajam memandang Sarah yang masih juga menundukan kepalanya.


“Maafkan saya pak Gilen, saya janji ini tak akan pernah terjadi lagi,” ujar Sarah memelas dan menangis.


“Sudahlah, hari ini saya banyak pekerjaan. Saya rasa kaju juga memiliki banyak pekerjaan, iya kan Sarah!?“ Gilen masih berusaha menyindir Sarah.


Sarah membelalakan kedua matanya dan seketika mengangkat kepalanya, “Maaf pak Golen saya tak menegrti maksud anda?“


“Mungkin anda bisa membantu Sarah menjawab pertanyaan ini, detektif Keiko,” ucap Gilen sambil memandang tajam ke detektif Keiko.


“Bukankah yang seharusnya merasa tidak nyaman adalah saya?!“ ucap Gilen, menegakkan posisi duduknya.


“Berbicaralah yang jelas dengan saya, apa maksud dan tujuan kamu itu Gilen,” sambar detektif Egan.

__ADS_1


“Apakah di kehidupan pribadi pun kalian saling berlindung?“ tanya Gilen dengan nada merendahkan.


“Sepertinya anda belum tahu bahwa ada pasal tentang penghinaan terhadap anggota kepolisian,” timpal detektif Egan tak ingin di skak-mat oleh Gilen.


Gilen kembali tertawa tapi denga maksud untuk merendahkan kedua detektif yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.


“Kalau di galeri seni ini, tempat saya menjadi pimpinan saya tak pernah mengizinkan karyawan saya memiliki hubungan spesial dengan teman sejawatnya,” ujar Gilen.


“Jadi maksud anda, anda pikir saya dan rekan sypaya memiliki hubungan khusus?“ ujar detektif Keiko yang sebenarnya tidak perlu mendapatkan jawaban dari Gilen.


“Oh, sepertinya perkiraan saya benar. Kalian memang memiliki hubungan khusus,” balas Hilen kembali terbahak hingga tubuhnya merebah ke sandaran kursi kerjanya.


Kali ini detektif Egan yang tertawa terbahak lalu mendekat ke arah Gilen dan berkata, “Jika benar saya memiliki hubungan khusu dengan rekan saya, detektif Keiko maka itu bukan urusan anda. Lagi pula anda yang membuat peraturan larangan bagi para karyawan untuk memiliki hubungan khusus dengan teman sejawat justru melanggarnya,” senyuman seram terlukis di wajah detektif Egan.


“Apa maksud kamu?“ ujar Gilen sambil menggebrak meja kerjanya.

__ADS_1


Seringai di wajah detektif Egan semakin jelas terlihat. Dengan percaya diri detektif Egan semakin mendengkat ke arah Gilen. Sekaranb bibir detektif Egan hanya berjarak beberapa senti meter ke telingga Gilen dan detektif Egan berkata, “Saya tahu apa yang ada dan Rara lakukan.“


Mendadak kedua mata Gilen membulat saat mendengar bisikan itu dari detektif Egan.


__ADS_2