
Walau pun merasa ridak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh detektif Egan namun Rara bisa dengan cepat menguasai dirinya sendiri lagi.
Dia mengangkat gagang telepon yang berada di atas mejanya dan menghubungi pak Hilen melalui sambhngan intercom.
“Ada yang ingin menemui bapak. Baik pak,” ujar Rara dan kembali meletakan gagang telepon itu ke posisi semula.
“Bagaimana?“ ujar detektif Keiko menunggu jawaban.
“Pak Gilen bisa menerima kalian sekarang,” balas Rara dengan ekspresi datar.
“Dengan adanya anda semua jadi lebih mudah,” sindir detektif Egan tanpa perduli tanggapan dari Rara.
Dalmar mengambil langkah maju mendekat ke pintu ruangan Gilen dan tanpa diberi aba-aba detektif Egan dan Keiko mengikuti tepat di belakang Dalmar.
Dalmar mengetuk pintu dan menunggu perintah untuk masuk dari Gilen yang tengah berada di dalam ruangan itu. Setelah diberi izin masuk barulah Dalmar berani membuka pintu itu.
Di dalam sana Gilen sedang sibuk duduk di belakang meja kerjanya. Gilen memang hampir tak pernah terlihat santai selama di ruangan itu. Dia selalu saja sibuk dengan tumpukan dokumen tentang segala hal, mulai dari surat permohonan penyelengaraan pegelaran seni hingga urusan persetujuan perpindah tanganan sebuah karya seni yang berasal dari galeri seni yang dia urus.
“Maaf pak Gilen, ada tamu untuk anda,” ujar Dalmar yang terlihat ragu dalam berucap.
__ADS_1
Gilen yang mendengar suara Dalmar itu pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah datangnya suara lalu memalingkan pandangangannya ke detektif Egan lalu ke detektif Keiko secara bergantian.
“Sepertinya kalian memang orang-orang yang bekerja dengan keras,” ujar Gilen sambil menutup sebuah map berwarna coklat dan meletakan pulpennya ke dalam tempat pulpen yang terkilat sangat kuno namun juga indah.
“Kami?! Tentu saja kami harus keras kepala dan bekerja keras sampai akhirnya kami menemukan pelaku kejahatan,” ujar detekrif Egan dengan penuh percaya diri.
“Harusnya saya merasa terhormat bisa bertemu dengan orang seperti anda,” lanjut Gilen.
“Sampai kapan kita akan terus berbasa-basi kayak gini,” ujar detektif Keiko penahan kesalnya.
“Apa kalian masih bersikukuh dengan apa yang kakian pikirkan selama ini?“ tanya Gilen.
“Bahwa kalian masih menganggap saya pembunuh Diatmika?!“ jawab Gilen.
Detektif Keiko mengerutkan dahinya dan mengangkat salah satu alisnya sekalian berusaha membaca maksud sebenarnya dari Gilen.
“Bagaimana kalau saya menyetujui pernyataan anda itu,” balas detektif Keiko.
Gilen tiba-tiba tertawa terbahak-bahak membuat detektif Egan dan Keiko kaget dan semakin kebingungan.
__ADS_1
“Kalau begitu, buktikanlah kalau saya ini memang pelaku pembunuh Diatmika.“
“Sepertinya anda sedang meremahkan kami,” ujar detektif Egan berusaha menahan amahanya dan menutupinya dengan sebuah senyuman yang lebih mirip sebuah seringai.
“Bagaimana mungkin saya mampu meremahkan orang seperti anda,” balas Gilen yang juga menampilkan sebuah senyuman sinis.
Suasana di antara mereka menjadi semakin memanas. Yang awalnya detektif Keiko yang lebih tersulut emosi dalan kasus ini namun kini justru detektif Eganlah yang semakin sengit berdebat, berperang psikologi dengan Gilen.
“Permisi pak!“ terdengar suara manja dari arah pintu masuk ruangan Gilen.
“Bagaimana Rara, sudah kamu temukan?“ tanya Gilen pada sekretaris seksinya.
“Saya sudah membawa apa yang bapak minta,” jawab Rara dengan nada yang semakin dibuat manja yang juatru membuat telinga detektif Keiko tak nyaman.
“Bagus! Kamu bawa ke sini.“
Rara lalu melihat ke arah luar pintu dan memberi isyarat lambaian tangan dan meminta seseorang untuk mendekat.
Tak lama kemudian seorang wanita berkulit gelap masuk ke ruangan dengan kepala yang tertunduk dan berjalan lesu.
__ADS_1
“Bagaimana Sarah?“ tanya Gilen namun Sarah tak memberi jawaban.