Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Lima Puluh Lima


__ADS_3

Dengan kebulatan tekda yang tak mampu diganggu oleh siapa pun, akhirnya detektif Keiko mampu menjebloskan Sraah dan Dalmar ke penjara dengan maisng-masing mendapatkanhukuman yang sentimpal atas apa yang telah mereka perbuat yaitu hukuman mati.



Walau merasa puas dengan apa yang telah dia lakukan kepada Sarah namun detektif Keiko merasa tak sepenuhnya bahagia. Hatinya masih terasa hampa dan kelabu karena pada akhirnya dia tetap kehilangan Diatmika, orang yang sudahdianggapnya sebagai adik sendiri, yang begitu dia sayangi. Bahkan bukan hanya deyektif Keiko yang telah menganggap Diatmika sebagai bagian dari keluarga, begitu pula keluarganya yang menyayangi Diatmika.



Hari ini walau matahari bersinar cerah, langit bahkan tanpa awan namun suasana di sekitar detektif Keiko terasa sangat suram dan penuh dengan derai air mata.



Hari ini adalah hari dimana akhirnya jasad Diatmika dikebumikan dengan layak seperti keinginan bu Alana yang hari ini ternyata jauh lebih kuat dibanding dirinya beberapa hari lalu dan detektif Keiko hari ini.



Detektif Keiko memilih untuk tak mengenakan baju hitam, dia justru datang dengan gaun selutut bermotif bunga deasy pemberian Diatmika beberapa tahun lalu yang dia kirimkan melalui jasa pengiriman sebagai kado ulang tahun detektif Keiko.



Detektif Keiko ingat betul, gaun itu datang dalam kotak berwarna biru, warna kesukaannya. saat dia membuka kotak itu ada sebuah surat di atas gaun dan ada tulisan tangan Diatmika.


"Aku sengaja memilijkan gaun ini untukmu, aku tahu kamu tidak suka segala jal yang bersifat 'perempuan' tapi setidaknya satu kali saja aku ingin melihat kamu menggunakan gaun ini. Dari adik kesayangan kamu, Diatmika."

__ADS_1


sayangnya keinginan Diatmika itu tak pernah terlaksana. Namun begitu,detektif Keiko merasa mungkin saja Diatmika akan bisa lebih tenang jika dalam acara penguburannya detektif Keiko menggunakan gaun ini.



Dengan kaca mata hitam yang menyembunyikan kedua matanya yang bengkak, detektif Keiko datang bersama kedua orangtuanya yang datang sambil bergandengan tangan.



Di sisi yang lain, detektif Egan dan Birdella berdiri berdampingan. Memberi ruang bagi detektif Keiko, keluarganya dan bu Alana untuk berduka sebagai keluarga.



Saat tanah mulai kembali dimasukan ke dalam lubang yang telah terisi jasad Diatmika, detektif Keiko mendekati bu Alana yang sedari tadi sibuk menyeka air matanya yang jatuh walau sudah sudah diusahakan oleh bu Alana untuk tak jatuh ke pipinya.




Seteleh prosesi pemakaman Diatmika selesai, semua yang datang menghadiri acara itu satu persatu pergi meninggalkan pemakaman begitu pula detektif Egan, Birdella dan kedua orang tua detektif Keiko. Di sana hanya tersisa detektif Keiko dan bu Alana.



"Terima kasih nak, kamu sudah menemukan siapa yang sudah menghilangkan nyawa Diatmika," ucap bu Alana ketika keduanya berjalan beriringan meninggalkan pusara Diatmika.

__ADS_1



"Apakah ibu merasa lega?" tanya detektif Keiko.



"Apakah kamu merasa lega?" bu Alana melemparkan pertanyaan yang sama pada detektif Keiko.



"Sejujurnya saya kurang lega. Seolah masih ada yang mengganjal. Andai saya boleh menghabisi nyawa pelakunya," ujar detektif Keiko geram.



"Ibu pun merasakan hal yang sama tapi apakah kita akan sama buruknya dengan si pelaku?" Detektif Keiko tak mampu menjawab pertanyaan itu namun tetap berusaha melangkah dengan mantap.



"Ibu memilih memaafkannya dan melanjutkan hidup yang sudah disambung oleh Diatmika. Kamu juga harus seperti itu, Diatmika ingin kita bahagia."



Detektif Keiko menghentikan langkahnya dan diikuti oleh bu Alana yang sudah berada di depan detektif Keiko. Bu Alana kembali mendekati detektif Keiko dan memeluknya dan seluruh tubuh detektif Keiko terasa begitu hangat dan tanpa dia sadari air matanya menetes deras.

__ADS_1


__ADS_2