Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Tiga Puluh Sembilan


__ADS_3

Setelah memesan beberapa ,makanan dan minuman yang bisa mereka bawa untuk hisa dimakan selama perjalanan mereka menuju galeri seni dimana Gilen berada, mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka.


Karena detektif Keiko sedang sibuk mengendarai mobil, maka detektif Keiko mengambil inisiatif untuk mempersiapkan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Detektif membukakan burger milik detektif Keiko dan meletakannya di tempat yang paling mudah teraih oleh detektif Keiko. Begitu pula dengan minumannya yang sudah ditancapkan sedotannya agar mudah bagi detektif Keiko meminumnya.


“Terima kasih banyak ya gan,” senyuman terlukis di wajah cantik detektif Keiko.


“Ini mah masalah kecil. Yang penting lo konsentrasi aja bawa mobilnya. Toh gue juga udah ditraktir sama lo,” balas detektif Egan.


Perjalan mereka menuju galeri seni dimana Gilen berada ternyat tak membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun sebelum mereka turun dari mobil, mereka menyelesaikan makanan mereka yang tersisa sedikit.


“Enak banget nih burger,” ujar detekyuf Keiko memuji burger digigitan terakhir.


“Ngga salah pilihkan gue?!” detektif Egan membanggakan dirinya.


“Kayaknya kapan-kapan gue pengen makan ini lagi deh,” detektif Keiko.

__ADS_1


“Perkara gampang itu,” jawab detektif Egan.


Setelah menghabiskan minuman mereka, akhirnya mereka pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam galeri seni itu.


Walau pun sudah sering masuk ke dalam galeri itu, namun berkali-kali pula detektif Egan dan Keiko terkagum-kagun dengan segala karya seni yang di pajang di sana. Setiap mereka datang, posisi karya-karya seni di sana pasti sudah berubah dan selalu saja ada karya ssni yang baru.


“Hai!“ Sapa detektif Egan kepada resepsionis cantik yang biasa mereka temui ketika datang ke galeri seni itu.


“Selamat datang bapak dan ibu detektif,” balas resepsionis itu ramah dan full senyuman.


“Bagaimana hari kamu?“ detektif Egan berusaha berbasa-basi.


“Kamu pintar!“ balas detektif Egan.


Resepsionis itu tersenyum malu dengan pipi yag memerah dengan jelas sekali.

__ADS_1


“Bagaimana, apa kami bisa bertemu dengan pak Gilen?“ tanya detektif Keiko.


“Tunggu sebentar ya bu, saya coba tanyakan pak Gilen terlebih dahulu,” kesopanan resepsionis cantik itu memang tak ada lawannya. Dalam keadaan seperti apapun dia selalu memberikan senyuman manisnya.


Setelah dia menutup gagang telepon yang tadi menghubungkannya pada Rara, sekretaris Gilen melalui intercom dia pun menginformasikan apa yang dia dengar tadi.


“Pak Gilen sedang ada pertemuan dengan tamu penting.“


“Jadi kami tidak bisa menemui pak Gilen?“ tanya detektif Keiko merasa kecewa.


“Pak Gilen bilang akan menemui anda berdua hari ini, jadi beliau minta anda berdua sabar menungg,” balas resepsionis itu masin dengan senyuman ramahnya.


“Baiklah kalau memang begitu kami akan menunggu pak Gilen,” balas detektif Keiko.


Resepsionis itu memanggil salah satu penjaga keamanan di situ dan memintanya untuk menunjukan pada detektif Sgan dan Keiko tempat untuk menunggu.

__ADS_1


Kedua detektif itu setuju dengan tawaran dari resepsionis itu dan berjalan mengekor penjaga keamanan itu. Mereka berhentei di sebuah ruangannyang semi tertutup dengan sebuah sofa panjang yang empuk.


Dari tempat itu mereka masih bisa melihat keluar dari jendela besar. Menikmati karya seni yang sebagian besar tidak mereka mengerti namun beberapa diantaranya tetap terlihat indah di mata mereka berdua.


__ADS_2