
Senyuman detektif Keiko adalah sebuah pertanda bahwa kini dia telah siap untuk kembali terjun bebas ke dalam kasus yang membuat jiwanya terguncang akhir-akhir ini.
Bukan hanya dirinya, bu Alana, Birdella, detektif Egan dan Aris, bahkan keluarganya sendiri pun ikut terguncang hebat.
Beberapa hari laku, saat akhirnya identitas jasad mumi yang dia dan detektif Egan temukan di dalam ruangan pendingin di toko kelontong milik Odel sudah dipastikan sebagai Diatmika, detektif Keiko langsung pulang dan menemui orang tuanya yang hingga kini masih menempati rumah masa kecilnya.
Saat detektif Keiko datang ke sana, dia kembali melewati jalan setapak diantara rumah orang tuanya dan rumah yang dahulu adalah tempat tinggal Diatmika dan keluarganya. Langkah detektif Keiko sempat henti, nafasnya terasa amat berat dan jantungnya terasa tertusuk sesuatu yang tak nampak namun dengan nyata dapat dia rasakan.
“Nak!“ panggilan dari ayahnya membuatnya kembali berjalan sambil menahan rasa sakit yang tak juga hilang.
“Papa…” detektif Keiko berlari menuju ayahnya dan memeluknya erat.
“Ada apa nak, apa yang terjadi?“
Rasa khawatir menyergap hati ayahnya. Ayah mana yang tak panik melihat anak perempuannya pulang dalam keadaan seperti itu, sekalipun dia adalah anggota kepolisian.
__ADS_1
Tak berapa lama, ibu detektif Keiko keluar karena mendengar kegaduhan yang diciptakan oleh suaminya di halaman belakang rumah. Namun melihat bahwa semua berasal dari anak perempuan, ibu detektif Keiko segera meminta keduanya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Ayah detektif Keiko yang sedari tadi menuntun anak bungsunya itu kemudian mendudukannya ke atas sebuah sofa empuk di ruang keluarga, sebuah ruangan yang menjadi tempat kesukaan mereka unruk berkumpul sejak dulu kala.
Ibu detektif Keiko segera masuk ke dapur dan selang beberapa menit kemudian sudah kembali dengan membawa gelas kesayang detektif Keiko sejak kecil, gelas berukuran sedang dan bergagang dengan sebuah gambar Ariel sang putri duyung, satu-satunya barang kesukaan detektif Keiko yang sangat perempuan sekali.
Gelas itu sudah terisi teh hangat racikan khusus dari ibu detektif Keiko yang juga sering sekali dia minum dari kecil.
“Minumlah dulu agar kamu tenang,” ujar ibu detektif Keiko sambil menyerahkan gelas itu pada anaknya.
Melihat anaknya sudah kembali tenang, ayah detektif Keiko mulai menainya kembali. Namun kali ini nada biacarany sudah tak lagi sepanik saat pertama kali anaknya datang dalam pelukanya.
“Papa masih ingat Diatmika?“
“Anaknya ibu Alana yang tinggal di sebelah rumah kita selama beberapa tahun?!“
__ADS_1
“Siapa yang bisa melupakan anak secantik dan semenyenangkan Diatmika?“ sambung ibunya.
“Beberapa hari lalu bu Alana menelpon aku ke kantor,” ujar detektif Keiko setelah menganggukan kepala tanda bahwa jawaban kedua orang tuanya benar.
“Mama sudah lama ngga berkomunikasindengan bu Alana. Bagaimana kabarnya sekarang?“ Jelas sekali di nada bicara ibu detektif Keiko, bahwa dia begitu bergembira mengetahui hal itu.
Namun berbeda dengan detektif Keiko yang justru malah menundukan wajahnya dan meremas gelas kesayanganya yang masih memancarkan rasa hangat ke tangannya.
“Apa ada yang salah nak?“ tanya ayahnya.
“Ada apa Kei? Apa ada hal buruk yang terjadi?“ Mamanya ikur bertanya.
Detektif Keiko meletakan gelas kesayangannya lalu kembali menumbruk ayahnya, meminta sebuah pelukan dan berkata, “Diatmika sudah tak ada pa! Kemarin Birdella baru saja mengkonfirmasi bahwa jasad yang aku dan Egan temukan adalah Diatmika.“
Detektif Keiko menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ayahnya yang masih kaget dengat apa yang barusan dia dengan dari anak perempuannya. Kekagetan itu juga pastinya menyerang ibunya.
__ADS_1
Hari itu, di dalam rumah itu, bukan hanya detektif Keiko namun juga kedua orang tuanya ikut merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian Diatmika. Walau begitu, ayah detektif Keiko harus menjadi yang paling kuat untuk bisa memeluk dua perempuan kesayangannya di dunia ini.