
Suasana di dalam galeri seni yang berada di bagian atas kota itu menjadi terasa semakin terus bertambah tingkat ketegangannya. Gilen sebagai orang yang diberikan kepercayaan untuk mengelola serta bertanggung jawab di galeri seni itu merasa sangat murka karena merasa beberapa hari terakhir ini selalu mendapat ganggu karena kehadiran detektif Egan dan Keiko yang terus saja bolak-balik ke galeei seni itu dan berusaha menemuinya hampir setiap hari.
“DALMAR! DALMAR!“ teriak Gilen mencari penjaga pribadinya itu, yang biasanya selalu berada di dekatnya namun kali ini Dalmar menjawab panggilan darinya cukup lama.
Dalmar yang ternyata pada saat itu sedang berada di dekat pintu masuk pantry, yang awalnya memiliki niat membuat minuman untuk dirinya sendiri tersentak dan berusaha sesegara mungkin mendatangi tuannya itu yang berada di dalam ruangan kerja.
Ketika Dalmar masuk ke dalam ruangan kerja Gilen, dia melihat bosnya itu sedang berdiri tegang di salah satu sudut ruangan kerjanya sambil menghadap ke jendela besar yang berada tepat di belakang kursi kerja yang selalu dia tempati hampir setiap hari.
Begitu Dalamar masuk, Gilen memutar tubuhnya serayus delapan puluh derajat dan kini Gilen sudah berhadapan dengan Dalamar, wajahnya terlihat jelas memerah tanda dadanya juga terasa panas penuh dengan amarah yang juga pasti menyesakan bagi Gilen.
“Anda memanggil saya tuan!?“ ujar Dalmar dengan suara berat yang khas, dia berdiri tegap di hadapan Gilen.
“Kemana saja kamu? Lama sekali merespon panggilan saya!“ tanya Gilen masih dengan perasaan kesal yang tak mampu lagi dia tahan dan sembunyikan, terdengar jelas dari nada suaranya yang meninggi.
“Maaf tuan, tadi saya ada di pantry untuk buat minuman,” jawab Dalmar dengan sopan.
Dalmar yang memiliki tubuh besar dan kulit yang gelap serta wajah yang cukup sangar itu memang tak pernah sekali pun berlaku tak sopan pada Gilen, dia selalu menghormati dan menahulukan kepentingan Gilem. Itu juga yang menjadi salah satu alasan bagi Gilen untuk tak pernah mengganti Dalmar sebgaai penjaganya dengan orang lain.
“Suruh Rara buatkan saya minuman dingin sekarang, saya perlu mendinginkan dada dan kepala saya. Setelah itu kamu kembali ke sini lagi, ada yang perlu saya bicarakan dengan kamu!“ perintah Gilen sambil *******-***** tangannya sendiri.
Nyatalah bahwa emosi di dalam diri Gilen belum juga reda sama sekali dan karena Dalmar sudah lama bekerja pada Gilen maka dia mengerti sekali dengan kondisi bosnya pada saat itu maka tanpa banyak bicara dan basa-basi Dalmar langsung keluar dari ruangan itu dan meminta Rara, sekretaris Gilen untuk membuatkan minuman seperti yang Gilen minta padanya.
Setelah menyampaikan permintaan Gilen pada Rara, sesuai dengan arahan yang Gilen berikan, Dalmar pun segera kembali lagi ke dalam ruangan kerja Gilen.
“Permisi pak. Saya sudah minta Rara untuk membuat minuman dingin untuk anda seperti yang anda minta barusan,“ ujar Dalamar yang berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
“Masuk sini Dalmar, jangan hanya berdiri di sana,” perintah Gilen.
Dalmar masuk dan duduk di hadapan Gilen yang kemudian ikut duduk di sofa yang berdekatam dengan sofa yang tengah diduduki Dalmar dan menarik nafas dalam-dalam berusaha mengisi seluruh celah paru-paru miliknya terisi penuh oleh oksigen.
“Saya perlu berbicara dengan kamu, Dalmar. Kita perlu bertukar pikiran lebih tepatnya. Kepala saya saat ini seolah penuh dan terasa menekan saya. Rasanya dada saya juga jadi ikutan terasa sesak, sebanyak apapun oksigen yang saya usahakan untuk masuk rasanya tetap tak cukup,” ujar Gilen.
“Apa yang sebenarnya mengganggu pikiran anda tuan?“ tanya Dalmar pada bosnya.
Belum juga Gilen berbicara untuk memberi jawaban pada pertanyaan Dalmar itu, terdengar suara ketukan di pintu.
TOK
TOK
TOK
Rara membuka pintu, berjalan masuk sambil membawakan minuman dingin yang diminta Gilen. Rara yang memiliki tubuh seksi itu berjalan semakin mendekat pada Gilen dan setelah sampai di hadapan Gilen, Rara pun langsung meletakan minuman itu di atas meja di depan Gilen.
“Saya buatkan sesuai permintaan bapak,” ujar Rara sambil tersenyum.
“Ok. Terima kasih ra,” balas Gilen.
Setelah tersenyum sebagai jawaban atas ucapan terima kasih dari Gilen Rara pun labgsung menuju pintu masuk ruangan Gilen dan tubuhnya langsung menghilang tak terlihat di balik pintu yang tertutup.
“Bagaimana ini bisa terjadi?“ tanya Gilen setengah berbisik.
__ADS_1
“Saya tak mengerti maksud anda, pak,” balas Dalmar.
“Bagaimana kedua detektif itu mencurigai saya?“ Gilen bertanyablagi pada Dalmar.
“Saya juga tidak terlalu mengerti tuan. Mungkin ada barang bukti yang mengarah kepada anda,” Dalmar mengemukakan sebuah kemungkinan pada Gilen.
“Bagaimana bisa semua ini terjadi?“ Gilen berkata seolah tak percaya dengan apa yang mungkin sedang terjadi.
Entah pertanyaan itu benar ditujukan untuk Dalmar atau sesungguhnya Gilen hanya sedang bertanya pada dirinya sendiri tapi yang pasti Dalmar tak bisa menjawab pertanyaan yang berikutnya itu dari Gilen. Dalmar hanya bisa duduk terdiam sambil memperhatikan gerak gerik bosnya yang terlihat gelisah itu.
“Tuan, coba anda minum saja dulu agar anda bisa jauh lebih tenang,” ujar Dalmar sambil mengangkat gelas di hadapannya dan menyerahkan kepada Gilen.
Gilen pada awalnya enggan untuk mengambil gelas itu, namun setelah melihat bongkahan es batu di dalam gelas itu dan sungguh menggiurkan dirinya akhirnya dia mengambil gelas itu juga dan meneguk isi dalam gelas itu dan hanya menyisakan beberapa bongkahan es batu.
“Ah… “ suara Gilen itu membuktikan bahwa dia menikmati minuman itu dan rasa panas dalam tubuhnya pelan-pelan menghilang tergantikan dengan rasa hangat dan tenang yang pada akhirnya membuatnya kembali rileks.
“Bagaimana pak, apakah anda sudah merasa semakin baik kondisi anda?“ tanya Dalmar setelah melihat ekspresi Gilen yang terlihat begitu nyaman.
“Terima kasih atas saran kamu Dalmar, meminum minuman dingin yang disediakan oleh Rara adalah keputusanku paling tepat hari ini,” ujar Gilen sambil merebahkan bahunya ke sandaran sofa dan memejamkan kedua matanya.
“Apa saja tuan asal anda bisa merasa lebih baik dan anda bisa sedikit santai ditengah kekacauan yang tak pernah anda harapkan ini,” balas Dalmar yang kini melengkungan senyuman di wajahnya.
Gilen yang sedang terus meresapi ketenangan di dalam dirinya terus memejamkan kedua mata sementara Dalmar tetap duduk di sampingnya tak bergeser satu senti pun, duduk dengan tenang sambil terus memperhatikan Gilen, orang yang begitu mempercayainya, mengandalkannya dan tempat bagi Gilen menyimpan segala rasa miliknya yang terkelam sekali pun.
Dalmat masih terus menemani bosnya itu dan menunggu Gilen memberinya perintah selanjutnya tanpa mengeluarkam suara, tanpa gerakan yang mungkin akan menggangu Gilen saat ini.
__ADS_1