
Dengan doping satu gelas kopi plus gula dan kreamer, detektif Keiko sudah siap untuk kembali ke pekerjaannya serta menyelam kembali ke kasus Diatmika.
Perjalanannya menuju kantor dengan mengendarai mobil membuatnya mendadak terasa jadi keren dalam bayangannya sendiri.
Tak seperti biasanya, kali ini detektif Keiko memilih sarapan berat di kantin kantor. Dia selesaikan sarapannya di kantin dan membawa beberapa buah donat dan segelas kopi yang akan diberikan kepada detektif Egan sebagai bentuk ucapan terima kasihnya karena rekannya itu sudah mau bersusah payah demi kasus ini dan demi istirahatnya malam tadi yang benar-benar membuatnya bisa kembali relaks.
“Selamat pagi!“ ujar detektif Keiko penuh keceriaan.
Detektif Egan yang ternyata sempat tertidur dengan cara meletakan kepalanya di atas meja tersentak karena salam pagi rekannya itu.
“Wah ceria sekali lo pagi ini,” detektif Egan membalas salam rekannya.
“Segelas kopi hitam panas dan donat dengan glaze kesukaan lo. Lo pasti belum sarapan kan?“
Detektif Keiko menyodorkan kantung kertas berisi donat beserta segelas kopi kepada rekannya.
“Wah lo pasti seorang peramal sampai tahu kalau gue belum sarapan,” canda detektif Egan dan itu berhasil membuat detektif Keiko terbahak, sebuah tambahan sarapan yang akan membuat harinya kali ini akan jauh lebih berenergi.
“Ngomong-ngomong lo udah mandi belum?“
__ADS_1
“Mana sempet gue mandi. Dari semalam gue sibuk sama berkas-berkas ini.“
“Wah pantas, harum sekali lo pagi ini,” ironi yang membuat detektif Egan malu pada awalnya namun terbahak keras akhirnya bersamaan dengan tawa detektif Keiko.
Setelah meminum setengah kopi hitamnya serta melahap satu buah donat dengan glaze, detektif Egan memutuskan untuk membersihkan dirinya dahulu.
“Kalau lo mau coba-coba cari sesuatu di tumpukan berkas ini, silahkan. Gue mau mandi dulu biar wangi ini menghilang,” ujar detektif Egan lalu tertawa.
“Mandilah. Apa lo ada handuk baru?“
“Ada. Kemarin sore gue udah ambil laundy gue dan masih ada di loker.“
“Oke. Tadinya kalau ngga ada, gue bawa beberapa handuk di dalam mobil.“
Detektif Egan yang sudah membalikkan badannya berjalan menuju lokernya tiba-tiba kembali mendekati detektif Keiko, “Ets, jangan makan donat gue ya.“
“Sepenting itu kah?!“ Balas detektif Keiko yang kaget mengetahui rekannya kembali hanya untuk sebuah pengumuman macam itu.
Detektif Egan kembali memutad tubunnya berjalan menuju lokernya untuk mengambil beberapa keperluan mandi dan lanjut ke kamar mandi sambil tertawa menikmati ekspresi kaget rekannya.
__ADS_1
“Manusia aneh! Tapi kenapa juga aku bisa bertahan bertahun-tahun jadi rekannya di sini,” gumam detektif Keiko pada dirinya sendiri dan menertawakan apa yang terjadi barusan padanya.
Detektif Keiko tak memperdulikan perintah dari rekannya tadi. Dengan sadar dia mengambil satu buah donat berbalut glaze dari dalam kantung kertas yang dia bawa.
Satu porsi nasi goreng yang dia nikmati di kantin tadi ternyata belum membuat lambungnya terisi penuh dan donat yang dia bawa untuk detektif Egan menjadi sasarannya.
Sambil mengunyah donat itu, detektif Keiko membuka beberapa berkas yang berserakan di atas meja kerja detektif Egan. Dia berusaha merefresh kembali memorinya tentang kasus ini. Walau setitik hatinya masih mempercayai bahwa Gilen adalah pelaku di balik kasus ini tapi kini dia ingin membiarkan intuisininya yang membimbingnya ke arah pelaku sebenarnya.
Di tengah fokusnya terhadap berkas-berkas di hadapannya, seseorang teriak kepadanya membuat detektif Keiko kaget.
“Ada apa!?“ balasnya tak kalah kencang.
“Udah gue bilang JANGAN MAKAN DONAT GUE!“
“Ya ampun gan, gue cuma makan satu. Itu tadi gue bawa enam buah lho.“
“Ngga mau tahu. Balikin donat gue yang satu.“
“Iya. Nanti kita turun kita beli lagi satu donat. Puas lo?“
__ADS_1
Detektif Egan yang sudah kembali dengan keadaan rapi dan wangi tertawa kecil dan berkata, “Nah kalau begitu sih gue maafin lo.“
“Dasar!“