Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Dua Puluh Dua


__ADS_3

Sebah telepon masuk ke telepon yang berada di meja kerja milik detektif Keikonpagi ini. Sang penelepon adalah Sarah, seorang kurator di galery seni yang berada di salah satu sudut kota bagian atas. Dimana galery seni itu dipimpin dan dibawah tanggung jawab Gilen, orang yang kini menjadi tersangka utama dalam kasus hilangnya nyawa Diatmika seorang sahabat kecil dari detektif Keiko.


Sarah mengabarkan bahwa Gilen dan Dalmar yang merupakan penjaga sekaligus orang kepercayaan Gilen kini sudah kembali lagi ke kota ini dan sudah kembali beraktifitas di dalam galery tersebut.


Dengan sigap detektif Keiko dan Egan segera bergerak menuju galery seni tersebut agar tak kehilangan lagi jejak Gilen dan Dalmar yang baru saja kembali dati Kuba.


Sesampainya di galery seni itu, detektif Keiko dan Egan segera menemui resepsionis cantik yang beberapa kali mereka temui tiap kali datang ke galeri seni tersebut. Dan sama seperti biasanya, resepiojis itu menyambut kedua detektif dengan senyuman ramah.


“Saya dengar pak Gilen dan Dalmar sudah kembali,” ujar detektif Egan ikut tersenyum.


“Beliau baru saja sampai hari ini pak,” jawab resepsionis itu ramah.


“Kami ining menemui pak Gilen dan Dalmar, bisa?“ tanya deyektif Keiko.


“Saya coba hubungi pak Gilen dulu ya pak, bu. Saya khawatir beliau dalam kondisi yang belum cukup fit,” balas resepsionis tersebut.


“Silahkan. Kami bisa menunggu,” balas detektif Egan berusaha ikut ramah.


Resepsionis cantik dengan senyuman manis itu mengangkat gagang telepon di atas mejanya berusaha menghubungi Gilen melalui saluran intercom. Suaranya tak terdengar jelas namun beberapa kali dia menganggukan kepala tanda mengerti arahan yang diberikan kepada dirinya melalui sambungan intercom itu.


“Maaf pak, bu sepertinya pak Gilen sedang tidak bisa dikunjungi untuk saat itu,” ujar resepsionis cantik itu setelah meletakan gagang telepon yang dia gunakan tadi ke tempatnya semula.


“Boleh saya tahu, apa kira-kira alasan yang diberikan pak Hilen tadi saat menolak keinginan kami bertemu dengannya?“ tanya detektif Egan dengan sopan.


“Beliau merasa belum cukup fit untuk bertemu dengan anda berdua. Bsliau masih merasa jetlag karena penerbangan kemarin,” jawab resepsionis pemilik senyuman manis itu berusahq memenuhi keingin tahuan detektif Egan.


“Apakah pak Gilen sudah tahu bahwa kami sedang menyelidiki kasus pembunuhan?“ tanya detektif Keiko tegas.

__ADS_1


“Saya belum memberitahu beliau bu, maaf,” jawab resepsionis itu.


“Bagaimana jika kami memaksa untuk menerobos masuk?“ gertak detektif Egan.


“Tentu anda tahu, jika anda melakukan itu anda harus memiliki surat perintah. Jika tidak, justru anda yang harus berhadapan dengan hukum anda sendiri,” ucap seseorang bersuara serak dan berat di belakang detektif Egan dan Keiko.


Sontak saja kedua detektif itu membalikkan badan mereka menghadap asal suara. Namun begitu, detektif Egan sudah tahu siapa pemilik suara tersebut.


“Sudah lama kita tak jumpa, Dalmar. Bagaimana dengan jalan-jalan anda kemarin?“ ucap detektif Egan.


“Saya bukan jalan-jalan, lebih tepatnya saya bekerja.“


“Mungkin akan lebih tepat jika anda menyebut perjalanan anda kemarin sebagai pulang kampung,” potong detektif Keiko.


Mendengar itu, Dalmar membulatkan kedua matanya. Sepertinya dia kaget mengetahui bahwa detektif Keiko tahu soal kampung halamannya di Kuba.


“Betul juga. Kemarin itu bisa disebut sebagai pulang kampung unttuk anda,” sambung detektif Egan.


“Tentu penting! Kami ingin minta oleh-oleh,” ujar detektif Egan lalu dia terbahak. Namun ternyata tawanya tak membuat Dalmar ikut tertawa


“Pak Gilen tak bisa menemui kalian!“ bentak Dalmar.


“Santai, santai Dalmar. Kami hanya ingin menanyakan beberapa hal kepada pak Gilen,” balas detektif Egan, menghentikan tawanya dan kini berganti tatapan tajam.


“Anda boleh bertanya pada pak Gilen tapi tidak hari ini,” balas Dalmar lagi.


“Kalau begitu, kapan kami bisa bertemu pak Gilen?“ tanya detektif Keiko.

__ADS_1


“Kembalikah dua atau tiga hari lagi. Yang penting harus pada hari kerja, karena beliau tak suka waktu liburnya diganggu,” jawab Dalamar.


“Jawaban anda sangat membantu kami. Kami akan kembali beberapa hari lagi tepat di hari kerja,” balas detektif Keiko sambil tersenyum.


“Karena kalian sudah mendapatkan jawaban dan kepastian dari saya, maka saya minta kalian untuk pergi dari galeri seni ini. Sejujurnya, kehadiran anda membuat saya dan pak Gilen merasa tidak nyaman,” ujar Dalmar berusaha mengusir detektif Egan dan Keiko.


Kedua detektif itu mengerti maksud Dalmar dan segera mempersiapkan diri untuk pergi dari galeri seni itu. Mereka berjalan melewati Dalmar yang berdiri dengan tegap dengan kedua tangan diletakan ke belakang.


Saat hampir keluar dari galeri seni itu, detektif Keiko melihat Sarah yang tengah berdiri di depan sebuah lukisan berukuran besar dan melihat ke arah dirinya. Sarah yang awalnya melihat ke arah detektif Keiko tiba-tiba menundukan kepalanya dan tak berani lagi mengangkatnya.


Detektif Keiko yang melihat keadaan itu merasa janggal dan berniat untuk menghampiri Sarah. Namun saat langkah kaki detektif Keiko sudah berbelok menuju Sarah, wanita yang bekerja di galeri itu justru berjalan menjauh seolah tak ingin di dekati oleh detektif Keiko.


Detektif Keiko melihat kemana arah Sarah berjalan. Dan ketika Sarah melintasi Dalmar, dia mengangkat kepalanya sedikit lalu dengan cepat kembali menundukan kepalanya dan terus melewati Dalmar yang masih berdiri tegap ikut mengintai langkah kaki Sarah yang kemudian hilang di balik tembok.


Menyadari apa yang sedang terjadi, detektif Keiko memutuskan untuk tak melanjutkan niatnya untuk mendekat pada Sarah. Detektif Keiko khawatir jika tindakannnya itu akan membahayakan bagi Sarah yang kini menjadi mata-mata dalam kasus ini.


Detektif Keiko khawatir bahwa Sarah akan bernasib sama dengan sahabat kecilnya, Diatmika yang kehilangan nyawanya saat bekerja sebagai pekerja paruh waktu di galeri seni ini.


“Tadi lo lihat Sarah?“ tahya detektif Keiko pada rekannya sambil melanjutkan langkah mereka keluar dari galeri seni itu.


“Kayaknya dia ketakutan,” balas detektif Egan.


“Apa karena Dalmar? atau karena Gilen?“ detektif Keiko berusaha menerka.


“Bagaimana jika dia takut pada keduanya. Pada Dalmar dan Gilen!?“ balas detektif Egan.


“Lo masih percaya bahwa mereka yang melakukan pembunuhan itu pada Diatmika, Odel dan Erik?“ detektif Keiko bertanya.

__ADS_1


“Bisa saja, Odel dan Erik pelaku pembuhan Diatmika entah apa alasannya. Namun mungkin juga Odel atau Erik adalah suruhan Gilen dan untuk menutupi kejahatannya itu, Gilen berusaha membungkam Odel dan Erik selamanya,” detektif Egan berusaha mengemukakan deduksi versinya sendiri.


Detektif Keiko berjalan lurua menuju mobil dinas mereka sambil terus berpikir keras berusaha menemukan siapa sebenarnya pelaku dan orang yang bertanggung jawab atas kekacauan yang sedang terjadi ini.


__ADS_2