
Dengan susah payah detektif Egan menyeret Dalmar ke kantor polisi. Menurunkan Dalmar dari mobil mereka saja sudah sangat menguras tenaga detektif Egan dan sekarang mereka masih harus memaksa Dalmar untuk naik ke dalam lift.
Beruntung bagi detektif Egan saat akhirnyaada beberapa petugas polisi yang membantunya membawa Dalmar sampai ke dalam ruang interogasi.
Dalmar masih terus melawan saat dia diminta untuk duduk di kursi yang berada di tengah ruang interogasi.
Di depannya terdapat sebuah meja dan sepasang kursi lain yang akan digunakan oleh detektif Egan dan Keiko.
“Apa maksud kalian memaksa saya ke sini?“ tanya Dalamar geram.
“Memangnya anda mau kemana?“ tanya detektif Keiko.
“Bukan urusan anda,” balas Dalmar.
“Kamu mau melarikan diri bukan?“ desak detektif Egan.
“Melarikan diri? Apakah anda mengkhayal?“ balas Dalmar.
“Lantas kenapa anda menggunakan pesawat menuju Kuba?“
“Saya harus menjemput pak Gilen!“ hardik Dalmar.
“Mungkin anda pikir kami berdua ini bodoh, namun kami tahu bahwa pak Gilen sedang pergi ke Itali bukan Kuba. Mungkin anda lupa apa yang anda katakan kemarin,” ucap detektif Egan.
Dalmar terdiam seolah terjebak oleh kata-kata yang diucapkan dirinya sendiri beberapa saat lalu. Melihat ekspresi wajah Dalmar, detektif Egan merasa senang hati.
“Sejujurnya saya ada urusan pribadi dan saat pak Gilen pergi saya merasa bisa pergi tanpa mendapatkan penolakan saat meminta izin,” Dalmar memberi alasan.
“Saya rasa bukan itu alasan sesungguhnya. Bukan begitu detektif Egan?“
“Benar sekali detektif Keiko. “
“Apa maksud kalian berdua?“
Detektif Egan memandang tajam ke dalam mata Dalmar mencoba menyerang sisi psikologisnya, lalu Dalmar menundukan kepalanya.
__ADS_1
“Di ruang interogasi lain ada seorang wanita yang mengatakan anda telah melakukan sebuah tindakan kriminal,” ucap detektif Egan.
Wajah garang Dalmar berubah meredup seketika. Wajahnya yang tertunduk seolah semakin tenggelam namun kemudian dia berkata, “Jangan pernah percaya dengan Sarah!“
Detektif Egan mengerutkan keningnya yang membuat kedua ujung alisnya hampir bertemu lalu dia memajukan posisi duduknya.
“Bagaimana anda tahu bahwa wanita yang di dalam ruang interogasi lainnya adalah Sarah?“ tanya detektif Egan cukup terusik juga rasa ingin tahunya.
“em— maksud saya…” Dalmar menjawab dengan terbata.
“Bagaimana Dalmar? Saya kurang mendengar,” desak detektif Egan.
Dalmar terlihat kewalahan menjawab pertanyaan dari detektif Egan kali ini. Berkali-kali Dalmar menggerakan jari jemarinya dan menarik nafas dalam-dalam.
Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Dalmar memulai bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi.
“Iya, saya memang yang menghilangkan nyawa Odel dan Erik tapi semua karena kebodohan yang dilakukan oleh Sarah, orang yang susah payah aku bawa dari kampung halamannya di Kuba untuk membuat hidupnya jauh lebih baik,” ujar Dalmar yang kini mengepalkan kedua tangannya dan metanya mterbelalak memerah.
“Apa maksud anda? Anda yang menghilangkan nyawa Odel dan Erik tapi kini anda berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab anda kepada orang lain?“ gertak detektif Egan.
“Ah… andai saja saya tidak membawanya ke negara ini. Andai saja sayan tak berjanji pada kedua orang tuanya untuk selalu menjaga dia bahkan dari kesalahannya sendiri,” tutur Dalmar.
“Bagaimana kalau langsung saja pada intinya!“ timpal detektif Egan.
“Sarah, wanita yang aku anggap sebagai adik aku sendiri selama di sini, dia membunuh Diatmika karena anak perempuan yang bekerja paruh waktu itu mengetahui bahwa Sarah bekerjasama dengan Odel untuk memperjual belikan lukisan palsu,” crrita Dalmar.
Kedua mata detektif Keiko membulat sempurna. Jantungnya berdebar sangat kencang saat mendengar pengakuan dari Dalmar.
Sungguh sebuah hantaman paling keras yang pernah diterima oleh detektif Keiko, ternyata orang yang selama ini dia pecaya adalah orang yang ternyata membunuh Diatmika orang yang dianggapnya sebagai adik sendiri.
Detektif Egan melirik ke rekannya yang terlihat membantu dengan mata yang membelalak dan membatu.
Namun rasa khawatir detektif Egan sirna saat akhirnya detektif Keiko bangkit dari duduknya dan menggebrak meja di hadapannya.
“Ceritakan pada saya kronologisnya secara mendetail.“
__ADS_1
“Beberapa minggu lalu, Diatmika mendapat giliran masuk siang. Bagi mereka yang masuk siang maka punya kewajiban merapikan segala hal di luar pintu masuk dan meketakannga di gudang. Malam itu Diatmika memasuki gudang yang di dalamnya sedang berlangsung tawar menawar antara Sarah dan Odel,” tutur Dalmar.
“Lanjutkan!“ perintah detektif Keiko.
“Secara tak sengaja Diatmika mengetahui hal itu dan saat dia berjalan mundurdia menjatuhkan sesuatu yang akhirnya membuat Odel dan Sarah mengetahui bahwa obrolan mereka sedang di dengar oleh seseorang.“
“Mungkin benda itu adalah tempat bedam milik Sarah,” detektif Egan memprediksi.
“Dan tanpa sengaja Diatmika menginjaknya dan membuat tangan di balerina di tempat bedak itu terselip di sepatunya,” detektif Keiko ikut membuat delusi.
“Saya kurang tahu pasti soal itu,” ujar Dalmar.
“Kalau seperti itu ceritanya, kenapa anda perlu membunuh Odel dan Erik?“ tanya detektif Egan.
“Si breng*** itu membawa jasad Diatmika dan disembunyikan entah dimana. Setelah itu dia memeras Sarah dan membuat Sarah banyak mencuri di galeri seni. Tentu saja hal itu membuat nama baik saya terancam,” ucap Dalmar lirih.
“Jadi demi menyelamatkan Sarah dan nama baik anda sendiri, anda memutuskan membunuh Odel dan Erik?“ detrak detektif Keiko.
“Saya hanya berniat membunuh Odel. Namun saat saya pergi ke rumahnya dan berusaha mengambil nyawa Odel, Erik masuk dan melihat semuanya. Karena saya tak ingin ada saksi maka saya juga memutuskan untuk menyelesaikan hidup Erik,” desis Dalmar penuh rasa penyesalan.
Detektif Egan menyodorkan sebuah kertas dan pulpen kepada Dalmar dan meminta Dalamr untuk menulis surat pernyataan yang akan dijadikan alat bukti di pengadilan. Dalmar pun sudah memilih tak memmbantah dan menulis surat itu.
Detektif Keiko yang sejak tadi masih berdiri di salah satu sudut meja, melangkahkan kakinya keluar dari ruangan interogasi itu dan masuk ke ruang interogasi yang lain untuk menemui Sarah.
Dengan wajah merah, detektkf Keiko memasuki ruangan interonasi membuat Sarah yang melihat itu katakutan.
“Kamu yang mengabil nyawa Diatmika, adik saya!“ ujar detektif Keiko dengan nada berat dan tatapan tajam.
Melihat hal itu, Sarah tak berani untuk membantah. Sarah hanya bisa menudukan kepalanya dan berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Bagaimana bisa anda menggunakan wajah sepolos ini untuk mengelabuhi saya??“ hardik detektif Keiko namun Sarah sama sekali tak menjawab.
Detektif Keiko berjalan cepat mendekati Sarah dan hampir saja menyerang Sarah andai saja detektif Egan tak datang untuk menghentikannya.
“Sabar Kei, sabar. Jangan kotorin tangan lo sama darah pembunuh macam dia,” teriak detektif Egan sambil berusaha menahan gerakan badan detektif Keiko ya g terus berontak.
__ADS_1
“Maafkan saya! Say atak bermaksud membunuhnya,” lirih Sarah.
“Kamu akan membusuk di dalam penjara!“ teriak detektif Keiko.