Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Empat puluh Lima


__ADS_3

Detektif Egan dan Keiko dengan berat hati akhirnya memutuskan untuk pergi dari bandara dan kembali ke kantor mereka.


Di sepanjang jalan, detektif Keiko lebih banyak diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Berkali-kali matanya bergerak pelan melihat ke arah langit yang seketika mendung.


Detektif Egan yang sedang berkendara hanya diam mengetahui rekannya tengah memikirkan sesuatu yang sepertinya begitu berat.


Mobil yang mereka naiki akhirnya memasuki lahan parkir di kantor namun saat mobil berhenti detektif Keiko masih saja tak bergeming dari duduknya.


“Lo ngga mau turun?“ tanya detektif Egan namun tak mendapatkan jawaban. Lalu detejtif Egan membuka pintu dan turun dari mobil. Dia berjalan mengarah ke pintu dimana detektif Keiko masih termenung.


“Lo ngga turun, Kei?“ detektif Egan bertanya lagi setelah membuka pintu di sisi detektif Keiko.


“Eh, iya.“ Nyata sekali bahwa detektif Keiko kaget mendapati pertanyaan dari rekannya.


Detektif Keiko pun akhirnya turun dan berjalan menuju ke dalam gedung kantornya disusul detektif Egan.


“Apa sih yang lagi lo pikirin Kei?“ tanya detektif Egan yang akhirnya penasaran juga.


“Ada sesuatu yang ganggu pikiran gue,” jawab detektif Keiko.


“Itu dia, apa? Dari tadi lo sibuk sama pikiran lo sendiri.“

__ADS_1


“Tadi gue melihat sesuatu di dalam kotak yang dibawa sama Sarah,” ujar detektif Keiko sambil masuk ke dalam lift yang pintunya baru saja terbuka dan kosong.


“Benda apa? Tadi gue ngga sempet lihat karena fokus ngikutin Dalmar.“


“Gue mau pastiin dulu, baru nanti gue share ke lo,” balas detektif Keiko yang bersiap keluar karena lift hampir sampai ke lantai ruangan mereka.


Pintu lift akhirnya berhenti dan pintu lift terbuka. Kedua detektif berjalan keluar dari lift dan langsung menuju meja mereka masing-masing


Detektif Egan langsung kembali membuka buku catatan kecil yang selalu dibawanya dan beberapa berkas untuk mencocokan beberapa hal.


Sementara itu detektif Keiko langsung berhadapan dengan layar komputernya dan membuka beberapa halaman internet.


Dia juga membuka halaman belanja online tempat dia biasa berbelanja untuk segala kebituhannya selama ini, mulai dari kebutuhan harian seperti sayur hingga kebutuhan perawatan tubuh dan kosmetiknya.


Mendengar itu tentu saja detektif Egan menjadir tertarik dan ingin tahu apa yang di maksud oleh rekannya itu.


Detektif Egan akhirnya meninggalkan mejany dan berjalan ke arah meja rekannya itu berusaha melirik layar monitor di hadapannya.


“Ada apa sih?“


“Lo lihat ini deh,” detektif Keiko mengeser monitornya agar rekannya bisa mekihat lebih jelas.

__ADS_1


“Ya ampun Kei… gue pikir apaan. Kalau cuma kosmetik mah ngapain gue sampe ke sini,” gerutu detektif Egan.


“Ish lo mah bener-bener ngga teliti, gan!“ Detektif Keiko ikut kesal.


“Kenapa sih? Apa maksud lo, lagi ada promo atau ada barang yang udah lama lo incer? Oh gue tahu, ada barang langka pasti yA?“ tanya detektif Egan.


“Bukan. Ini bukan soal gue.“


“Terus soal siapa?“ detektif Egan makin penasaran.


“Coba lo liat ini,” ujar detektif Keiko sambil menunjuk sebuah gambar.


Detektif Egan melihat dengan seksama sebuah gambar bedak yang yak terlalu dia mengerti. Namun gambar itu cukup menarik karena bentuknya yang tak biasa.


Sebuah tempag bedak berbentuk bulat dengan sosok penari balet yang cantik tengah berpose.


“Apakah benda ini mengingagkan lo pada sesuatu?“ tanya detektif Keiko me,acing intuisi detektif Egan.


Detektif Egan meletakan jemarinya dj atas bibir seraya berpikir.


“Tempat bedak ini yang gue lihat tadi di dalam kotak yang dibawa sama Sarah,” ujar detektif Keiko.

__ADS_1


“Tunggu! Kalau gue perhatikan tanggan pembalet ini mirip saya patahan tangan yang kita temuin di sepatu Diatmika,” ujar detektif Egan setelah beberapa saat berpikir.


“Kayaknya tadi gue lihat tempat bedaknya Sarah juga ngga ada tangannya. Makanya gue mau mastiin apakah itu memang bentuk awalnya seperti itu atau… “


__ADS_2