Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Dua puluh Enam


__ADS_3

Birdella yang belum melepaskan kasus ini masih terus mencoba untuk kembali memeriksa ketiga jasad yang berkaitan dengan kasus yang sedang diperiksa dan ditangani oleh kedua sahabat detektifnya.


Untuk pertama kalinya, Birdella mengeluarkan tiga jasad sekaligus dari box pendingin dan dia letakan ke atas meja otopsi yang ada di ruangannya. Lampu operasi di atas jasad Odel sudah Birdella nyalakan dan dia pun mengeluarkan alat tempurnya dan kembali perkonsentrasi pada jasad Odel.


Kembali Birdella memeriksa setiap luka yang terdapat di tubun Odel. Dia kembali memeriksa rahang Odel yang retak, yang ditemukan dan disadari oleh Aris saat pertama kali mereka memeriksa jasad Odel di ruang otopsi milik Birdella.


Benar saja, retak rahang Odel jelas sekali diakibatkan oleh pukulan benda tumpul atau sebuah pukulan tangan kosong. Tapi apapun alatnya namun yang pasti pelakunya pasti memiliki tenaga yang tidak main-main.


Terdapat pula tiga lubang menganga pada tubuh Odel, dua buah lubang adalah hasil dari tembakan yang pelurunya menembus keluar tubuh Odel dan pelurunya bersarang di bingkai lukisan yang sedang dipalsukan oleh Erik, keponakan Odel yang baru saja datang beberapa bulan lalu dari Kuba.


Sementara satu lubang lagi dihasilkan dari peluru yang masuk di tubuh Odel dam bersarang ditubuhnya. Namun peluru itu pun sudah diambil oleh Aris pada saat itu dan sudah Aris cocokan dengan salah satu jenis senjata yang sampai saat ini belum diketahui siapa pemiliknya dan dimana keberadaannya.


Birdella mndapat laporan dari detektif Keiko bahwa Odel pernah batuk dan mengeluarkan darah ketika detektif Egan dan Keiko sedang melakukan introgasi kepada Odel hingga akhirnya Odel berhasil melarikan diri.


Karena laporan itu, Birdella pun memutuskan untuk memeriksa organ dalam Odel guna memastikan saat itu dia hanya berpura-pura atau kondisi Odel memang sudah parah.


Birdella langsung memeriksa ke area paru-paru Odel dan menemukan bahwa ternyata Odel memang dalam kondisi yahg tidak sehat sebelum akhirnya dia ditembak dan kehilangan nyawanya.


Ternyata ada infeksi bakteri pada paru-paru Odel dan jelas ini adalah sebuah Abses paru dan kemungkinan ini adalah yang menyebabkan Odel batuk darah saat interogasi pada saat itu.


“Tapi bagaimana bisa, seseorang dengan Abses paru seperti dia malah jadi orang yanb menjual organ dalam tubuh manusia di pasar gelap!?“ tanya Birdella pada dirinya sendiri.


“Jangan-jangan dia melakukan itu untuk biaya berobatnya sendiri,” celetuk Aris yang berdiri di depan pintu ruang otopsi Birdella yang terbuka lebar.


“Hai Aris, sejak kapan lo di situ?“ tanya Birdella yang berusaha menutupi rasa terkejutnya karena kehadiran Aris.


“Oh, saya baru aja sampai prof,” jawab Aris agak kikuk.


“Ada apa? Ada yang perlu kamu sampaikan sama gue sampai lo harus ke sini?“

__ADS_1


“Ini prof, saya hanya mau bertanya,” jawab Aris.


“Soal apa?“


“Sudah hampir dua hari saya memasukan sebuah sidik jari yang saya temukan di bingkai lukisan yang sedang Erik palsukan di TKP, tapi sampai saat ini mesin pencari belum memberikan hasil apapun,” Aris berusaha menjelaskan kesulitan yang sedang dia hadapi.


Birdella menarik salah satu sudut bibirnya dan mengerutkan dahinya sambil berpikir. Beberapa saat kemudian Birdella pun memberi sebuah usalan kepada Aris.


“Tunggulah hingga besok pagi, jika mesin pencari tak juga memberikan hasil apapun maka kamu boleh memberitahu saya agar saya meminta ijin dari pimpinan untuk membuka akses pencarian dari sumber yang jauh lebih luas.“


“Oh baik kalau begitu prof. Saya akan tunggu sampai besok pagi,” balas Aris.


Aris pun membalikkan badannya dan bersiap untuk keluar dari ruangan Birdella namun sedetik kemudian Birdella memanggilnya, membuat Aris menghentikan langkahnya.


“Mau kemana lo!?“


“Kembali ke ruangan saya prof.“


“Tentu saja prof, dengan senang hati.“


Sebuah senyuman lebar tergambar di wajah Aris yang merasa kembali memiliki kesmpatan untuk praktek langsung pada ratu otopsi di gedung kepolisian itu.


Walau otopsi bukan bidang kesukaan Aris serta bukan tujuan utamanya namun Ariz adalah tipe orang yahg menyukai pengetahuan dan selalu haus akan ilmu baru.


“Sepertinya lo sudah mempersiapkan diri sejak tadi,” ujar Birdella sambil tersenyum.


“Bagaimana maksudnya prof?“ tanya Aris yang kebingungan dan tak menegerti maksud atasannya itu.


“Itu pakaian lo,” jawab Birdella sambil melihat Aris dari atas sampai bawah.

__ADS_1


Aris sudah menggunakan pakaian serba hijau khas seragama khas untuk melakukan sebuah tindakan otopsi bahkan lengkap dengan penutup kepala.


“Oh ini. Tadi saya sedang memeriksa kembali barang bukti. Itu lukisan palsu yang kemarin. Saya merasa takut ada beberapa helai rambut saya jatuh dan merusak barang bukti. Sementara baju ini, agar baju saya tidak kotor karena residu peluru yang masih ada di lukisan itu,” panjang lebar Aris menjelaskan dan Birdella hanya tersenyum lebar memberi reaksi pada penjabaran dari Aris itu.


“Apa mungkin Odel berusaha memalsukan lukisan-lukisan terkenal itu pun karena butuh biaya untuk berobat?“ Birdella melemparkan pertanyaan kepada Aris mencoba memeriksa isi kepala juniornya itu.


“Bisa jadi prof. Tapi apakah sebanyak itu biaya yang harus dia keluarkan untuk sebian Abses paru?“ Aris memberi pertanyaan balik pada Birdella.


“Kalau bukan karena alasan biaya pengobatannya, lalu untuk apa dia memalsukan lukisan dan juga menjual organ dalam tubuh di pasar gelap?“


“Apa mungkin Odel berusaha memalsukan lukisan itu demi memenuhi keinginan seseorang, prof?“


“Tapi siapa? Apa mungkin si pemimpin galeri seni itu, Gilen?!“ Birdella mengikuti jalan pikiran detektif Keiko.


“Kemungkinan itu bisa saja terjadi, tapi saya khawatir bahwa tebakan anda berdasarkan cerita yang akhir-akhir ini disampaikan oleh detektif Keiko.“


“Maksud kamu, karena sering mendengar analisa detektif Keiko yang selalu menuju ke Gilen makanya di bawah alam sadar, saya juga menuduh Gilen?“


“Maaf prof jika itu menyinggung perasaan anda. Namun naluri murni kita adalah yang paling kita butuhkan untuk kasus ini,” ungkap Aris.


Birdella meletakan ibu jari dan telujuk ke dagunya dan berusaha menjernihkan pikirannya, namun ternyata sulit baginya untik tidak mencurigai Gelen dalam kasus ini.


“Jika bukan Gilen, siapa lagi?“ tanya Birdella pada Aris.


“Saya sendiri tidak yakin karena sebagian dari kepala saya juga mengarah pada Gilen sama seperti anda,” jawab Aris ambil tersenyum dan menggaruk kepalanya.


“Ah dasar lo,” balas Birdella tertawa.


“Dari retak rahang yang dialami oleh Odel, saya berpikiran mungkin dia mendapatkan ancaman dari seseorang. Entah soal apa, bisa jadi soal pemalsuan lukisan itu atau karena hal lain seperti hutang yang belum bisa dia bayar,” ujar Aris memberi analisa.

__ADS_1


“Ya mungkin karena hal-hal itu atau karena hal lain,” balas Birdella sambil melempar pandangan ke jasad Erik yang berada di sebelah jasas Odel.


__ADS_2