Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Dua Puluh Empat


__ADS_3

Dengan sikap yang dingin Gilen mengusir detektif Keiko dan Egan keluar dari ruangannya. Tentu saja sang penjaga pribadi, Dalmar dengan senang hati menjalankan perintah dari tuannya itu.


Kedua detektif itu diseret keluar oleh para petugas keamanan yang dipmpin oleh Dalmar yang berjalan di depan. Resepsionis cantik melihat ke arah kedua detektif itu diseret keluar dan di sebelahnya berdiri Sarah yang hanya mampu terdiam melihat pemandangan di hadapannya itu.


Mereka hampir dilempar keluar ketika keduanya berontak berusaha melepaskan diri di depan pintu masuk galeri seni itu.


“Kenapa kalian mempersulit hidup saya,” ujar Dalmar.


“Kami tak bermaksud mempersulit kamu,” balas detektif Egan sambil membetulkan pakaiannya yang berantakan karena dipaksa keluar oleh para petugas keamanan.


“Lantas apa maksudnya ini? Kalian datang lagi dan lagi ke sini!“ ujar Dalmar aetengah membentak.


“Bukankah anda sendiri yang meminta kami kembali beberapa hari lalu!?“ ucap detektif Keiko.


“Betul. Tapi bukankah seharusnya kalian tahu diri sedikit, bila pak Gilen tak ingin menemui kalian sebisanya kalian menahan diri dulu,” Dalmar memberi sedikit saran.


“Kami berhak menanyai pak Gilen karena dia— “


“Karena pak Gilen masih berstatus saksi maka kalian tak bisa seenaknya terhadap pak Gilen,” sela Dalmar.


“Tapi hari ini kami bawa surat perintah untuk mendekat dan menanyai Gilen,” ujar detektif Keiko sedikit menekan.


“Tolonglah demi istri dan anak saya untuk hari ini kalian mengalah dulu,” Dalmar memohon.


“Tidak bisa! Surat perintah kami ini ditanda tangani hanya untuk hari ini,” balas detektif Keiko.


DEERRRTTT


DEERRRTTT


DEERRRTTT


Ponsel di dalam jaket detektif Egan bergetar memaksanya mengalihkan perhatiannya dari perdebatan antara rekannya dengan Dalmar.


“Hallo dengan detektif Egan di sini.“


“Hallo Egan. Ini saya, Aris.“

__ADS_1


“Ada apa? Katakanlah,” sahut detektif Egan.


“Aku memiliki sebuah informasi penting yang mungkin menyangkut dengan kasus kita kali ini. Aku pikir kalian harus ke sini dan akan aku jelaskan semua di sini,” ujar Aris di ujung sana.


“Baik. Aku dan detektif Keiko akan segera ke sana.“


Setelah memutus hubungan telepon antara dia dan Aris, detektif Egan pun langsung menepuk pundak detektif Keiko untuk menghentikan perdebatannya dengan Dalmar.


Detektif Keiko yang mengerti isyarat dari rekannya itu pun membungkam mulutnya sendiri dan membalikkan badan dan menjauh dari Dalmar.


“Kami akan kembali lagi ke sininkarena urusan kami dengan Gilen belum selesai,” ujar detektif lalu mengekor langkah detektif Keiko menuju mobil.


Hanya butuh beberapa menit hingga mereka berdua sudah sampai ke kantor dan segera menemui Aris di ruangannya yang juga sudah menunggu mereka sejak tadi.


“Jadi ada info penting apa yang perlu kami tahu?“ tanya detektif Egan.


“Aku mendapat info dari temanku di divisi lain mereka sedang melakukan investogasi tentang lukisan-lukisan palsu di galeri seni itu,” ujar Aris berusaha menjelaskan.


“Sesuai perkiraan kita, bahwa Gilen memang melakukan kecurangan di dalam galeri seninya itu,” ujar detektif Egan.


“Jadi bukan hanya lukisan yang kita temukan itu saja yang dipalsukan?“ tanya detektif Keikol


“Rasanya kita bisa menekan Gilen dengan kasus ini,” detektif Keiko mendapatkan ide.


“Maksudnya?! Kita akan melibatkan kasus penipuan lukisan ini dalam kasus Diatmika?“ tanya Aris.


“Bahkan surat perintah saja tak membuat kita bisa menyentuhnya,” detektif Egan ragu.


“Bukankah kita ke sini karena diminta Aris, bukan karena tak bisa menggunakan surat perintah ini?!“ detektif Keiko mengangkat surat perintah yang masih ada di tangannya.


“Lo betul juga sih,” jawab detektif Egan.


“Lantas ada info apa lagi ris?“ tanya detektif Keiko.


“Soal lukisan yang kalian temukan di tempat Odel dan Erik kehilangan nyawanya itu, aku melihat sebuah sidik jari selain sidik jari selain milik kedua orang itu,” ujar Aris.


“Ini penemuan barunkah?“ tanya detektif Keiko.

__ADS_1


“Hai, lukisan yang mereka palsukan ini cukup besar, Kei. Aku butuh banyak usaha untuk meneliti tiap sudutnya,” gerutu Aris.


“Oke, oke. Kami ngerti kok ris, hanya berusaha memastikan,” ujar detektif Egan berusaha menenangkan Aris yang terlihat gusar.


“Ayolah ris, kita ini satu tim dan gue ngga mau ada yang terlewat,” balas detektif Keiko.


“Begitu juga aku, Kei.“


“Apa lo udah tahu milik siapa sidik jari itu?“ tanya detektif Keiko.


“Mesin pencari masih bekerja dan belum memberikan hasil. Gue akan—”


“Akan memberitahu kami kalau sudah mendapatkan nasilnya,” sela detektif Egan.


“Ah, bener begitu maksud aku,” sambung Aris dan diiringi tawa kecil detektif Egan dan Keiko.


Kedua detektif itu pun keluar dari ruangan Aris dengan segumpal harapan di dalam hati dan kini mereka berdua turun dan keluar dari kantor untuk menuju sebuah cafe untuk memesan makan siang dan secangkir kopi untuk memberi kesegaran pada sel-sel otak mereka untuk nantinya mereka paksa lagi bekerja.


Mereka duduk di sebuah sofa yang saling berhadapan dengan meja di tengah mereka. Tak berapa lama pesanan mereka keluar persatu dimulai dari kopi.


“Menurut lo, sidik jari siapa yang ada di lukisan palsu itu?“ tahya detektif Egan sambil menerima segelas kopi hitam hangat pesanannya.


“Gue masih menaruh curiga besar pada Gilen,” jawab detektif Keiko sambil menminum es kopi latte kesukaannya.


Detektif Keiko merasakan kesegarannyang meluncur di tenggorokannya saat meminum es kopi latte itu dan membuatnya mendadak merasa rileks.


“Apakah sekarang Gilen menjadi tersangka utama kita?“ tanya detektif Egan.


“Bukankah sejak awal memang begitu? Dia adalah orang yang paling mencurigakan, apalagi sejak Odel juga kehilangan nyawa.“


Detektif Keiko yang sejak menangani kasus hilangnya Diatmika semakin merasa menggebu-gebu saat akhirnya dia merasa semakin dekat dengan orang yang telah menghilangkan nyawa Diatmika, sahabat yang sekaligus adik baginya itu.


“Bagaimana dengan Dalmar?“ kali ini detektif Egan meminta pendapat tentang orang yang memiliki kemungkinan untuk juga melakukan penghilangan nyawa Diatmika.


“Dalmar? Sudah juga gue pernah bilang, dia juga pasti bertanggung jawab walau mungkin dia melakukan itu atas dasar ancaman dari Gilen. Setiap kali dia mengusir kita, Dalmar selalu memohon dan berbicara soal istri dan anaknya,” ujar detektif Keiko.


“Betul juga. Mungkin dia terpaksa menjadi kaki tangan dalam kasus hilangnya nyawa Diatmika karena keluarganya terancam,” detektif Egan juga mulai terpikir ke arah sana.

__ADS_1


“Dasar manusia bre***** Gilen itu. Bisa-bisanya dia memanfaatkan orang lain demi tujuannya sendiri,” gerutu detektif Keiko sambil meremas gagang sendok di tangannya.


Nafas detektif Keiko mulai terasa berat kembali saat mereka membahas Gilen dan Dalmar. Terbayang di pikirannya bagaimana kedua manusia itu melakukan pembun**an keji itu pada adiknya, Diatmika.


__ADS_2