Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Lima Puluh dua


__ADS_3

Dengan terburu-buru detektif Egan berjala menuju lift di ujung lorong. Namun seperti saat dia menuju ke lantai ini, kali ini lift itu pun berjalan lambat membuatnya semakin kehabisan stok kesabaran.


Setelah menunggu beberapa menit dan angka penunjuk lantai dimaba lift terbuka masih belun juga bergerak akhirnya dengan kebulatan tekad detektif Egan berjalan menuju tangga darurat yang berada di samping lift.


Walau menaiki anak tangga menuju lantai dimana ruangan interogasi berada namun detektif Egan merasa seakan memiliki kekuatan lebih saat dia membawa amplop coklat yang berisi hasil analisa dari Aris.


Detektif Egan mempercepat langkahnya dan berjalan lurus menuju ruang interogasi.


Saat detektif Egan melewati ruangan pengintai di sebelah ruangan interogasi pintunya terbuka dan pak Brox keluar.


"Bagaimana?" tanya pak Brox.


"Di dalam map ini ada sesuatu yang bisa menekan Sarah," jawab detektif Egan penuh percaya diri.


"Bagus! Segeralah masuk ke dalam sana," perintah pak Brox.


Selesai berbicara dengan pak Brox, detektif Egan malanjutkan langkahnya dan membuka pintu ruang interogasi yang ternyata tak sesepi saat dia meningalkan ruangan intai di sebelah ruangan itu.


"Mau sampai kapan kamu diam Sarah?" gertak detektif Keiko sambil menggebrak meja di hadapanya.


Sarah yang masih duduk di hadapan detektif Keiko terlihat sangat ketakutan melihat detektif Keiko yang seolahbyak bisa lagi menahan dirinya.


Detektif Egan berjalan masuk dan mendekat ke arah rekannya yang bahunya naik turun dengan cepat setelah melepaskan segala emosinya.


Detektif Egan membisiki rekannya untuk berusaha kembali tenang dan dia membuka map coklat di tangannya, berusaha memberitahu rekannya tentang apa yang telah ditekukan oleh Aris.


Kedua kata detektif Keiko terbelalak membaca apa yang tertulis di kertas yang berada di dalam map cokelat itu.


"Bener ini?" antara percaya dan tak percaya detektif Keiko bertanya.

__ADS_1


"Ini yang gue dapet dari Aris," balas detektif Egan dengan keyakinan penuh.


Detektif Keiko kini mengalihkan pandangannya ke arah Sarah kembali sambil berdecak penuh rasa kesal namun dia tetap berusaha kembali tenang sesuai arahan rekannya.


"Kamu mau mengaku atau tidak?" tanya detektif Keiko.


"Sampai kapan pin saya tak akan mengakui apapun karena saya tak melakukan kesalahan apapun,"


Sarah sungguh orang yang tak mudah tergoyah.


"Kalau kamu mengakui apa yang kamu lakukan maka saya bisa saja menawarkan kamu sesuatu," detektif Keiko mengiming-imingi.


Sarah kembali terdiam namuh jelas sekali terlihat bahwa dia sedang berpikir keras.


"Apa yang saya dapatkan jika saya bekerjasama?" tanya Sarah.


Detektif Egan tersenyim menyadari bahwa rekannya sedikit lagi memenangkan pertarungan psikologi itu. Maka karena itu dia mengambil inisiatif untuk mengambil interogasi ini.


"Berapa banyak?" tanya Sarah mulai tertarik.


"Tergantung apa yang bisa kamu berikan," jawab detektif Egan.


Sekali lagi, Sarah terdiam berusaha menimbang-nimbang.


"Ketahuilah Sarah, kami sudah mengantongi sidik jari kamu di tempat yang semestinya kamu tak berada," ujar detektif Egan berusaha mengintimidasi.


Raut wajah Sarah seketika berubah pucat dan membuat detektif Egan merasa selangkah lebih dekat membuat Sarah membuka mulut.


"Ta— tapi bagaimana mungkin ada sidik jari saya di rumah Erik?" tanya Sarah kikuk.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa tahu bahwa kamu menemukan sidik jari kanu di rumah Erik? Kamu mengenalnya?" desak detektif Keiko.


Sarah semakin menjadi kikuk sag mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh detekrof Keiko.


"Bukankah kamu bilang bahwa kamu tak mengenali orang yang sering menjadi tamu spesial di ruangan pak Gilen?" kini detektif Egan yang mencecar.


"Bagaimana caranya kamu mengenal Erik jika tak mengenal Odel?" tanya detektif Keiko kembali menekan.


Sarah yang menyadari bahwa kini dirinya terpojok oleh kedua detektif itu ditambah bukti sidik jari yan dimiliki para detektif akhirnya memilih untuk membuka suara.


"Sungguh bukan saya yang menghilangkan nyawa Erik dan Odel," ujar Sarah.


"Kalau bukan kamu? Siapa?" desak detektif Egan.


"Yang membunuh mereka adalah Dalmar."


"Apakah semua atas arahan dari pak Gilen?" tanya detektif Keiko.


"Bukan. Itu semua karena keingian dari Dalmar sendiri," jawab Sarah.


"Apa yang membuat Dalmar melakukan itu?" tanya detektif Egan.


"Kemungkinan dia ingin mengusai hasil penjualan lukisan itu seorang diri."


"Lantas apanyang sedang kamu lakukan di tempat kejadian?" tanya detektif Egan.


"Aku dipaksa Dalmar untuk membantunya mengambil lukisan itu saat Odel dan Erik sedang keluar untul mengecek uang hang dijanjikan Dalmar di mesin ATM," lanjut Sarah menceritakan.


"Kenapa kamu mau?" tanya detektif Keiko.

__ADS_1


"Saya bisa masuk ke negara ini karena bantuan Dalmar dan dia mengancam akan melaporkan saya ke pihak yang berwenang untuk memaksa agar saya dideportasi dari negara ini," jawab Sarah dengan cucuran air mata.


__ADS_2