Kode 810 : Hilangnya Diatmika

Kode 810 : Hilangnya Diatmika
Bab Empat Puluh


__ADS_3

Suara langkah kaki mendekat ke arah tempat dimana detektif Egan dan Keiko menunggu selama kurang lebih empat puluh lima menit.


Saat pintu ruangan itu dibuka, berdiri sesosok pria tegap yang sudah begitu familiar untuk kedua detektif itu, siapa lagi kalau bukan Dalmar sang kaki tangan penanggung jawab galeri seni itu.


“Selamat siang detektif!“ ujar Dalmar dengan nada sopan tak seperti biasanya.


Detektif Egan berdiri terlebih dahulu dan menyambut salam dari Dalmar yang berdiri tegap di ambang pintu.


“Kata Rara anda berencana menemui pak Gilen!?“ Dalamar berusaha mengkonfirmasi.


“Rara?“ ujar detektif Egan berusaha mencari info soal nama yang barusan diucapkan oleh Dalmar.


“Rara adalah sekretaris pak Gilen,” jawab Dalmar.


“Oh, ternyata bukan nama resepsionis yang biasa menyambut kami di balik meja yang melingkari beberapa staff di situ,” terdengar nada kecewa ditiap kata yang terucap dari mulutnya.

__ADS_1


“Oh maaf jika jawaban saya mengecewakan anda,” Dalmar memvalidasi perasaan detektif Egan.


“Bagi saya itu tak terlalu penting,” ujar detektif Egan berusaha kembali bersikap biasa saja saat akhirnya dia berhadapan dengan Dalmar yang ternyata pandai menilai kondisi dan situasi seseorang.


“Kapan kami bisa bertemu dengan pak Gilen?“ detektif Keiko menyelak.


“Oh iya, saya hampir lupa. Kalian diminta untuk ke dalam ruangan pak Gilen sekarang. Mari saya antar,” ucap Dalmar yang kemudian berjalan terlebih dahulu dan memberi isyarat kepada detektif Egan dan Keiko untuk mengekor langkahnya.


Detektif Keiko yang mengerti apa maksud dari Dalmar lalu bangkit dari duduknya dan detektif Egan yang juga mengerti membiarkan detektif Keiko untuk berjalan lebih dulu dan dia mengikuti keduanya dari belakang.


Walau mereka beberapa kali masuk ke dalam ruangan Gilen dan beberapa kali pula melewati meja itu, baru kali ini mereka memberi fokus terhadap meja itu.


Seorang wanita muda nan cantik, memiliki rambut lurus sepinggang dan berpakaian formal yang terlihat sangat cocok dengan wajah dan tubuhnya yang bagus, duduk di balik meja itu.


Dalmar sempat berbincang bebetapa saat dengan wanita di hadapannya itu lalu kemudian membalik tubuhnya dan kini kembali berhadapan dengan kedua detektif yang sedari tadi hanya berdiri diam di balik tubuh Dalmar.

__ADS_1


“Ini Rara, sekeretaris yang saya bicarakan tadi. Bisa anda lihat bahwa Rara jauh lebih cantik dibanding resepsionis yang di depan sana,” puji Dalmar pada wanita yang kini merah merona wajahnya seakan menahan rasa malu sekaligus bahagianya.


“Ketahuilah Dalmar, bahwa cantik itu relatif. Bisa cantik di mata anda namun tidak di mata saya, begitu pula sebaliknya,” ujar detektif Egan dengan penuh kepercayaan diri.


Kata-kata dari detektif Egan itu ternyata mampu merusak suasana hati Rara dalam seketika. Senyumnya yang tadi terkembang sempurna kini berganti sudut bibirnya yang melengkung ke bawah.


“Mungkin selera and memang rendah detektif,” Dalmar masih berusaha menghibur Rara.


“Saya sepertinya tak pernah melihat anda Rara, padahal kami sering melihat meja unik ini setiap kami keluar masuk ruangan pak Gilen,” ujar detektif Keiko berusaha menghentikan perdebatan konyol dua laki-laki di hadapannya itu.


“Oh, jika anada tak melihat saya di sini, mungkin karena saya sedang mengerjakan tuga saya yang lain,” jawab Rara.


“Bisa berikan kami contoh pekerjaan apa yang anda maksud itu?“ detektif Egan bertanya dengan menggunakan nada menghina yang berusaha dia buat tak kentara.


“Eh…. Eh… “ Rara sepertinya kebingungan dan kikuk emjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh detektif Egan.

__ADS_1


“Bukankah kalian ingin beryemu dengan pak Gilen?!“ ujar Dalmar berusaha menyelamatkan Rara dari pertanyaan yang membuatnya tak nyaman itu.


__ADS_2