Ku Tulis Namamu Di Hati

Ku Tulis Namamu Di Hati
Perbuatan Nekat


__ADS_3

Tanpa William sadari setelah ia menjual Bitcoin nya, tiba-tiba harga Bitcoin di pasaran menurun secara perlahan, dalam satu jam saja pergerakan harga Bitcoin telah mengalami grafik penurunan harga.


Tidak ada yang mengetahui jika kini William sudah berubah menjadi seorang jutawan muda, ia sebenarnya ingin membeli sebuah vila dan ingin membawa keluarga ayah angkatnya namun ia belum leluasa melakukannya. Setidaknya ia membutuhkan alasan yang kuat dengan kepemilikan asetnya tersebut.


Jika beberapa saat lalu harga sudah menyentuh titik tertingginya maka sekarang secara pelan-pelan akan menuju garis bawah. William hanya bisa mengusap dada, jika saja ia terlambat maka ia tidak akan menghasilkan keuntungan maksimal.


William ingin kembali menginvestasikan uangnya dalam bentuk Bitcoin, namun melihat tren harganya yang cenderung turun ia menahannya dan menunggu hingga titik terendah.


Keesokan paginya William beraktivitas seperti biasanya. Setelah berolahraga rutin, ia melanjutkan untuk berangkat bekerja ke perusahaan EG menggunakan bus umum.


Setelah dua bulan lebih bekerja sebagai karyawan magang, William menyadari jika ada kejanggalan dalam laporan yang diberikan oleh seorang pengawas dengan data yang ia temukan di lapangan.


Menyikapi hal tersebut, William menyampaikan temuannya kepada Diana yang memang secara hirarki sebagai atasannya juga. Diana yang mendapatkan data dari William sangat senang, karena hal ini adalah sesuatu yang memang sedang dicari oleh Direksi perusahaan.


Selisih antara produksi dengan penjualan membuat perusahaan beberapa kali tidak mendapatkan profit, hal ini tentu saja membuat Direksi marah besar.


"Terimakasih atas laporan yang telah kau berikan, kau akan mendapatkan kontribusi yang layak" ucap Diana kepada William.


"Tidak perlu Nona, aku melakukan hal ini karena memang sudah menjadi pekerjaan ku" ucap William dengan tenang.


Di sela waktu istirahatnya William membuka pasar saham NASDAQ, selama dua bulan magang di Perusahaan Eternal Grace ia selalu memperhatikan pergerakan harga saham perusahaan tersebut. Ia menunggu waktu yang tepat untuk membeli saham perusahaan tersebut yang kini berharga 75 Dollar perlembar saham.


Sebagai pengumpul data, tentu William mengetahui keuntungan serta potensi besar perusahaan EG di masa depan.


Di sisi lain William juga memperhatikan gerakan tidak wajar pada sebuah perusahaan menengah yang kini sedang naik daun, namun dalam perdagangan nilai saham perusahaan tersebut anjlok hanya senilai 10 Dollar. Padahal sebulan lalu harga saham tersebut masih berada di angka 100 Dollar perlembar dan diperkirakan terus meningkat.

__ADS_1


Menyadari adanya spekulan besar yang sedang bermain di belakang layar demi memperoleh keuntungan, buru-buru William menggelontorkan 250 Juta Dollar uang miliknya. Pada sesi perdagangan siang itu William berhasil membukukan namanya dengan 25 Juta lembar kepemilikan saham.


Bersamaan dengan hal itu, di sebuah gedung pencakar langit tampak seorang pria paruh baya menyaksikan kegiatan pembelian saham yang sangat besar bernilai 25 Juta lembar.


"Sial... Siapa yang berani mengacaukan rencana Tuan muda Walton?" ucap lelaki itu sambil mencari tahu profil orang yang baru saja membeli saham.


"Mr. Lim's? Siapa orang ini?" gumam lelaki yang bernama Fredy tersebut.


Dengan wajah kesal ia segera memberikan laporan kepada Tuan muda Walton melalui panggilan telepon.


"Halo.. Selamat siang Tuan muda" ucap Fredy saat telepon sudah tersambung.


"Ada apa" jawab seorang pria lainnya di ujung telepon.


"Owh.. Berapa peluang keuntungan kita? Mengingat aku sudah menggelontorkan uang yang tidak sedikit untuk menghancurkan harga saham tersebut" ucap Tuan muda Walton.


"Jika bertindak cepat kita masih memiliki peluang 60 persen. Harga saham sekarang sudah 10 Dollar lembar dan merupakan titik terendahnya apakah kita akan membelinya? Lalu akan melepasnya kembali saat harganya mencapai batas tertinggi" jawab Fredy dengan hati-hati.


"Baiklah jika begitu, lakukan saja sesuai rencana dan aku tidak mau uangku berkurang" ucap Tuan muda Walton sebelum memutus sambungan teleponnya.


Ketika panggilan itu berakhir, dahi Fredy dibasahi oleh keringat dingin. Ia tentu tahu berapa uang yang sudah dihabiskan untuk menjatuhkan harga saham ke titik terendah ini. Selanjutnya ia segera membeli saham perusahaan tersebut dengan gila-gilaan di saat semua orang ingin melepaskan saham tersebut karena kepanikan.


Setelah menginvestasikan uangnya, William hanya bisa menghela napas pendek. Ia berharap langkahnya kali ini tidak keliru, uangnya yang tersisa tinggal 6 Juta Dollar. Jika ia berhasil dengan prediksinya maka kekayaannya akan meningkat pesat, namun jika gagal ia juga tidak akan mengalami kerugian sebab ia tahu jika perusahaan yang ia investasikan adalah perusahaan sehat.


"Hai.. Apakah kau terbiasa main saham juga?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.

__ADS_1


William menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita muda yang sudah ia kenal sebagai Jasmine. Wanita muda tersebut merupakan karyawan yang bertanggung jawab pada divisi penjualan.


"Aku masih belajar" jawab William sambil mengalihkan jendela aplikasi sahamnya yang masih terbuka di layar komputernya.


"Sepertinya kau cukup mahir membaca grafik pergerakan saham. Jika berkenan sore ini aku mengundangmu ke apartemen ku. Kebetulan aku ingin berkonsultasi denganmu terkait saham yang akan aku investasikan" ucap Jasmine dengan serius.


"Apakah kau serius?" ucap William sambil mengernyitkan alisnya.


"Ya, tentu saja. Berapa nomor WhatsApp mu? Aku akan mengirimkan alamatnya" ujar Jasmine dengan santai.


Dari kejauhan nampak Diana memperhatikan kedekatan William dengan Jasmine, ada aura ketidaksukaan yang terpancar di wajahnya.


Jasmine dan Diana memiliki persaingan dalam hubungan kerja, jika Diana bertanggungjawab atas Unit Produksi maka Jasmine bertanggungjawab atas Unit penjualan. Selama ini ada masalah di Unit produksi, sehingga sering menjadikan Diana sebagai bahan olokan di saat rapat.


Pada saat ini, Diana khawatir jika William memberikan data yang sama kepada Jasmine, data penyimpangan hasil produksi yang baru saja dilaporkan William kepada Diana.


Di sisi William, setelah berpikir sejenak akhirnya William memberitahukan nomor WhatsApp nya kepada Jasmine.


"Oke, aku sudah menyimpannya dan alamatku sudah aku kirim barusan" ucap Jasmine dengan santai.


Setelah perbincangan singkat itu, Jasmine kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia memang dikenal sebagai wanita yang mudah bergaul dan tidak sombong meskipun sebenarnya ia berasal dari keturunan keluarga besar di Kota NY.


Sementara William juga mengalami perubahan yang drastis dalam hidupnya sejak ia putus dari Catherina. Selain bentuk fisiknya yang telah banyak berubah, kini William juga memiliki kepribadian yang lebih terbuka dan percaya diri. Semasa kuliah dulu ia hanya menyampaikan gagasannya dalam bentuk tulisan. Namun kini ia sudah dengan lancar memaparkan hasil analisa serta gagasannya di depan orang banyak.


William tidak lagi merasa malu atau minder ketika berhadapan dengan orang-orang, ia sudah bisa beradaptasi dengan cepat ketika mulai bekerja di perusahaan Eternal Grace. Apalagi ia juga tinggal di apartemen mewah, jadi sudah terbiasa dengan gaya dan obrolan orang-orang yang berada di lingkungannya.

__ADS_1


__ADS_2