
Saat Jasmine dan William tengah melakukan makan bersama tiba-tiba pintu ruangan tersebut diketuk, seorang pelayan dengan sedikit ketakutan berkata.
"Tuan dan Nona bisakah kalian berdua pindah ke ruangan yang lain. Ada keluarga Howard yang ingin memakai tempat ini'?"
"Owh begitu, baiklah kami akan segera pergi. Kebetulan kami juga sudah hampir selesai" ujar William dengan santai.
"Terimakasih Tuan atas pengertiannya" ucap pelayan tersebut dengan hormat.
"Wil, kenapa kita harus mengalah?" ujar Jasmine dengan ekspresi cemberut.
" Aku ingin bermain dengan mereka, biarkan mereka tertawa hari ini namun besok mereka akan menangis secara perlahan. Saat ini kita belum kuat, jadi kita masih perlu menahan diri sedikit saja" ucap William sambil menyentuh hidung Jasmine.
"Baiklah, apapun itu aku akan mengikuti mu. Lalu sekarang kita akan kemana?" tanya Jasmine dengan bingung.
"Kita akan ke rumah ayahmu" ucap William dengan tenang.
"Apa?"
Jasmine terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Bukankah aku sudah berjanji untuk membantu keluargamu membayar hutang?" tanya William sambil menarik tangan Jasmine untuk segera meninggalkan ruang makan tersebut.
"Oh ternyata kalian yang berada di sini" tiba-tiba terdengar suara Diana saat melihat Jasmine dan William.
"Dasar cowok parasit" ucap Justin yang juga hadir.
"Aku tidak menyangka jika kau benar-benar menjadi parasit, untung saja dulu aku tidak membiarkan mu masuk ke dalam kehidupan ku" ucap Catherina yang juga ikut hadir.
"Owh rupanya kalian, pantas saja selera makanku hilang. Ternyata bau sampah itu berasal dari mulut kalian" ucap William membalas ucapan mereka.
"Jasmine, sekarang aku sudah memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dari kau. Cepat atau lambat aku juga akan mengusir mu dari perusahaan keluarga mu" cibir Diana dengan dingin.
"Tidak ada yang bisa mengusirku dari perusahaan keluarga ku, apalagi kau yang hanya sebagai gundik dari Abraham" ujar Jasmine dengan sinis.
Mendengar ucapan Jasmine barusan tentu saja membuat Diana marah, namun Jasmine sudah menyerangnya di tempat umum maka ia akan membalasnya dengan lebih kejam.
"Jaga mulutmu" bentak Diana dengan ekspresi buruk.
__ADS_1
"Bukankah itu kenyataan? Kau memanfaatkan pamanku untuk karir mu di perusahaan keluarga ku, jika bukan tidak tahu malu lantas apa namanya?" sahut Jasmine dengan kesal.
"Kamu.. Perempuan kurang ajar" ucap Justin sambil berusaha memukul Jasmine.
William yang melihat kejadian tersebut langsung menghalangi Justin, tangan kekarnya langsung menangkap pergelangan tangan Justin lalu memelintirnya dengan kuat sambil melayangkan sebuah tamparan keras.
"Plak"
Suara tamparan menggema di dalam ruangan, lalu William berkata.
"Aku diam bukan berarti takut, namun energi ku terlalu berharga jika dibuang untuk mengurusi sampah seperti kalian" ucap William dengan tegas.
"Ingatlah, jika di masa depan kalian berani mengusik wanitaku maka aku tidak akan segan menghancurkan kalian" ancam William dengan aura yang mendominasi.
Setelah mengatakan hal itu, ia membawa Jasmine keluar untuk segera ke rumah orang tuanya. William sudah muak dengan orang-orang seperti Justin dan Diana. Apalagi di sana ada Catherina yang dulu pernah ia cintai.
"Kurang ajar, parasit itu berani-beraninya memukulku, aku akan membalasnya dengan seribu kali lebih sakit" umpat Justin.
Diana dan beberapa orang lainnya yang berasal dari Keluarga Howard hanya bisa menahan marah saat melihat keduanya pergi, walau bagaimanapun mereka tidak mudah jika harus berhadapan dengan keluarga Koch.
"Kamu adalah wanitaku, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk mengganggumu" ujar William dengan serius.
"Sebaiknya kita harus segera ke rumah orang tuamu. Aku khawatir masalah ini akan berefek buruk jika kita tidak buru-buru membereskan masalah internal" ujar William.
"Apakah kamu sudah siap berhadapan dengan keluargaku?" tanya Jasmine dengan ragu-ragu.
"Tentu saja sudah yakin, aku sudah mengambil putri mereka dan aku harus bertanggungjawab untuk hal itu" goda William.
"Aku takut kehilanganmu. Aku takut Keluarga ku tidak setuju dengan hubungan kita" ucap Jasmine.
"Sudahlah, kamu terlalu khawatir. Biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan kepala terangkat" ucap William dengan mantap.
Setelah memesan kendaraan secara online, keduanya segera berangkat meninggalkan Hotel menuju kediaman keluarga Jasmine. Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan Jasmine terus memeluk lengan William, ada rasa hangat yang ia rasakan.
"Tampaknya besok kita harus membeli sebuah mobil baru" ucap William.
"Terserah kau saja" jawab Jasmine dengan lembut.
__ADS_1
Jika itu kemarin, maka Jasmine akan mendebatnya. Namun setelah melihat William membeli kembali apartemennya, membuat Jasmine percaya jika William bisa melakukan lebih.
Setelah setengah jam, mereka tiba di sebuah mansion mewah kediaman keluarga Koch. Ini adalah pertama kalinya William masuk ke dalam rumah yang seperti istana.
"Tampaknya aku tidak salah memilih mu dan bergantung padamu di masa depan" ucap William dengan ekspresi santai.
Jasmine hanya tersenyum kecil mendengar ucapan dari lelaki yang kini sudah ia anggap belahan jiwanya itu. Menurutnya William memiliki sisi terdalam yang sulit ia jangkau, namun ia juga percaya jika lelakinya tersebut memiliki tanggungjawab yang besar.
"Selamat datang Nona" ucap seorang pelayan keluarga Koch saat melihat Jasmine dengan seorang lelaki muda.
"Terimakasih Angela" jawab Jasmine dengan ramah.
Setelah di dalam rumah, William di bawa ke dalam ruang keluarga yang bersifat pribadi. Jasmine tahu jika mereka akan membahas hal-hal sensitif, jadi ia tidak mau ada orang lain yang mengetahuinya.
"Ayah, ibu perkenalkan ini adalah William" sapa Jasmine sambil memperkenalkan seorang pria yang tampak akrab dengannya.
"Halo Tuan dan Nyonya, saya William" ucap William memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Silahkan duduk" ucap ayah Jasmine.
"Jasmine, maafkan ayah. Hari ini ayah tidak bisa mencegah Abraham untuk menunjukkan Diana sebagai Direktur Operasional. Sebagian besar Dewan direksi kini berada di pihaknya, posisi ayah menjadi semakin sulit" ucap Bill Koch yang langsung pada topik perusahaan Eternal Grace.
"Tidak apa-apa ayah, mungkin aku harus lebih banyak bersabar lagi" ucap Jasmine.
"Siapa pria yang kau bawa ini" tanya Bill dengan serius.
"Dia adalah William, dia kekasihku" ucap Jasmine.
"Apakah kamu tidak mendengarkan perkataan ku yang terakhir?" ucap ayahnya tersebut sambil memandang Jasmine.
"Aku mencintai William, aku tidak mungkin bisa menuruti keinginan ayah" jawab Jasmine dengan tegas.
"Lalu bagaimana kita bisa membayar hutang, besok adalah batas terakhir. Jika tidak maka aku akan kehilangan perusahaan yang sudah dirintis oleh kakekmu dengan susah payah" ujar Bill Koch tampak daya.
"Jasmine, tolong mengerti posisi kami" ucap Ibunya yang kini mulai bersuara dengan sedih.
"Bu, Kita akan coba dengan cara lain. Setidaknya kita akan meminta perpanjangan atau dengan cicilan" ucap Jasmine dengan penuh harap.
__ADS_1