
Pada sebuah grafik, William menunjuk nama perusahaan yang di bold warna merah. Secara teori perusahaan ini bermasalah dan biasanya akan gulung tikar.
"Hah"? Apakah kau tidak salah? Perusahaan yang akan bangkrut kenapa kau malah menanam saham di sana?" tanya Jasmine dengan ekspresi kaget.
Berdasarkan berita yang beredar, perusahaan e-Commerce yang dimaksud oleh William tengah dihantam masalah yang serius. Ribuan orang beramai-ramai melepas saham perusahaan tersebut, bahkan orang-orang mengalami kerugian yang tidak sedikit.
"Iya, siang tadi aku baru saja berinvestasi di perusahaan tersebut. Apakah kau tertarik mengikuti jejak langkahku?" ucap William dengan wajah yang terlihat sangat tenang.
Mendengar perkataan William barusan, sebenarnya Jasmine ingin sekali memakinya namun hal tersebut hanya bisa ia lakukan di dalam hatinya.
Setelah melihat aksi William di pasar saham barusan, Jasmine kini yakin jika William hanyalah seorang pemula yang tidak tahu apa-apa. Bahkan bisa dikategorikan jika William adalah orang yang bodoh dan nekat.
Atas saran sebelumnya dari William maka Jasmine secara mantap akan menolaknya, ia lebih percaya dengan saran dan masukan dari teman-temannya di komunitas broker yang memang sudah terkenal dan teruji.
"Ngomong-ngomong kamu tinggal di mana saat ini?" ucap Jasmine yang mulai mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku tinggal di apartemen yang tidak jauh dari stasiun subway" jawab William dengan santai.
Sambil menyesap kopi yang sudah dibuatkan oleh Jasmine sebelumnya, William mencoba bertanya.
"Apakah kamu tinggal seorang diri?" tanya William yang sedari tadi tidak melihat orang lain.
"Iya, aku tinggal sendiri" jawab Jasmine.
"Apakah kau sudah lama bekerja di Eternal Grace?" tanya William.
"Huh" Jasmine menarik napas panjang lalu berkata dengan berat.
"Sebenarnya perusahaan Eternal Grace adalah milik ayahku, namun karena keserakahan pamanku perusahaan tersebut akhirnya berubah status kepemilikannya"
"Mengapa kau tidak berusaha memilikinya kembali?" ujar William dengan heran.
"Perusahaan Eternal Grace memang berada di pasar saham, namun harganya kini sudah tinggi. Dengan kemampuan finansial keluargaku tidak akan sanggup untuk membelinya kembali, ditambah adanya hutang yang disebabkan oleh pamanku, mustahil kami bisa memilikinya kembali" ungkap Jasmine dengan wajah pilu.
__ADS_1
"Aku sendiri berkecimpung di dunia saham karena ingin membayar hutang tersebut, jika tidak berhasil maka aku harus menikah dengan pria yang sudah berumur" sambung Jasmine yang kini tampak rapuh.
Mendengar pengakuan dari Jasmine, hati William merasa iba. Perusahaan sebesar Eternal Grace sekalipun tetap memiliki masalah yang menyesakkan dada.
"Aku turut prihatin atas masalahmu" ucap William mencoba bersimpati.
"Terimakasih atas perhatian mu" ucap Jasmine.
"Sudah malam, sebaiknya aku pulang" ucap William sambil berdiri hendak pamit.
"Apakah kau tidak nyaman mengobrol denganku?" tanya Jasmine.
"Bukan begitu, aku hanya takut tidak bisa menahan diri jika terlalu lama bersama wanita cantik sepertimu" ucap William sambil mencairkan suasana.
"Hahaha.. Dasar lelaki, ya sudah sana pulang" ucap Jasmine dengan pipi memerah.
Jasmine juga langsung berdiri dan mengantar William hingga ke pintu apartemennya. Sebelum William benar-benar melangkah jauh, ia kemudian berkata.
Setelah mengatakan hal tersebut William segera bergegas menuju lift dan turun ke lobby utama untuk memesan kendaraan online.
Sementara itu, Jasmine tampak heran dengan ucapan yang baru saja diucapkan oleh William. Terkait investasi sahamnya, ia tidak peduli dengan masukan dari William.
Jasmine tidak mau merasa konyol dengan mendengarkan saran dari William yang ia anggap sosok amatir. Justru ia semakin yakin dengan pergerakan saham yang ia investasikan, bahkan malam ini ia berencana menambah nilai investasinya setelah memutuskan menjual apartemen yang kini ia tinggali.
Jasmine benar-benar akan berjuang semaksimal mungkin dan mempertaruhkan seluruh asetnya demi membayar hutang keluarganya, sekaligus ia juga tidak mau dinikahkan dengan lelaki yang tidak ia cintai.
Di dalam kamarnya, ia mengambil handphone nya lalu menyentuh tombol untuk menghubungi seseorang.
"Bagaimana?" terdengar suara seorang wanita di ujung telepon.
"Baiklah, aku setuju untuk menjual apartemen ini. Tapi aku mau uangnya malam ini ditransfer ke rekeningku" jawab Jasmine dengan pasrah.
'Tidak masalah, aku akan segera mentransfer uang tersebut sekarang" ucap wanita tersebut dengan nada gembira.
__ADS_1
"Baiklah" jawab Jasmine sebelum menutup panggilannya.
Tidak lama setelah Jasmine menutup teleponnya, notifikasi SMS banking muncul di handphonenya. Namun bukannya senang, Jasmine justru bersedih. Setelah ini, ia akan mencari apartemen baru untuk ia sewa, apartemen yang ia tempati satu-satunya aset yang ia miliki setelah mobil Lamborghini nya ia jual. Kini tempat tinggalnya pun harus ia lepaskan demi pertaruhan nasibnya.
Sementara itu William tidak mengetahui hal yang baru saja di alami oleh Jasmine, di dalam perjalanan pulang ia hanya membuka aplikasi saham yang memuat tentang laporan harga sahamnya. Saham yang ia beli sebelumnya memang telah dilepas oleh para investor dengan gila-gilaan, namun kedua alis mata William terangkat ketika menjelang detik-detik penutupan pasar saham Nasdaq ada seseorang yang memborong seluruh saham.
"Rupanya sang aktor sudah muncul" gumam William pelan.
William kini bisa bernapas lega, karena orang yang merencanakan menjatuhkan harga saham perusahaan e-commerce tersebut telah muncul. Selanjutnya ia yakin dalam satu atau dua hari saham tersebut akan kembali pada posisi normal bahkan cenderung melambung.
Di sisi lain, William juga merasa iba kepada Jasmine. Ia tahu Jasmine adalah wanita yang baik dan memiliki semangat yang tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan.
"Jika aku berhasil maka perusahaan yang ingin aku miliki adalah Eternal Grace" ucap William pelan sambil mengepalkan tinjunya.
Sebagai perusahaan menengah tentu nilai saham perusahaan tersebut tidak sedikit, setidaknya butuh ratusan miliar Dollar untuk menjadi pemilik saham mayoritas. Belum lagi ia juga harus melobi beberapa orang dari pemilik saham tersebut agar mau melepasnya sesuai harga pasar.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya William tiba di apartemen yang ia tinggali. Namun alangkah kagetnya ketika ia melihat sepasang suami istri yang tengah menunggu kedatangannya.
"Apakah kamu William?" tanya seorang pria paruh baya dengan stelan jas lengkap.
"Betul Tuan, apakah saya mengenal anda?" ucap William dengan sopan.
"Kami adalah orang tua Regina, kami datang dari Kota Brooklyn khusus untuk menemui mu" ucap lelaki tersebut.
Mendengar perkataan dari lelaki tersebut, William segera berkata.
"Mari kita berbicara di dalam" ucap William sambil mengeluarkan kartu akses dari dalam sakunya.
"Silahkan duduk" ucap William dengan sopan kepada orang tua Regina.
"Apakah kau sudah lama mengenal putri kami?" tanya ayah Regina dengan serius.
"Kami sudah berteman sejak awal kuliah, namun baru beberapa bulan terakhir kami menjalin hubungan yang lebih dekat" ungkap William dengan jujur.
__ADS_1