Ku Tulis Namamu Di Hati

Ku Tulis Namamu Di Hati
Membalas Budi Tuan Sander


__ADS_3

"Bagaimana bisa? Bukankah mereka sedang berhutang kepada Bank Royal" ucap Diana masih dengan ekspresi tidak percaya.


"Entahlah aku juga tidak mengerti, setidaknya dari kejadian tersebut Bill Koch memiliki uang ratusan Miliar. Hanya Keluarga kelas satu yang bisa melakukan hal tersebut, apakah kau tahu akhir-akhir ini Jasmine dekat dengan siapa?" tanya Tuan Howard penasaran.


Dengan kejadian ini, usaha keluarga Howard untuk menyingkirkan keluarga Koch akan menemui jalan buntu. Hal yang ditakutkan adalah jika keluarga Koch melakukan serangan balik dan mengincar keluarga Howard.


"Menurut informasi sebelumnya ia hanya akan dijodohkan kepada salah seorang sahabat ayahnya untuk membayar hutang sebesar 90 Miliar. Namun jika sampai membeli saham adalah mustahil, aku sudah menyelidiki latar belakang orang tersebut" jawab Jasmine.


"Kamu hati-hati, sepertinya rencana kita untuk menjatuhkan keluarga Koch tidak berjalan mulus" ucap ayahnya sebelum mengakhiri percakapannya.


"Aarrgghh" teriak Diana kesal.


"Jasmine jangan harap kamu bisa menang dariku" ucap Diana sambil menggertakkan giginya.


Diana duduk lemas di kursi kerjanya, ia sudah mengorbankan tubuhnya untuk bisa mendekati Abraham lelaki yang tidak ia suka. Ia selama ini berpura-pura menyukai orang tersebut hanya untuk menguasai saham keluarga Koch di perusahaan Eternal Grace.


Kejadian pagi ini benar-benar membuat Diana syok, kini harapan terakhirnya hanya bertemu dengan pemilik baru perusahaan yang memegang 25% saham.


Di sisi lain Justin dan Catherina terus memamerkan kemesraan. Satu Minggu lagi mereka akan menikah, seluruh persiapan sudah dilakukan dengan baik dan undangan pun sudah dibagikan.


Catherina juga merasa bahagia karena cita-citanya menjadi artis kini mulai terlaksana. Di bawah bendera Howard Studio's ia sudah membintangi beberapa iklan. Sebagai artis pendatang baru ia mulai dikenal sebagai sosok wanita cantik yang suka dengan kehidupan mewah.


Sebagai artis, Catherina kini dituntut untuk tampil modis dan trendy. Bahkan ia juga berencana membeli kendaraan sport sendiri untuk menunjang penampilannya tersebut, bersama Justin saat ini ia berada di sebuah showroom terkenal di Kota NY.


Kebetulan di tempat itu menjual beberapa produk dari merk terkenal, jadi bagi para calon pembeli tidak perlu repot-repot untuk mencari dan membandingkan ke berbagai toko. Di tempat ini semua merk terkenal tersedia, mereka juga memiliki stand khusus untuk menunjang penjualan produk-produknya.


"Sayang, aku mau mobil itu" ucap Catherina dengan manja kepada Justin.


Justin melihat ke arah mobil yang ditunjuk oleh Catherina, ia menelan ludahnya. Itu adalah Bugatti kelas terbaik, ia belum sanggup untuk membelinya.


"Mobil tersebut terlalu mewah namun tidak nyaman dikendarai" ucap Justin berjalan menuju merk mobil lainnya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, William dan Jasmine pun tiba. Mereka berdua tampak sangat romantis, William yang sudah berubah dan juga Jasmine yang anggun membuat mereka seperti pasangan yang sangat ideal.


William tidak segera ke tempat awal yang ia tuju, namun ia melihat pameran motor sport yang kebetulan ada di sana.


"Sepertinya sudah lama sekali aku tidak mengendarai sepeda motor, apakah kamu keberatan jika aku ingin membelinya?" ucap William kepada Jasmine.


"Hahaha.. Tentu saja tidak, kamu akan jadi orang pertama yang membonceng ku" jawab Jasmine dengan senyum indahnya.


"Baiklah aku akan lebih sering mengantar jemput mu dengan kendaraan itu" ucap William dengan santai.


Jasmine mengangguk senang, sebagai keturunan orang kaya ia memang belum pernah merasakan sensasi naik sepeda motor. Oleh karena itu ia sangat mendukung rencana William yang ingin membeli kendaraan tersebut.


"Aku tidak menyangka kalian akan jatuh miskin seperti ini" tiba-tiba suara Justin terdengar cukup keras di belakang mereka.


Jasmine dan William menoleh secara bersamaan, melirik Justin dengan jijik lalu kembali ke meja pelayanan untuk menyelesaikan pembayaran.


Merasa dicuekin, Justin kembali berjalan bersama Catherina untuk mencari kendaraan yang pas dengan saku mereka.


"Sayang, sepertinya lelaki yang pernah mencintai mu benar-benar parasit. Lihatlah, untuk membeli sepeda motor saja ia masih mengandalkan Jasmine" ujar Justin sambil mencibir.


Setelah melakukan pembayaran, William segera meminta agar kendaraan tersebut segera dipersiapkan berikut dengan aksesorisnya. Menurut rencana, William akan mengunjungi beberapa tempat sehingga ia membutuhkan sepeda motor tersebut untuk mempercepat waktu.


William dan Jasmine menuju sebuah stand yang menjadi pemandangan utama di showroom tersebut, sebuah mobil Rolls-Royce Boat Tail yang berharga 28 Juta Dollar menjadi pusat perhatian.


Bahkan Justin dan Catherina juga sedang melihat kendaraan tersebut dengan penuh kekaguman.


"Sayang, apakah setelah menikah kita bisa membeli mobil ini?" tanya Catherina berterus terang.


"Tentu saja, sebentar lagi keluargaku akan menjadi keluarga kelas satu di Kota NY." ucap Justin dengan penuh percaya diri.


"Itu hanya dalam mimpimu saja" ucap William yang kini sudah hadir diantara mereka.

__ADS_1


"Kebetulan di sini ada kamu, tolong sampaikan kepada ayahmu jika aku akan menepati janjiku padanya hari ini" ucap William kepada Catherina.


Mendengar ucapan dari William membuat Catherina merasa jijik, lalu berkata.


"Cuih...Dasar cowok tidak tahu malu, kamu saja hidup dari seorang wanita"


"Aku baru kali ini melihat seorang bodoh, melepaskan berlian hanya demi mengejar debu" ucap Jasmine membela William.


"Sudahlah, kita tidak perlu berdebat dengan badut seperti mereka" sela William.


William segera menghampiri marketing yang berdiri di sana lalu berkata.


"Nona, bolehkah aku tahu mengenai spesifikasi mobil itu" ucap William dengan sopan.


Wanita tersebut memandang William dengan malas, ia sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang hanya ingin memamerkan diri di depan wanitanya.


"Maaf tuan, aku sedang sibuk ada calon pembeli lain yang sedang saya layani" ucap marketing tersebut dengan ketus.


"Hahaha.. Coba lihat, bahkan seorang marketing pun tidak meladeninya" ucap Justin kepada Catherina yang sedari tadi memperhatikan William.


Mendapati perlakuan seperti itu, William hanya tersenyum lalu beranjak ke marketing lainnya.


"Halo nona, bisakah anda menjelaskan kepadaku tentang mobil ini" ujar William dengan tenang.


"Tentu saja tuan" jawab wanita tersebut dengan sopan.


Kemudian tanpa sungkan wanita muda tersebut menjelaskan secara detail produk yang kini menjadi pusat perhatian. Sementara tidak jauh darinya, marketing senior yang sebelumnya bertemu dengan William hanya menggeleng kasihan ke arah marketing junior tersebut.


"Baiklah nona, terimakasih atas penjelasannya. Aku dan kekasihku ingin membelinya sebanyak lima unit" jawab William dengan enteng.


"Apa? Kau tidak sedang bercanda bukan?" tanya marketing tersebut dengan mulut menganga.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, jika ia sudah berbicara seperti itu maka turuti saja" timpal Jasmine.


Meskipun ia sendiri juga bingung, namun ia tidak mau meragukan keputusan lelaki yang kini tengah menggenggam tangannya tersebut.


__ADS_2