
Jasmine jelas melihat jumlah yang harus dikeluarkan William sebesar 250 Milliar Dollar.
"Hahaha.. Kamu tidak usah khawatir justru dengan posisi seperti ini kita diuntungkan" jawab William.
"Maksudmu?" tanya Jasmine yang tidak mengerti.
"Jika kita ingin berinvestasi maka kita akan mencari saham dengan harga rendah lalu menjualnya dengan harga yang tinggi. Namun berbeda jika kita ingin memilikinya untuk jangka panjang atau bisa disebut orang yang mengharapkan keuntungan berupa deviden. Dengan harga yang tinggi, kita sebagai pemilik saham mayoritas akan menjaga trend positif, sehingga grafik harganya akan stabil dan mudah kita kontrol" terang William.
"Sepertinya mulai besok aku akan memindahkan meja kerjamu dekat dengan ruangan ku" ucap Jasmine.
"Siap bu Presiden Direktur" canda William dengan penuh kasih sayang.
Wajah Jasmine memerah dengan senyuman mengembang. Baru kali ini ia merasakan kebahagiaan yang sangat sempurna, padahal baru saja kemarin ia merasa menjadi orang yang gagal. William tidak hanya jadi malaikat penolongnya, tetapi juga menjadi malaikat penolong keluarganya.
"Yupz.. "
Terdengar suara William penuh semangat.
"Aku baru saja membeli saham perusahaan dan mendapatkan 25 % kepemilikan" ucap William penuh semangat.
Sebenarnya William baru memasukkan uang jaminan sebesar 50 Miliar, sisanya akan ia bayarkan siang ini di Bank Royal.
Dengan komposisi saham yang sudah mencapai 75%, maka posisi Jasmine sudah pasti aman sebagai nakhoda di perusahaan Eternal Grace.
"Terimakasih Wil.. Kamu hebat" ucap Jasmine penuh perhatian.
Setelah berkata seperti itu Jasmine menarik tangan William yang baru saja mengakhiri sesi pembelian saham. Mereka segera berjalan menuju pintu dan bergegas ingin ke showroom mobil.
"Kalian mau ke mana?" tanya Bill Koch setelah melihat William dan Jasmine keluar rumah.
"Kami mau mencari mobil untuk Jasmine" ucap William dengan sopan.
"Di rumah ini kan sudah ada beberapa mobil, sebaiknya kalian pakai saja yang ada" ucap ayahnya Jasmine tersebut.
"Aku akan menjadi suami Jasmine, setidaknya aku harus memberikannya sesuatu agar aku juga tidak dianggap lalai terhadap keperluan istriku" jawab William dengan sopan.
"Ya sudah, jika kamu berpikir seperti itu. Lakukan lah apa yang kamu suka, ayah dan ibu akan terus mendukung kalian" ucap Bill Koch dengan serius.
"Terimakasih atas pengertian ayah" ucap Jasmine dengan senang.
__ADS_1
"Kalian harus hati-hati, sepertinya Abraham dan keluarga Howard memiliki rencana yang tidak baik" ujar Bill Koch kepada putrinya.
"Terimakasih atas peringatan ayah, baru saja William membeli 25 % saham perusahaan. Kini keluarga kita sudah mutlak sebagai pemegang saham mayoritas" ujar Jasmine dengan bangga.
"Hahaha.. Bagus .. Bagus.. Akhirnya konspirasi keluarga Howard dan Abraham menemui jalan buntu" ujar Bill Koch dengan penuh sukacita.
"Sebenarnya kamu adalah menantu penguasa bukan sebagai menantu yang menumpang" ucap Bill Koch sambil menahan tawa.
William dan Jasmine hanya tersenyum menyaksikan ekspresi Bill Koch. Keduanya lalu pamit, Jasmine meminta tolong kepada sopir keluarga untuk mengantarnya ke Showroom mobil.
Sementara itu Diana yang sudah tiba di kantor sedang sibuk membuka komputernya, wajahnya terlihat serius memperhatikan pasar saham.
"Sial.. Siapa yang sudah membeli saham- saham tersebut" gumam Diana pelan.
"Padahal aku sudah bermain dengan rapi, mengunci dengan harga tertinggi agar orang tidak ada yang membelinya dan memunculkan beberapa pihak yang justru ingin melepaskan sahamnya saat harga saham sedang meroket" sambung Diana seperti sedang berbicara sendiri.
Dengan saham yang dimiliki oleh Abraham sebesar 25 % tidak akan cukup untuk membuat dirinya mengendalikan perusahaan Eternal Grace.
"Dasar sial..." umpat Diana dengan kesal.
Diana Howard segera menelepon Abraham Koch untuk melaporkan perkembangan terbaru.
"Halo.. Ada apa sayangku?" tanya Abraham di ujung telepon.
"Belum, memangnya ada apa?" tanya Abraham kembali.
"Seseorang telah membeli saham perusahaan dengan nilai 25 % kepemilikan" ucap Diana dengan serius.
"Tunggu sebentar, nanti aku hubungi kembali" ujar Abraham Koch sebelum memutus sambungan teleponnya.
Diana yang tengah dilanda kegelisahan segera menelepon ayahnya, sebelumnya ia dan keluarganya sudah menyusun rencana untuk membeli saham perusahaan Eternal Grace dari dua orang pemilik saham.
"Halo ayah.. Bagaimana dengan perkembangan rencana pembelian saham?" tanya Diana dengan berterus terang.
"Mereka belum memberikan kabar kepada ayah, sepertinya mereka juga tidak akan lama lagi segera melepas sahamnya" ujar ayahnya di ujung telepon.
"Kenapa lama sekali?" tanya Diana dengan cemas.
"Ada apa memangnya kenapa kau tampak begitu gusar?" ujar ayahnya.
__ADS_1
"Aku baru saja melihat pasar saham, 25 % saham dari perusahaan Eternal Grace telah dimiliki oleh orang lain lagi ini" ungkap Diana dengan jengkel.
Mendengar perkataan putrinya, Tuan Howard hanya terdiam. Dia juga baru tahu berita ini, jadi dia masih butuh sedikit waktu untuk memikirkannya.
"Kamu tenang saja, masih ada saham di dua orang senilai 30 %. Pagi ini aku akan menelepon mereka kembali untuk melakukan negosiasi harga penawaran. Aku yakin mereka akan melepasnya" ucap Tuan Howard dengan optimis.
"Baiklah ayah, aku mengandalkan bantuan mu" pungkas Diana.
Setelah menghubungi ayahnya, perasaan Diana menjadi lebih baik. Menurutnya jika ayahnya berhasil mendapatkan 30 % saham maka ia akan memiliki total 55 % dari total kepemilikan perusahaan.
Tidak lama berselang, handphone Diana berdering. Setelah memeriksa identitas pemanggil, Diana segera mengangkatnya.
"Bagaimana?" tanyanya langsung.
"Saham tersebut memang benar sudah dimiliki oleh seseorang, namun aku bisa memastikan jika pemilik barunya bukan dari pihak kakakku" ucap Abraham di ujung telepon.
"Apakah kamu bisa melacak pemiliknya dan melakukan negosiasi terhadapnya?" balas Diana dengan serius.
"Aku akan usahakan untuk bertemu dan melakukan negosiasi dengan pembeli barunya" ucap Abraham.
"Aku tunggu sepatnya jangan sampai aksi kita ketahuan oleh Bill" ujar Diana dengan cemas.
"Kamu tidak usah khawatir, sebentar lagi juga kakakku akan melepas sahamnya karena saat ini ia sedang terlilit hutang. Siang ini juga akan ada rapat pemegang saham, posisinya hari ini akan bergeser" ucap Abraham dengan percaya diri.
Diana tentu saja mengetahui tentang masalah yang mendera ayah Jasmine tersebut, memang skandal hutang itu merupakan permainan yang sudah diatur oleh Abraham dan dirinya satu tahun lalu.
"Kau benar, ya sudah sampai ketemu nanti siang" ucap Jasmine di ujung telepon.
"Ya sayangku" jawab Abraham sebelum menutup panggilannya.
"Huh" Diana menghela napas panjang.
Sesaat kemudian handphonenya kembali berdering, kali ini yang menelepon adalah ayahnya.
"Gawat.. Gawat.." ucap ayahnya setelah panggilan terhubung.
"Ada apa?" tanya Diana dengan ekspresi bingung.
"Baru saja aku mendapat kabar jika dua orang pemilik saham sudah menjual saham mereka kepada Jasmine Koch" ucap ayahnya dengan napas cepat.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana mungkin?" ucap Diana dengan ekspresi tidak percaya.
"Transaksi itu baru saja terjadi pagi ini, bahkan hal lain yang tidak kalah mengejutkan adalah transaksi tersebut dimediasi oleh Tuan Andrew" ungkap ayahnya.