Ku Tulis Namamu Di Hati

Ku Tulis Namamu Di Hati
Ketemu Lagi


__ADS_3

Kedua orang tua Regina saling tatap sesaat William selesai mengucapkan perkataannya. Sebelum bertemu dengan William, kedua orang tua Regina sudah mencari tahu tentang asal usul William yang berasal dari keluarga sederhana di Kota Manhattan.


Selain itu William juga hanya berstatus anak angkat, ayah angkatnya yang bernama David hanya seorang pemilik mini market sederhana dan hidup serba kekurangan.


"Aku sudah menyelidiki latar belakangmu, oleh karena itu aku meminta baik-baik kepadamu untuk meninggalkan Regina" ucap ayahnya Regina yang bernama Alex Mars.


Seperti tersambar petir di siang hari, wajah William langsung menggelap seketika. Ia tidak menduga jika kejadian Tuan Sander yang mendatanginya kini terulang kembali pada orang tua Regina.


"Apakah karena aku miskin?" tanya William kepada ayahnya Regina.


"Ya, kamu tidak hanya miskin tetapi juga hidup menumpang dengan fasilitas yang putri kami berikan" ucap Alex Mars dengan nada yang tegas.


William terdiam, ia juga sulit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada orang tua Regina.


"Jika tentang tempat tinggal ini, kalian boleh mengambilnya kembali karena saya hanya sesaat tinggal di sini" jawab William.


"Tetapi saya juga mohon kepada kalian untuk tidak salah paham, saya mencintai Regina secara tulus dan saya juga berjanji tidak akan lama lagi saya akan berhasil dan membangun relasi yang luas" ucap William.


"Keputusan kami sudah bulat, kami tidak ingin anak kami hidup bersama parasit seperti dirimu. Mulai sekarang jauhi putri kami atau kamu akan menyesal, aku memiliki koneksi yang tak terbatas di Kota Manhattan. Jangan sampai Keluarga mu merasakan dampak dari apa yang kau lakukan" ujar Alex Mars dengan serius.


Mendengar ancaman dari ayah Regina, William bergeming. Setelah tenang, ia lalu berkata.


"Tuan dan nyonya terimakasih atas kunjungan anda, aku akan pergi setelah ini. Tolong sampaikan kepada Regina jika saya selalu mencintainya, apa yang terjadi hari ini saya tidak membencinya" ucap William dengan serius.


"Pergilah dari kehidupan putri kami dan jangan pernah muncul di kehidupannya lagi" ucap Alex Mars.


Setelah mendengar ucapan dari Ayah Regina, William segera membereskan kopernya dan mengemasi barang-barangnya. Dalam beberapa bulan ia merasa sudah dua kali mengalami hal yang sama.

__ADS_1


Sudah menjadi resiko William untuk berakhir seperti ini, hubungan antara si kaya dan si miskin seringkali terhempas oleh jurang yang bernama harta benda.


Setelah selesai membereskan barang-barangnya, William menyerahkan kunci akses tersebut kepada ayah Regina, sementara ibunya hanya terdiam menyaksikan semua rangkaian peristiwa yang baru saja terjadi.


William tidak berlama-lama, ia segera meninggalkan apartemen yang selama beberapa bulan ia tempati, ada bayangan Regina yang tiba-tiba muncul dan tersenyum hangat di dalam ingatannya.


William ingin menghubungi Regina saat ia sudah berada di dalam taksi online yang sebelumnya sudah ia pesan melalui jasa aplikasi. Namun nomor Regina sudah tidak aktif dan sulit dihubungi.


Ada kecemasan di wajah William, ia ingin sekali menemui Regina di saat seperti ini. Sikap ayahnya yang memaksanya untuk pergi membuat William tidak nyaman, namun William juga menyadari keterbatasannya.


Malam ini ia berencana akan tidur di hotel, untuk menginap sementara waktu sampai ia mendapatkan tempat yang tinggal yang baru.


Setelah tiba di lobby Hotel bintang lima, William dibantu oleh petugas Hotel segera menurunkan barang-barangnya. Ia sengaja memilih Hotel ini, dikarenakan jaraknya paling dekat dengan tempatnya bekerja. Meskipun ia akan membayar lebih mahal namun pada saat ini ia tidak kekurangan uang, 6,5 Juta Dollar masih utuh di rekeningnya, jadi ia tidak khawatir sama sekali.


Di lobby Hotel tampak seorang wanita yang ia kenal sedang menarik sebuah koper besar dan menuju resepsionis.


"William" sahut Jasmine dengan ekspresi kaget.


Keduanya tampak saling memandang, memperhatikan barang bawaan masing-masing yang seperti baru saja pindahan. Selanjutnya entah mengapa lalu keduanya tertawa seperti orang bodoh. Dalam sekejap kesedihan mereka hilang dengan keadaan yang canggung ini.


Beberapa orang yang berada di lobby Hotel tampak menoleh ke arah mereka lalu kembali kepada urusan masing-masing.


"Kamu juga mau nginep di sini?" Tanya Jasmine kemudian.


"Begitulah, sepertinya cuma Hotel ini yang terdekat dengan kantor" jawab William sambil mengangkat bahunya.


"Hmm.. Ternyata alasan kita sama" ujar Jasmine.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, Jasmine dan William menuju resepsionis Hotel. Secara kebetulan juga hanya terdapat kamar ukuran besar yang terdiri atas tiga ruang.


Terlihat Jasmine sedang berusaha keras untuk menawar harga, karena ia akan menginap untuk satu minggu sambil menunggu ia mendapatkan apartemen sewaan yang baru.


Sementara William tampak santai membayar kamar ukuran family tersebut, ia segera beranjak dan memperhatikan Jasmine yang belum selesai dengan urusannya.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan kamar?" tanya William dari samping.


"Belum, Hotel ini sedang kehabisan kamar tipe Deluxe, sementara mereka menawarkan ukuran yang lebih besar jadi aku sedikit meminta penawaran terbaik namun mereka masih bergeming" ucap Jasmine dengan nada kesal.


"Sudahlah, jika kau tidak keberatan malam ini sebaiknya kamu tidur di dalam kamar yang sudah ku pesan, ada tiga ruangan jadi kita bisa memiliki privasi masing-masing" ucap William menawarkan kamar Hotelnya.


"Apakah tidak apa-apa?" tanya Jasmine sambil menggigit bibirnya.


"Sudahlah kami jangan berpikir berlebihan, tidak baik berlama-lama di sini. Jika ada yang melihat justru akan menimbulkan suatu omongan yang tidak baik" ucap William.


"Baiklah aku akan ikut denganmu untuk sementara, tolong kirimkan nomor rekening mu nanti aku juga akan membayarnya" ucap Jasmine.


"Oke nanti aku kirim" jawab William dengan santai.


Setelah meminta satu lagi kartu akses untuk Jasmine, William segera menuju kamar yang sudah dipesannya. Sementara dua orang petugas Hotel mengikutinya sambil membawa barang-barang milik Jasmine dan William.


Di dalam kamar yang cukup luas tersebut memang terdapat sekat yang memisahkan, tempat tidur dan kamar mandi juga terpisah. Baik William dan Jasmine bisa melakukan aktivitas pribadi tanpa merasa terusik.


William yang seharian beraktivitas akhirnya istirahat duluan, setelah beberapa kali mencoba menghubungi nomor Regina yang tidak kunjung aktif akhirnya ia merasa frustasi dan memilih menenangkan diri untuk beristirahat.


Sementara di kamar satunya, Jasmine masih terjaga. Ia tidak bisa tidur memikirkan nasibnya yang akan bergantung pada pasar saham esok hari. Dengan uang tambahan dari hasil penjualan apartemennya, ia berharap semua masalahnya akan cepat teratasi.

__ADS_1


Jasmine sendiri melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, jika orangtuanya tahu ia pasti dimarahi habis-habisan. Hal ini dikarenakan ambisi Jasmine yang terlalu besar untuk menyelesaikan masalah keluarga, padahal ayahnya sudah memberikan solusi terbaik berupa menikahi sahabatnya agar keluarganya bisa selamat dari jeratan hutang yang sudah jatuh tempo.


__ADS_2