
Meskipun ia sendiri juga bingung, namun ia tidak mau meragukan keputusan lelaki yang kini tengah menggenggam tangannya tersebut.
Sementara itu Catherina yang masih berada di sana menjadi tercengang, ia seperti orang bodoh yang baru saja mendengar ucapan William.
"Paling orang itu sedang membual, nanti akan ada drama saat ia akan membayar" ucap Justin yang tidak percaya.
Setelah marketing tersebut menghitung harganya, William segera melakukan pembayaran saat itu juga. William mendapatkan diskon khusus karena membeli lebih dari satu, ia juga mendapatkan kartu khusus untuk kemudahan pelayanan di kemudian hari.
"Ding"
Mesin pembayaran berbunyi dan transaksi senilai lebih dari 100 Juta Dollar itu telah sukses.
Marketing senior yang sebelumnya menolak untuk melayani William kini hanya bisa meratapi kecerobohannya, ia sudah melewatkan bonus yang sangat besar. Apalagi William membeli 5 unit sekaligus secara tunai, hal ini tentu saja membuatnya iri dengan nasib mujur marketing junior yang melayani William.
"Tuan, selamat transaksinya sudah berjalan dengan lancar" ucap seorang gadis muda yang merupakan sales marketing yang melayani William.
William hanya mengangguk ringan lalu menatap ke arah Jasmine.
"Mulai lusa kamu akan mengendarai mobil tersebut untuk menunjang pekerjaanmu, dan tentunya aku akan menjadi sopir yang baik" ucap William dengan penuh rasa kasih sayang.
"Terimakasih, tapi aku bingung bagaimana harus menggaji mu" ujar Jasmine malu-malu.
"Seperti biasa saja, gaji karyawan magang yang sebelumnya aku terima. Namun jika kau memintaku untuk mengantarmu ke beberapa tempat lainnya maka aku akan mengajukan proposal kenaikan gaji" ujar William dengan enteng.
"Bagaimana mungkin seorang yang sudah dipecat bisa berbicara tentang upah" ucap Justin yang kini memiliki kesempatan lagi untuk merendahkan William.
"Mulai hari ini aku akan mengangkatnya kembali" ucap Jasmine sambil menatap dingin ke arah Justin.
"Apa kuasamu? Kakakku adalah direktur operasional, sedangkan kau hanya kepala pemasaran" ucap Justin meremehkan.
"Sebentar lagi kau akan tahu" ucap Jasmine cuek.
"Tuan, kemana semua mobil ini akan dikirim?" tanya marketing tersebut dengan hormat.
__ADS_1
Setelah mendengar pertanyaan dari marketing tersebut, William segera menuliskan alamat yang menjadi tujuan pengiriman mobil-mobil tersebut.
Setelah dirasa urusannya cukup, William segera berjalan bersama Jasmine menuju halaman parkir. Sebuah motor sport sudah berada di halaman gedung tersebut.
"Bersiaplah" ucap William kepada Jasmine.
"Tentu saja aku sudah tidak sabar ingin dibonceng olehmu" sahut Jasmine sambil mengenakan jaket dan helm yang baru saja ia terima.
Segera setelah itu William dan Jasmine meninggalkan showroom ternama tersebut. Dengan membesut sepeda motor sport terbaru, William membuka tuas gas dengan perasaan penuh rasa senang.
Sekarang ia bisa menuju ke Bank Royal untuk melakukan penjualan saham yang sebelumnya sudah disepakati. William akan mendapatkan dua Triliun dari satu Triliun yang sebelumnya ia investasikan.
Sementara itu Justin dan Catherina yang masih tidak percaya segera menelepon Diana untuk melaporkan kejadian yang baru saja terjadi.
"Halo kak, baru saja aku melihat Jasmine dan William di showroom mobil Kita NY" ucap Justin saat panggilannya diterima oleh Diana.
"Lalu?" tanya Diana.
"Hmm.. Sepertinya Jasmine baru saja mendapatkan seorang milyuner, ia juga telah membeli saham di perusahaan Eternal Grace dengan bantuan seseorang" ujar Diana di ujung telepon.
"Ohh begitu.. Pantas saja ia bisa membelanjakan uangnya dengan mudah. Bahkan ia juga mengajak William untuk menemaninya" ucap Justin.
"Apa? Sungguh tidak tahu malu" umpat Diana di ujung telepon.
"Mungkin lelaki yang menjadi jodoh Jasmine sudah tua, jadi ia memilih William untuk menjadi selingkuhannya" ucap Justin menebak hal yang terjadi.
"Sepertinya demikian" sahut Diana yang mengamini perkataan adiknya.
Sementara itu dengan cepat sepeda motor yang dikendarai oleh William sudah tiba di halaman parkir Bank Royal cabang Kota NY. Setelah turun dari sepeda motornya, William langsung memeriksa handphonenya dan menelepon Andrew.
"Halo Tuan Andrew, aku sudah berada di halaman parkir dan hendak menemui mu di ruang kerja" ucap William ketika panggilan teleponnya tersambung.
"Baik Tuan.. Aku akan segera menyambut mu" ucap Andrew di ujung telepon.
__ADS_1
William sengaja menelepon Andrew agar kedatangan mereka tidak mendapatkan pertanyaan dari petugas jaga maupun staf yang melayani.
Setelah menerima panggilan dari William, Andrew segera bergegas turun ke lobby. Dengan tergesa-gesa ia segera menuju lobby utama Bank tempatnya bekerja. Mulanya ia sempat ragu dengan ucapan William, hal ini dikarenakan saldo yang dimiliki oleh William semakin berkurang secara drastis karena beberapa transaksi.
Namun setelah telepon barusan, ia kembali percaya jika William adalah pemuda yang bisa memegang janji. Ia juga yakin jika William memiliki rahasia yang tidak biasa, sehingga jika bekerjasama dengan William tentu akan mendapatkan keuntungan yang tidak terkira.
Di waktu yang sama, beberapa mobil mewah dengan plat nomor khusus juga tiba di Kantor Bank Royal. Para staf dan security yang berjaga jelas melihat kedatangan pimpinan Bank mereka, Andrew yang terburu-buru segera melangkah dengan cepat hingga ke pintu masuk.
Namun alangkah kagetnya para staf Bank tersebut melihat tamu-tamu yang menggunakan rombongan mobil mewah dengan plat khusus tersebut dilewatkan begitu saja. Saat ini justru Andrew sedang menyambut sepasang pemuda yang tampak biasa saja jika dibandingkan dengan rombongan yang baru saja melintas di hadapan Andrew.
"Selamat datang Tuan dan Nona" ucap Andrew dengan sopan.
Pemandangan ini sontak membuat staf Bank serta petugas sekuriti yang berdiri di dekat mereka menjadi tercengang. Di Kota NY sampai saat ini belum ada yang bisa membuat pimpinan mereka menaruh hormat sebesar itu, tapi di depan sepasang pemuda tersebut ia melakukannya dengan tenang.
"Terimakasih Tuan Andrew" jawab William sambil menjabat tangan Andrew lambang keakraban.
Begitupun dengan Jasmine, ia yang semula merasa canggung akhirnya mulai terbiasa karena mendampingi William yang seolah tanpa beban.
"Mari Tuan, kita ke ruangan kerja saya" ajak Andrew dengan sopan.
"Baiklah jika begitu" jawab William.
Namun baru saja Andrew akan membawa William ke ruang kerjanya, tiba-tiba seorang manajer menghampirinya dengan hormat.
"Tuan, mohon maaf ada beberapa orang yang hendak mencari Tuan William katanya mereka sudah membuat janji di tempat ini" ucap manajer tersebut sambil menunjuk ke beberapa orang yang sebelumnya baru tiba.
Andrew menolehkan kepalanya ke arah William untuk mengkonfirmasi kepadanya.
Mendapati sikap Andrew, William buru-buru mengangguk.
"Bawa saja mereka ke ruang kerjaku dan bilang juga jika Tuan William yang mereka maksud sudah menunggu di tempatku" jawab Andrew sambil memberikan arahan.
"Baik Tuan Andrew, aku akan menyampaikan hal ini kepada mereka" ucap manajer tersebut dengan hormat.
__ADS_1